
Didalam ruang Chek in Atta menghampiri Nayra dan pak Agus.Atta mengulurkan tangannya menyalami mereka berdua begitupun Luna juga .
" Maaf Om... sedikit terlambat , apa om sudah lama menunggu ", tanya Atta basa basi kepada Om Agus pengacaranya.
" Nggak juga nak Atta... kami juga baru sampai , iya kan sayang?" jawab Agus seraya menatap kearah Nayra.
Hal itu membuat Atta bingung.
" Kenapa om Agus memanggil sekertarisku sayang . Apakah Nayra putrinya atau?" . Atta bingung sendiri dan bertanya dalam hatinya.
" Ohya nak Atta , om lupa memperkenalkan pada kalian. Kenalkan ini Nayra putri semata wayang om ".
Nayra menjabat tangan Luna dan Atta seraya tersenyum ramah dan berkata " Nayra ".
Hal itu terang saja membuat Atta kaget karena ia sama sekali tak menduga jikalau gadis cantik sekertarisnya itu adalah anak pengacaranya.
Luna berdiri disamping Nayra dan mengobrol bersama sesekali terlihat senyum manis tersungging dibibir keduanya. Atta tampak mulai mencuri pandang Nayra. Begitupun di sudut ruangan tampak sesosok mata yang sejak memasuki ruangan chek in terus menatap Luna. Ditambah saat melihat Luna tersenyum lepas hati Steve bergetar kencang. Ia ingin sekali menghampiri gadis itu namun sayang pertemuan pertama mereka memberikan kesan yang kurang mengesankan bagi Luna. Mata Steve tak henti hentinya tertuju pada Luna seakan ia telah terhipnotis pacar adiknya .
******
Setelah Lima menit berkumpul diruangan chek in. Kini semua penumpang menuju pesawat dan menduduki kursi masing masing. Steve terlebih dulu duduk dikursi sesuai nomor yang telah ia booking. Atta kebetulan duduk bersebelah dengan Nayra pak Agus duduk tepat dibelakang kursi Atta. Luna mencari kursinya , setelah menemukan nomor yang tertera ia hendak duduk tiba tiba bola matanya melotot dengan amarah yang membuncah setelah mengetahui siapa orang yang duduk disebelahnya.
" Heih....kamu..." gerutu Luna sambil menunjuk wajah Steve dengan jari telunjuknya. Ia tampak geram sekali.
Steve tersenyum manis memasang wajah seolah tak berdosa sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan posisi duduk kaki menyilang.
__ADS_1
" Dunia ini begitu sempit sekali kenapa aku harus bertemu kembali dengan orang menyebalkan ini ". gerutu Luna sambil mengerucutkan bibirnya dan menjatuhkan dirinya dengan kasar menoleh kesamping Atta membelakangi Steve.
Melihat ekspresi adiknya yang terlihat kesal Atta tersenyum memperhatikannya. Bagaimanapun juga Luna harus belajar beradaptasi dengan orang disekitarnya.
Dikursi sebelah Atta tampak terlihat lebih akrab dengan Nayra meski yang mereka bicarakan hanya sebatas pekerjaan.
" Nona...saya benar benar minta maaf atas kejadian tadi ". ucap Steve sambil mengulurkan tangannya pada Luna.
Luna sama sekali tak bergeming dari posisinya masih membelakangi Steve.
" Bodoooo ". sahut Luna menggerutu.
" Kakak...tolong Luna ". rengek Luna memanggil dan memohon pada Atta.Namun Atta tampak asyik ngobrol dengan Nayra dan hanya tersenyum menoleh kearah adiknya yang sedang cemberut.
Luna yang baru pertama kali naik pesawat sejak tadi merasa mual namun ia tahan karena perasaan gengsinya terhadap pria menyebalkan disampingnya.Luna menutup mulutnya dan berlari kecil menuju toilet. Disana ia muntahkan semua isi perutnya .
Sementara Atta yang sedang asyik mengobrol dengan Nayra. Tak melihat kejadian yang menimpa Luna. Berkali kali Luna memuntahkan isi perutnya. Luna merasa lemas tak bertenaga setelah memuntahkan semua isi perutnya.
Steve menatap jam tangan bermerk yang bertengger ditangannya.
" Sudah lima belas menit gadis itu ke toilet kenapa belum balik juga ". gumam Steve penasaran karena ia melihat Luna yang hendak muntah.Ia memberanikan diri menghampiri Atta.
" Maaf tuan....Nona yang bersama anda tadi sepertinya tidak sedang dalam keadaan baik. Tadi ia berlari ketoilet dan sudah lima belas menit sampai sekarang belum juga datang. Alangkah baiknya tuan coba melihat keadaannya ". Steve kembali ketempat duduknya.
Atta bergegas menghampiri Luna. Didalam toilet yang tak sempat dikunci oleh Luna ia tampak terkulai lemas dilantai. Atta segera menggendong Luna dikursinya kembali.
__ADS_1
Atta tampak cemas dengan keadaan Luna. Ia memanggil pramugari untuk meminta air hangat dan minyak gosok untuk merangsang agar Luna saar kembali.Steve juga tampak gelisah.
" Ehmmm...tuan permisi bolehkah saya melihat kondisi nona ini , kebetulan saya lulusan kedokteran. Tutur Steve menatap Atta ramah.
Atta menganggukkan kepalanya.Menyetujui pria disamping adiknya itu untuk memeriksa adiknya.
" Nona ini tidak apa apa tuan...ia sepertinya sedang mengalami desinkronosis alias mabuk pasca terbang , mungkin nona ini baru pertama menaiki pesawat. ucap Steve menjelaskan kondisi Luna setelah ia periksa.
" Terimakasih ". ucap Atta sambil duduk berjongkok dibawah kursi Luna. Pramugari pun datang membawa pesanan Atta.
Dioleskannya minyak gosok dihidung dan di telapak tangan Luna dengan telaten oleh Atta. Steve terlihat kagum melihatnya.
" Benar juga yang Reza bilang kakak Luna ibarat malaikat pelindung untuk adiknya. "
Gumam Steve dalam hati yang terus memandangi Atta dan Luna.
◇◇◇◇◇◇◇
**Jangan lupa tolong klik Vote nya ya kakak... agar Author makin semangat lagi menulisnya.
Jangan lupa pula tinggalkan jejaknya di Coment. Coment yang membangun akan sangat membantu untuk masukan ide ide cemerlang.
Terakhir jangan lupa likenya ❤ agar novel ini semakin maju dan Up terus.
Terimakasih 😙😙😙❤❤❤**
__ADS_1