
Atta memasuki kamarnya.Ia baca amplop putih yang membuatnya penasaran.
Tak lama setelah Atta membacanya, ia tercengang betapa terkejutnya ia bahwa adiknya harus bersekolah di sekolah swasta biasa yang sama sekali tidak terkenal.Atta nampak sekali geram dan kecewa.
Bagaimana tidak, Atta sangat tahu prestasi adiknya. Bahkan dalam ujian kemarin adiknya berhasil menyabet peringkat 1 se kabupaten.
" Harusnya Luna diterima disekolah Vafourite bukannya sekolah yang sama sekali tak terkenal" gumam Atta , yang tak henti hentinya keheranan.
Atta segera bergegas menemui sang ayah yang masih berada diruang kerjanya.
Tanpa pikir panjang Atta langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ini bukanlah kebiasaan Atta.
" Atta...ngagetin ayah saja. Kenapa tidak mengetuk pintu dulu"
" Ayah... apa ayah yang menyuruh Luna mendaftar disekolah swasta biasa itu ayah?"
tanya Atta tampak kecewa pada ayahnya.
Sumarto hanya bisa terdiam mendengar perkataan anak sulungnya itu.
" Jawab Atta ayah" dengan nada emosi.
" Ayah harusnya bangga pada Luna karena ia tidak pernah merepotkan ayah".
" Ayah coba lihat apakah pantas seorang siswa yang menyabet peringkat juara 1 sekabupaten harus bersekolah di SMA yang sama sekali tak terkenal". Atta berkata sambil berurai air matanya.
__ADS_1
" Ini tidak adil untuk Luna ayah" teriak Atta dengan histeris.
Atta melemparkan lembaran yang terlipat dalam amplop putih itu pada ayahnya.
" Bacalah Ayah..." teriak Atta kembali.
Dibukanya amplop itu.Tangan Sumarto tampak bergetar mengetahui putri keduanya dinyatakan diterima dan langsung mendapatkan Bea Siswa penuh selama menjadi murid di SMA swasta tersebut.
Sumarto terduduk ke kursi ruang kerjanya.
" Apa yang telah kulakukan pada anak ku Yaa Tuhan. Aku telah berlaku tidak adil padanya ".
Jerit hati Sumarto. Karena keegoisannya yang terlalu takut pada istrinya telah membuatnya melupakan kesedihan putri keduanya itu.
Atta berlalu meninggalkan ruang kerja ayahnya tanpa pamit terlebih dahulu. Dengan kasar Atta membanting pintu itu.
******
Di atas tempat tidur Sumarto tampak murung dan gelisah. Ia membelakangi Lika.
Lika yang masih belum tidur dan sejak tadi memperhatikan suaminya bertanya.
"Kenapa mas??? apa ada sesuatu yang serius dengan usaha mas?"
Sumarto masih tetap membelakangi punggung Lika tanpa bergeming sedikitpun.
__ADS_1
" Maafkan ayah Luna " Jerit hati Sumarto.
Lika akhirnya tertidur dengan membawa kekesalan karena sang suami tidak menjawab pertanyaannya.
Sementara Sumarto masih tetap tak dapat memejamkan matanya. Perasaan menyesal menyelimutinya.Ia lalu beranjak bangun menuju kamar Luna.
*****
Sumarto memasuki kamar Luna.Disana didapati Luna sedang tertidur dengan wajah sedihnya.Ia kecup kening anaknya itu.
" Maafkan ayah anak ku...ayah bukanlah ayah yang baik. Ayah adalah orang yang egois" bisik Sumarto.
Sumarto menatapi bingkai foto kecil berukuran 5R yang terletak dimeja belajar Luna.Air matanya kembali terjatuh manakala menatap foto itu. Foto saat Luna pertama kali masuk dalam keluarganya. Tampaklah lima bersaudara sedang tertawa lepas saling bergandengan tangan.
Hati Sumarto makin terasa sakit. Segala penyesalan pun dirasakannya.Andai ia tak melakukan kebodohan dan tak menghianati istrinya Sari. Pasti Luna tidak akan pernah mengalami penderitaan seperti ini.
Sudah lebih dari sepuluh tahun Sari mantan istrinya pergi tidak pernah terdengar kabar sama sekali. Sari pergi meninggalkan semuanya dengan membawa rasa sakit yang dalam.
Sumarto makin merasa berdosa mengingat semua kebodohannya.Wanita sebaik Sari telah ia sia siakan hanya demi wanita matrealistis.
******
**Hai...πππ readers semua,, jangan lupa chat komen.. like n vote nya ya. Mungkin diawal ceritanya sedikit membosankan tapi jangan khawatir pasti ada banyak kejutan yang udah Author siapin buat readera tercinta.
ββββββ**
__ADS_1
"