Putri Kejam Kaisar Tiran

Putri Kejam Kaisar Tiran
Chapter 41


__ADS_3

Setelah mencari kesana kemari selama hampir setengah hari, akhirnya keempat orang itu pun mengambil kesimpulan, jika saat ini pangeran mahkota yang mereka cari, memang telah tiada. Karena tak menemukan satupun petunjuk tentang keberadaannya.


Meskipun mereka telah mengitari wilayah itu, nyatanya hingga saat ini mereka tidak menemukan adanya pemukiman ataupun perkampungan, sehingga memungkinkan jika pangeran mahkota mereka telah mati, akibat diserang binatang buas.


"Sepertinya kita tidak bisa menemukan apapun di tempat ini, bisa saja pangeran mahkota telah mati, karena dimakan binatang buas." ucap salah seorang prajurit yang dianguki oleh ketiga orang kawannya.


Kemudian mereka pun segera bergegas untuk pergi meninggalkan hutan, mengingat hari semakin senja, mereka tak ingin kemalaman di tempat itu, karena cuaca gelap memungkinkan keempat orang itu kesulitan dalam mencari jalan keluar.


Setelah keempatnya menjauh dari tempat itu, pemuda yang sejak tadi duduk di atas dahan pohon pun segera meloncat dengan sangat cepat.


Hap...


Kedua kakinya menapak di atas tanah, meskipun nyatanya dia seorang yang cacat karena memiliki kaki yang tinggi sebelah, namun hal itu tidak membuat kemampuannya berkurang, dia memang telah belajar banyak tentang bela diri dari sang guru yang tentu saja tidak pernah menganggap jika kekurangannya itu merupakan sesuatu hal yang harus disesali.


Pemuda itu pun segera berlari menuju ke bukit di sebelah barat, tempat di mana guru dan juga kawan-kawannya yang lain berada. Meskipun saat ini hatinya telah dilanda gelisah, akibat mendengar perkataan dari keempat orang yang sejak tadi mencari keberadaannya, tak menyurutkan niat pemuda itu untuk kembali berlatih dan memperkuat fisiknya, agar jika suatu saat nanti dia ditemukan oleh permaisuri ataupun orang-orang suruhan permaisuri, dirinya memiliki kekuatan untuk melawan.


Dia tak akan pernah memaafkan ibu kandungnya yang dengan teganya membuang dia di hutan, namun dia juga harus segera menjumpai ayahnya, mengingat hingga saat ini sang ayah masih belum mengetahui jika dirinya sebenarnya masih hidup.


"Ada apa denganmu Qing Yuan?"tanya sang guru.


Pemuda yang dipanggil Qing Yuan itu pun segera menoleh, "Tidak apa-apa guru, hanya saja saat ini aku merasa sedang sedikit kurang sehat." ucapnya seraya berpamitan kepada sang guru untuk beristirahat lebih cepat.

__ADS_1


Sikap yang ditunjukkan pemuda itu tentu saja menyulut kecurigaan dari sang guru, yang selama ini telah mendidik dan membesarkan dia selama 10 tahun terakhir, sehingga meskipun pemuda itu mengatakan tidak ada apa-apa, nyatanya sang guru mengetahui jika saat ini anak sekaligus muridnya itu telah mengalami sebuah masalah.


Dia pun segera berjalan menuju ke paviliun tempat di mana Qing Yuan beristirahat. kedatangan sang guru disambut hangat oleh Qing Yuan, meskipun saat ini hatinya tengah merasa panas, namun dia masih tetap menjaga agar sang guru tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


Tapi ternyata dia salah, sepandai apapun dia menyembunyikan masalah yang saat ini tengah menimpa, sang guru tetap mengetahuinya. Dia pun segera bergegas berjalan ke arah Qing Yuan dan menepuk pundak pemuda itu tiga kali.


"Jika kau ada masalah, bicarakan pada gurumu." ucapnya.


Qing Yuan pun segera berhambur kepelukan gurunya, sekaligus orang yang selama ini dianggap ayah olehnya, dia benar-benar merasa sangat sakit hati saat ini, entah bagaimana cara dia harus mengungkapkan, jika saat ini dirinya telah mengetahui identitas yang sebenarnya.


