
Luna segera dipindahkan keruang operasi mengingat kondisinya yang sangat lemah yang masih terus memyebut nama Steve.Namun sebelum Luna dipindahkan suara lirih Luna terdengar ditelinga dokter Handi." Kak Steve.... "
Deg.... seketika dokter Handi berusaha mendengar kembali rancauan yang keluar dari mulut Luna dengan lebih mendekat kearah tubuh lemah Luna. " Kak Steve " sangat lirih namun telinga dokter Handi masih mampu mendengar suara lirih gadis yang sedang berjuang untuk kelahiran anaknya.
Rasa penasaran makin menyelimuti benak dan otak dokter Handi bahkan ia menduga duga apakah ini istri yang dimaksud pemuda yang selama ini tinggal dan dirawatnya.Apalagi dokter Handi menghubungkan kejadian beberapa menit lalu saat keduanya memasuki ruang UGD.Namun angannya buyar saat dokter lain membawa Luna pindah keruang operasi.
Selang infus sudah terpasang ditubuh Steve.Dokter Handi mulai memeriksa dan melakukan CT SCAN kembali.Untuk bisa lebih memastikan apa yang harus dilakukannya.
Dan Luna juga sudah ditangani para perawat dan dokter kandungan.Semua perlengkapan sudah siap tabung oksigen yang terpasang dihidung dan mulut Luna juga sudah terpasang.
*****
Diruang tunggu Mirna tampak gelisah " Ya Allah selamatkan cucu dan menantu hamba " Seru Mirna yang air matanya mulai mengalir diwajahya.
" Assalamu'alaikum mi " ujar Andrew yang baru datang dan Mirna segera memeluk tubuh kekar suaminya saat mendengar suara Andrew.Menumpahkan semua rasa cemas dan kekhawatirannya.
Tak lama kemudian Reza juga tiba disana selisih beberapa menit dengan Atta dan Nayra yang juga baru sampai.
" Assalamu'alaikum...om tante , gimana kondisi adik saya " tanya Atta khawatir.
Andrew melepas pelukan Mirna dan menoleh kepada Atta. " Luna masih didalam ruang operasi nak Atta , karena kondisinya sangat lemah dan sangat tidak memungkinkan sekali untuk lahir normal " ujar Andrew menatap intens wajah Atta dan menepuk pundaknya.
__ADS_1
Sari masih duduk dikursi pojok ruang tunggu sendirian.Sama juga diliputi kekhawatiran dan kecemasan. Meski Steve bukan anaknya namun Sari dan Handi merawatnya seperti anak mereka sendiri.Bahkan siang malam Sari selalu mengingatkannya untuk minum obat.
******
" Permisi nyonya " seru Atta saat hendak duduk dikursi kosong sebelah Sari beserta Nayra.Sari menoleh dan tersenyum serta mempersilahkan Atta dan Nayra duduk.
Entah kenapa Sari terus menatap wajah Atta lekat tanpa berkedip sedikitpun. " Ehmmm nyonya ada apa kenapa anda menatap saya seperti itu ". tanya Atta dengan wajah kebingungan. Sari merengkuh wajah Atta dengan kedua tangannya.Dan matanya mulai berkaca kaca.
" Wajah ini...bagaimana mungkin bisa mirip dengannya " gumam Sari menelusuri wajah Atta dengan jari jemarinya mata hidung dan bibir.Air mata yang tadinya menggantung kini jatuh diwajahnya.Atta hanya diam terpaku bagaimana wanita paruh baya didepannya itu berbuat seperti ini.
" Maaf nyonya anda kenapa " suara Atta makin kebingungan.Bahkan Sari memeluk tubuh Atta erat sekali. " Siapa namamu nak " tanya Sari setelah melepas pelukannya dan memegang kedua lengan Atta." Nama saya Awata Riyanto Kusumo biasa dipanggil Atta " jawab Atta menatap kedua bola mata Sari yang masih basah.Atta juga heran sebenernya ada perasaan apa sepertinya begitu dekat dan akrab dengan wanita didepannya itu.
" Atta anakku " suara Sari terdengar keras dan Sari menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya.Seketika Sari kembali memeluk tubuh Atta.Nayra bahkan tampak bingung melihat keduanya yang berpelukan.
" Aku ibumu Atta...lihat dan tataplah ibu nak...bertahun tahun aku mencari kalian dan akhirnya kita bertemu disini " suara Sari dalam isak tangisnya menatap dan memegang kedua lengan Atta.
" Apa benar anda ibuku " suara Atta tampak bergetar dan iapun mulai menangis." Iya Atta aku ibumu wanita yang melahirkanmu dan Lunaya ". Tubuh Atta kembali bergetar mendengar penjelasan wanita itu.
Atta masih diam mematung dengan wajah yang telah penuh dengan derai air mata.Merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.Tubuh Atta makin bergetar hebat dan tangisnya pecah.
" Ibu....kemana saja ibu selama ini , kemana saat adikku membutuhkanmu , kemana saat adikku terluka tersiksa batinnya meraung menangis membutuhkan belaian kehangatanmu kemana jawab ibu ". suara Atta yang masih bergetar sedang berteriak kearah wajah Sari.Tangis Sari makin menjadi " Maafkan ibu nak , ibu memang jahat ibu memang tak pantas disebut ibu.Ibu sangat egois pergi meninggalkan kalian tapi percayalah nak...ibu selalu dan terus mencari kalian bahkan sampai kedesa nenekmu juga keseluruh pelosok kota ". suara tangisan Sari terus terdengar menghiba memohon maaf.
__ADS_1
Sari merengkuh tubuh Atta yang sedang menangis ia menerima pasrah kebencian anak anaknya.Lambat laun tangis Atta makin mereda.Dan iapun membalas pelukan ibunya.
Tangis keduanya mulai mereda.Andrew dan Mirna diam tertegun melihat kejadian yang baru saja terjadi.Mematung tanpa suara sedikitpun begitu juga Reza dan Nayra.
*****
Dokter Handi keluar dari ruangannya Sari segera mendekat menghampiri suaminya.Sari menarik tangan Handi kearah Atta.
" Pa lihatlah ini adalah anak ku Atta yang sering mama ceritakan " ujar Sari dengan senyuman mengembang diwajahnya.Handi pun mengulurkan tangannya dan menepuk pundak Atta." Selamat bertemu kembali dengan ibumu nak Atta " ujar dokter Handi dengan wajah sendu.
" Ma sepertinya kita harus segera mengoprasi pemuda itu sebelum terlambat ". suara dokter Handi makin terdengar sendu dan wajah cemas.
" Tapi pa...apa dengan operasi Steve akan kembali sembuh dan bagaimana kita menemukan keluarganya dengan kondisinya yang seperti ini ". Wajah Sari seketika berubah muram dan terlihat jelas kesedihan diwajahnya dan dokter Handi.
" Apa...siapa yang ibu maksud barusan Ibu menyebut Steve apa dia anak ibu " pertanyaan Atta membuat Andrew Mirna dan Reza mendekat dan terkejut.
" Ada apa nak Atta kenapa menyebut nama Steve ". tanya Mirna dan Andrew bersamaan dengan wajah cemas dan penasaran.
????????.
◇◇◇◇◇
__ADS_1
Ayo terus dukung dengan cara klik Vote dan berikan rate yang banyak serta likenya dan komentar yang bagus.Terimakasih.