
Akhirnya pesta besar pun digelar di seluruh wilayah kekaisaran jiahu, sebagai bentuk syukur atas kemenangan yang diraih oleh para prajurit dalam memberantas komplotan orang-orang yang berniat buruk terhadap Putri Xuan Jian.
Para bangsawan dan pejabat hadir dengan seluruh anggota keluarga mereka, bahkan tamu undangan dari kekaisaran lain pun saat ini mulai berdatangan, mereka disambut dengan sangat ramah oleh para pelayan dan prajurit kekaisaran jiahu.
Kaisar Wei Huang telah bersiap dengan pakaian kebesarannya, kali ini dia didampingi oleh selir Xiao Xia beserta selir Feng Ling. Sedangkan selir Xuan Yang tetap bersama dengan putri Xuan Jian.
Gadis kecil itu seolah masih belum rela jika ibunya berdekatan dengan Kaisar Wei Huang, mengingat tingkah laku pria itu terhadap sang ibu sebelumnya. Jika saja di masa lalu pria itu mau menyelidiki terlebih dahulu peristiwa yang diadukan oleh permaisuri Xue Yi, mungkin saat ini Putri Xuan Jian tidak akan pernah menghalangi Kaisar Wei Huang untuk dekat dengan sang ibu.
Kaisar Wei Huang tak pernah memaksakan keinginannya untuk bisa dekat dengan selir Xuan Yang, dia sadar dengan kelakuannya di masa lalu, sehingga akan lebih baik jika dirinya mendekati kedua orang wanita berbeda usia itu secara terpisah. Dia tentu saja akan meluangkan lebih banyak waktu lagi untuk selir Xuan Yang di kemudian hari, agar tak merasa diabaikan untuk yang kedua kalinya.
Langkah yang diambil oleh kaisar Wei Huang sepertinya mulai mendapatkan respon baik dari putri Xuan Jian dan juga selir Xuan Yang, kedua wanita itu nampak sangat bahagia karena tak lagi mendapatkan masalah dengan penguasa kekaisaran jiahu, bahkan kini keduanya lebih bisa menikmati hidup dibandingkan sebelumnya.
Pesta besar yang diadakan itu bukan tak menarik minat dari orang-orang jahat, bahkan saat ini para bandit gunung mulai turun, perampok mulai berdatangan, mereka berpura-pura sebagai seorang pengembara agar memiliki kesempatan untuk bisa memasuki istana kekaisaran dan berniat untuk mengambil beberapa barang berharga dan juga koin emas dari sana.
Apalagi setelah melihat pakaian yang saat ini dikenakan oleh kaisar Wei Huang beserta seluruh anggota keluarganya, membuat mereka sangat yakin jika istana kekaisaran memiliki kain yang sangat bagus dan juga mahal, sehingga bisa menunjang penampilan seseorang menjadi terlihat semakin mewah.
Perhiasan yang digunakan oleh ketiga orang selir pun terlihat lebih sederhana, dengan riasan yang sangat natural, namun malah semakin mempercantik ketiga orang wanita itu.
Sehingga para tamu nampak takjub dan langsung memuji ketiganya, mereka bahkan mencoba untuk mengakrabkan diri dengan ketiga orang selir Kaisar Wei Huang, sambil sesekali mengorek rahasia kecantikan yang dimiliki oleh para wanita kekaisaran.
Selir Xiao Xia dan selir Feng Ling terlihat begitu bersemangat, apalagi saat banyak sekali orang yang memuji keduanya. Mereka saat ini bagaikan seorang ratu yang tengah dikerubuti oleh penggemarnya.
Tanpa segan-segan, kedua orang selir Kaisar Wei Huang itu pun segera memberitahukan tentang bahan dari kain yang digunakannya, untuk dijadikan pakaian, kemudian perhiasan-perhiasan yang saat ini dikenakannya.
__ADS_1
Bahkan keduanya tiba-tiba saja berubah menjadi seorang dermawan yang membagi-bagikan banyak sekali perhiasan yang sudah tidak lagi digunakan oleh mereka, kepada para tamu yang hadir saat ini.
Hal itu tentu saja disambut dengan penuh syukur oleh para wanita yang saat ini berada di istana kekaisaran, selain penyambutan yang sangat meriah dan ramah, bahkan kedua orang selir itu memberikan cenderamata berupa perhiasan kepada mereka. Tentu saja hal itu akan selalu diingat oleh para undangan yang hadir.
