
Setelah berbasa-basi sejenak dengan pria tua yang merupakan kakek guru dari Kaisar Wei Huang, akhirnya kedua orang selir itu pun segera berpamitan untuk kembali ke Paviliun milik mereka. Sepertinya saat ini keduanya harus segera bersiap untuk kompetisi yang akan dilaksanakan esok hari.
Selir Xiao Xia memerintahkan kepada para pelayannya untuk menyiapkan air, dia akan berendam sejenak untuk menghilangkan perasaan lelah yang saat ini berkecamuk di dalam hatinya.
Sedangkan selir Feng Ling langsung mempersiapkan pakaian yang akan digunakan untuk esok hari, sepertinya saat ini aura persaingan di antara keduanya mulai terlihat, apalagi setelah kedatangan dari kakek guru ke istana kekaisaran, membuat keduanya pun semakin berambisi besar untuk bisa menjadi seorang permaisuri kekaisaran.
Selir Feng Ling memerintahkan kepada salah seorang pelayannya untuk mencari seseorang yang pandai dalam merias, dia ingin agar penampilannya esok hari menjadi yang tercantik dibandingkan dengan selir Xiao Xia.
Apalagi setelah kejadian para pembunuh bayaran kemarin, selir Feng Ling jauh lebih percaya diri, karena merasa jika saat ini selir Xuan Yang dan juga Putri Xuan Jian akan berpihak kepadanya. Sehingga besar kemungkinan jika dirinyalah yang akan terpilih menjadi seorang permaisuri mendampingi Kaisar Wei Huang.
Sementara selir Xuan Yang saat ini masih berada di paviliun anggrek bersama Xuan Jian, keduanya sama sekali tidak memperdulikan dengan adanya kompetisi antara kedua orang selir, demi memperebutkan posisi permaisuri kekaisaran.
Lagi pula saat ini Xuan Jian telah memiliki banyak sekali harta berharga, menurutnya itu jauh lebih penting dibandingkan apapun. Karena dengan semua yang dia miliki saat ini, selir Xuan Yang tidak akan pernah direndahkan lagi.
Di belakang paviliun anggrek saat ini 200 orang prajurit ditambah dengan 2 orang saudara dari Xiu Lan tengah menjalankan pelatihan yang sangat berat, mereka dituntut untuk melakukan pelatihan fisik dengan berlari mengelilingi paviliun dan juga mengangkat air dari sungai yang berjarak hampir 50 km tanpa tumpah sama sekali.
Hal itu tentu saja sangat menyulitkan, tapi mengingat pelatihan ini sangat penting untuk membuat otot tubuh milik mereka menjadi semakin terjaga, akhirnya ke 202 orang itu pun berusaha agar bisa menjalankan semua rencana pelatihan yang telah ditetapkan oleh Xuan Jian.
Mereka berlari dari pagi hingga sore hari, kemudian mengangkat air dengan menggunakan drum yang cukup besar melewati jalanan yang berbatu dan juga menanjak, hingga membuat telapak kaki milik mereka akhirnya terluka.
Xuan Jian sengaja memerintahkan kepada para prajuritnya untuk melepas alas kaki, hal itu tentu saja dia perintahkan agar mereka memiliki kekebalan tubuh tersendiri saat terkena panas terik dan juga dinginnya air.
__ADS_1
Pelatihan yang dilakukan oleh kedua ratus dua orang itu pun akhirnya menarik perhatian dari guru tua, yang baru saja menginjakkan kakinya di istana kekaisaran. Dia sengaja berkeliling, selain ingin melihat-lihat pemandangan, dia juga ingin mengenal seluk beluk dari wilayah kekaisaran.
Namun tiba-tiba saja pandangannya terarah kepada para prajurit yang tengah berlatih, dia sejenak memiringkan kepalanya, tak mengerti dengan pelatihan yang dibuat oleh salah seorang putri dari Kaisar Wei Huang itu.
Jika biasanya para prajurit akan dilatih untuk berpedang, namun yang saat ini berada di hadapannya para prajurit malah dengan sengaja diberikan beban 1 drum air untuk dibawa menuju ke paviliun anggrek, mereka bahkan tidak diperbolehkan untuk beristirahat sedikitpun.
Tapi melihat kegigihan dan juga keteguhan yang dimiliki oleh para prajurit itu membuat guru tua akhirnya menganggukkan kepala, dia mengerti jika saat ini ternyata Xuan Jian memang sengaja menempa tubuh mereka, agar menjadi semakin kuat, sebelum akhirnya dilatih dengan berbagai jurus beladiri dan juga bela serang.