Tak lama kemudian Qing Yuan pun segera melerai pelukan dari sang guru, kemudian mengajak guru tua itu untuk duduk, dia akan segera memberitahukan kebenaran dari cerita yang telah dia dengar saat berada di hutan.


Qing Yuan memiliki wajah yang sama dengan Kaisar Wei Huang saat dia masih berusia 10 tahun.


"Apa kau berniat untuk mengunjungi istana kekaisaran dan bertemu dengan kedua orang tuamu?" tanya sang guru.


"Ibuku sengaja membuangku hanya untuk menutupi rasa malu karena aku terlahir cacat. Sedangkan ayahku hingga saat ini belum mengetahui, jika Sebenarnya aku masih hidup. aku masih sangsi, Apakah harus mengunjungi mereka ke istana kekaisaran ataukah aku tetap diam di sini dan menunggu mereka menemukanku?" jawab Qing Yuan.


Sang Guru pun segera meraih tangan pemuda itu, kemudian dia mengelus rambut panjangnya yang berwarna hitam, "Ikuti kata hatimu, jika kau memang ingin bertemu dengan kedua orang tuamu, tapi setelah guru mendengar keseluruhan cerita itu, guru dapat menyimpulkan jika tidak akan mudah untukmu menemui ayah kandungmu sendiri, karena walau bagaimanapun permaisuri pasti akan melakukan berbagai macam cara agar tidak mempertemukanmu dengan ayahmu." ucap sang guru panjang lebar.


"Katakan apa yang harus aku lakukan saat ini, guru?" ucap Qing Yuan.

__ADS_1


"Tetaplah tinggal di tempat ini, kau harus melatih dirimu menjadi semakin kuat dan kuat, jika pun suatu hari nanti mereka menemukanmu, jangan pernah mau kembali begitu saja, kau harus benar-benar yakin jika saat itu, kedua orang tuamu benar-benar menerima kehadiranmu dengan kedua tangan terbuka, jika kau berpikir bahwa kecacatan kakimu itu merupakan sebuah aib, maka kau salah. Karena walaupun kakimu tak Sempurna, kau masih bisa melakukan apapun, sama seperti orang lain." ucap sang guru kemudian membesarkan hati Qing Yuan.


Pemuda itu pun mengangguk mengerti, dia akan berusaha untuk menempa dirinya agar semakin kuat, sepertinya ucapan sang guru ada benarnya juga, permaisuri Xue Yi bisa saja menutupi kebenaran dan tidak mengakui perbuatannya.


.


.


.


Keempat orang suruhan permaisuri Xue Yi saat ini telah sampai di ujung desa, karena merasa kelelahan, akhirnya mereka pun segera mencari penginapan untuk bisa beristirahat.


Mereka akan kembali melanjutkan perjalanan menuju istana kekaisaran esok hari, karena meskipun keempat orang itu memaksakan diri untuk terus berjalan ke arah ibukota kekaisaran, nampaknya mereka akan mengalami sedikit masalah, mengingat saat ini mereka sama sekali belum mengistirahatkan tubuh, setelah berjalan dan berkeliling di hutan untuk mencari petunjuk keberadaan putra mahkota.


Ada sebuah penginapan kecil yang diberi nama penginapan mawar, keempat orang itu pun segera melangkah ke tempat itu dan mencari dua kamar yang kosong. Mereka sepakat untuk kembali menuju istana esok hari sebelum matahari terbit.


Kehadiran keempat orang itu tentu saja menimbulkan berbagai pemikiran di dalam hati pemilik penginapan, maupun para pelayan di sana.


Mereka merasa sangat penasaran, kenapa ke-4 orang yang menggunakan pakaian prajurit dan juga pelayan istana kekaisaran, harus mencari kamar untuk beristirahat? Bukankah perjalanan menuju ke istana kekaisaran sudah tidak jauh lagi? hanya membutuhkan waktu satu setengah kali pembakaran hio.


Namun tentu saja tidak ada seorangpun yang mempertanyakan hal itu, karena mereka menyadari jika saat ini, bisa saja keempat orang itu tengah melaksanakan perintah dari salah seorang anggota istana kekaisaran.

__ADS_1


__ADS_2