Namun apa yang dilakukan oleh kedua orang selir itu saat ini, menarik perhatian para bandit dan juga perampok yang tengah menyamar, mereka mulai menargetkan kedua orang wanita itu untuk bisa mendapatkan kekayaan lebih dari istana kekaisaran.
Bahkan kini terlihat para bandit dan juga perampok itu mulai menyusun rencana, untuk bisa merampas seluruh harta berharga milik kedua orang selir Kaisar Wei Huang.
Xuan Jian hanya tersenyum tipis melihat kelakuan kedua orang selir itu, dia sama sekali tak berniat untuk menghancurkan kebahagiaan mereka dan lebih memikirkan sang ibu yang saat ini hanya duduk diam sendirian di kursinya.
Selir Xuan Yang tak bisa menikmati pesta yang dibuat oleh kaisar Wei Huang, dirinya saat ini seolah mendapatkan sebuah firasat buruk, akan sesuatu yang mungkin saja membahayakan seluruh anggota keluarganya.
Pesta besar selalu saja mengundang kejahatan, meskipun para prajurit telah dipersiapkan untuk berjaga di seluruh penjuru istana kekaisaran. Namun mereka masih tetap harus berhati-hati, agar tidak mengundang para penjahat itu untuk mendekatinya.
Sejak diangkat menjadi seorang putra mahkota kekaisaran jiahu, memang telah banyak bangsawan dan juga para pejabat yang mengirimkan lamaran untuknya. Namun dia tetap menolak, dengan alasan masih belum menginginkan seseorang pendamping, apalagi usianya baru 11 tahun saat ini.
Meskipun para pejabat dan bangsawan itu siap untuk menunggu selama 5 tahun ke depan, nyatanya Pangeran Qing Yuan masih enggan untuk menerima, hingga saat ini dia belum juga menemukan seorang gadis yang mampu membuat dia jatuh cinta.
Suasana bahagia di dalam aula itu tiba-tiba saja berubah menjadi sangat mencekam, karena kedua orang selir Kaisar Wei Huang saat ini telah ditodong oleh sebuah pedang besar. Di belakangnya terlihat ada sekitar 500 orang pria berpakaian hitam, tengah berdiri sambil menatap ke arah aula, dimana pesta tengah berlangsung.
Sepertinya para bandit dan juga perampok itu tak bisa lagi menunggu hingga selesainya acara pesta, mereka langsung saja menyergap kedua orang wanita itu untuk dijadikan sandera, agar Kaisar Wei Huang memberikan sejumlah harta kekayaannya untuk mereka.
Hush... Hush...
__ADS_1
Drap...
Drap...
Drap...
Terdengar suara langkah kuda yang sangat banyak, bersamaan dengan ditabuhnya alat musik. Para penari mulai berdatangan menunjukkan pesonanya, mereka berlenggak-lenggok meliukkan tubuhnya dengan sangat anggun hingga memukau mata para tamu yang memandang.
Hingga saat ini semua orang masih belum menyadari ketidakhadiran dari selir Xiao Xia dan juga selir Feng Ling, mereka terlalu sibuk menikmati segala macam hidangan dan juga tarian yang disuguhkan.
Syut...
Clap...
Sebuah anak panah tiba-tiba saja meluncur dan langsung melesat dengan sangat cepat, tepat di samping telinga milik Kaisar Wei Huang, hingga membuat penguasa kekaisaran jiahu itu akhirnya berdiri dari kursi yang sejak tadi didudukinya, entah siapa orang yang telah mencari masalah dengannya saat ini.
Beberapa orang prajurit bergegas datang, kemudian segera mengambil anak panah itu dan memberikannya kepada Kasim istana. Tak lama kasim pun membuka tulisan yang menancap di ujung runcing anak panah itu, kemudian menyerahkannya kepada kaisar Wei Huang.
Wajah Kaisar Wei Huang nampak menghitam, saat ini dia benar-benar tak habis pikir dengan kemunculan para perampok dan juga bandit yang tiba-tiba saja memasuki istana kekaisarannya dengan sangat mudah. Namun mengingat kemampuan orang-orang itu dalam menyamar, membuat Kaisar Wei Huang langsung menggertakan giginya.
"Serahkan seluruh harta kekayaan milikmu, dan antarkan ke hutan bambu, jika kau masih ingin melihat kedua orang selirmu itu tetap hidup." tulis orang itu.
Hal itu sontak membuat semua orang yang berada di aula langsung terpaku, mereka tentu saja melihat perubahan raut wajah Kaisar Wei Huang saat ini. namun tak memiliki keberanian untuk mempertanyakannya.
__ADS_1