Dia juga sangat yakin jika putri dari Kaisar Wei Huang itu memiliki kemampuan lain, sehingga membuat ke 202 orang prajurit itu bersedia melakukan semua yang dia perintahkan.
Melihat dua orang prajurit yang saat ini tengah bertugas, akhirnya guru tua itu pun memberhentikan langkahnya. Dia sengaja ingin bertanya tentang keberadaan dari Putri Xuan Jian.
Sebelumnya guru tua itu pun telah mendengar cerita dari Kaisar Wei Huang tentang putrinya, yang telah dia telantarkan, di dalam sebuah gubuk bobrok yang berada di paling ujung belakang istana kekaisaran jiahu bersama sang Ibu yaitu kelir Xuan Yang.
Hal itu tentu saja menarik minat dari guru tua untuk mengunjungi Xuan Jian, dia ingin sekali mengetahui kemampuan yang dimiliki oleh putri dari Kaisar Wei Huang itu. Jika memang apa yang dikatakan oleh sang Kaisar benar, berarti putri Xuan Jian memiliki sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain, yaitu ketegasan dan juga kemampuan bertarung.
"Salam kepada Tuan Guru." ucap kedua orang prajurit sambil menganggukkan kepalanya.
Guru tua itu pun langsung menyambut dengan senyuman yang sangat cerah, "Apa kalian tahu di mana putri Xuan Jian berada?" tanya guru tua.
"Tuan Putri Xuan Jian saat ini berada di gazebo yang terletak di belakang paviliun anggrek." ucap salah seorang prajurit memberitahu.
__ADS_1
Guru tua terlihat mengerutkan dahinya, dia memang masih belum memahami seluk beluk seluruh wilayah istana kekaisaran, sehingga membuat kedua orang prajurit itu pun akhirnya menawarkan diri untuk mengantar guru tua itu menuju ke tempat Xuan Jian berada.
"Jika tuan guru tidak keberatan, izinkan kami berdua yang akan menunjukkan jalan ucap kedua prajurit itu dengan sangat sopan.
Guru tua itu pun menganggukan kepalanya, dia benar-benar tertolong dengan kehadiran kedua orang prajurit yang akhirnya memudahkan dirinya, untuk bisa bertemu dengan Xuan Jian.
Mereka pun berjalan beriringan ke arah paviliun anggrek, namun kedua orang prajurit itu membelokkan langkahnya ke arah samping kiri untuk menuju gazebo, yang terletak di belakang paviliun.
Nampak di tempat itu 4 orang wanita saat ini tengah berkumpul, salah satunya adalah selir Xuan Yang dan juga Putri Xuan Jian. Guru tua itu pun segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana para wanita itu berada, Xuan Jian yang menyadari keberadaan orang lain, akhirnya melirik dengan ujung matanya, sejenak wajahnya berkedut dengan kemunculan seorang pria tua yang secara tiba-tiba datang ke paviliunnya.
"Hai pria tua! Apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanya Putri Xuan Jian.
Mendengar hal itu semua orang pun membelakakan matanya, bahkan kedua orang prajurit sampai meloncat ke belakang, saking kaget dengan perkataan yang diucapkan oleh Xuan Jian.
Bagaimana bisa putri dari kaisar Wei Huang itu memanggil kakek guru sang ayah dengan sebutan Kakek tua? Namun ternyata hal itu tidak membuat guru tua itu mundur, dia tetap melangkahkan kakinya ke arah Xuan Jian yang saat ini telah berdiri dari posisi duduknya.
"Aku datang untuk bertemu denganmu, setelah mendengar banyaknya kejadian di kekaisaran ini!" ucap guru tua sambil menyunggingkan senyuman tipis, Xuan Jian tertawa terbahak-bahak, kemudian dia pun memiringkan sedikit kepalanya dan menatap tubuh pria tua itu dari atas hingga ke bawah sambil berdesis dengan pelan.
"Harusnya kau itu beristirahat! Bukan malah berjalan-jalan seperti itu! Haish... Kau malah membiarkan para prajurit untuk bermalas-malasan." ucap Xuan Jian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan guru tua itu hanya bisa tertawa terbahak-bahak dengan kelakuan dari Xuan Jian. "Aku datang kemari karena undangan dari Kaisar Wei Huang, sebagai penasihat untuk kompetisi calon permaisuri esok hari." ucap guru tua itu.
__ADS_1
"Oh.. Baguslah! Semoga saja kau bukanlah pria bodoh seperti Kaisar itu." ucap Xuan Jian dengan sangat sarkas, sambil kembali berjalan menuju ke arah ibunya dan mengabaikan keberadaan dari guru tua itu.