
Setelah bergegas pulang kerumah Atta segera menuju kamar Luna adiknya disana Atta tak mendapati adiknya namun hanya kamar kosong.
Atta berlari kedapur kosong... ke ruang makan pun kosong...terakhir kamar mandi juga kosong.
Atta kebingungan " dimana Luna ?" tanya Atta dalam hati . Lama termenung didapur Atta tanpa sadar menoleh kearah pintu belakang dapur yang terbuka . Atta segera menuju ruang kosong yang terletak dibelakang rumahnya itu. Disana Atta dikejutkan bahwa adik kandungnya Lunaya pingsan dalam keadaan tangan terikat.
Atta menepuk pipi adiknya itu pelan " Lun... bangun lun ini kakak... Lun... Luna"
karena adiknya tak menjawab perkataannya Atta membuka tali ikatan Luna. Disana terdapat luka bekas pukulan rotan ayahnya.
Atta menitikan air mata sembari menggendong adiknya kekamarnya. Disana Atta meletakkan adiknya diranjangnya dengan hati hati.
" Lun... bangun kaka ada disini...Lun bangun" teriak Atta sambil menepuk pipi adiknya itu. Disana terdapat bekas tangan akibat tamparan ayahnya itu.Hati Atta terasa sesak iya selama ini Atta tidak bisa melindungi adik kandungnya itu dari kekejaman ayah ibu tiri serta adik sulungnya.
Atta mengambil minyak angin dan mengusap ke seluruh tubuh Luna berharap adiknya segera siuman.
Sementara jam menunjukkan pukul 12.00 tengah malam. Luna perlahan tersadar dan menatap langit langit kamarnya sambil terus mengingat " bukannya aku ada di kamar belakang dihukum ayah " gumam Luna dalam hati. " kenapa ada dikamar".
Sesaat Luna hendak bangun namun tak bisa karena badannya sakit semua akibat pukulan sang ayah.
__ADS_1
Atta yang dari dapur membuatkan teh untuk adiknya menuju kamar dan melihat Luna sudah siuman.
" Lun...kamu gak papa ??" tanya Atta dengan mata yang berkaca kaca .
" Maafin kakak Lun...kakak memang bukanlah kakak yang baik untuk kamu tapi kakak janji kakak akan bawa kamu pergi jauh dari sini " ucap Atta pada adiknya itu.
" Luna gak papa kok kak... dari lecil Luna udah terbiasa seperti ini , kakak gak usah khawatir " sahut Luna berusaha meredam amarah kakaknya itu.
Luna tahu Atta bukannya kakak yang tidak perhatian tapi Kak Atta tidak bisa melawan ayah dan ibu tirinya itu karena dia takut diusir ayahnya karena dia masih bersekolah saat ini kelas 3 SMA. Dan masih membutuhkan biaya untuk sekolah.
******
" Minum Lun tehnya supaya badanmu lebih hangat " ucap Atta sambil memberikan obat pereda nyeri untuk adiknya itu agar tidak terasa sakit badannya.
Atta menyelimuti Luna lalu ia mengambil salep dikotak P3K untuk dioleskan pada luka Luna.
Sambil mengoles salep pada luka Luna Atta berkata " Besok jangan masuk sekolah dulu lagian kan ujian sudah selesai , biar kakak yang membuat surat izin nanti kakak titipkan paad Delya"
Luna mengangguk perlahan sambil meringis menahan perih akibat salep yang dioles kakaknya itu . Lalu Luna pun tertidur.
__ADS_1
*****
Pagi pagi Ayah Luna segera kekamar belakang berniat melepas ikatan tangan Luna .
Namun Luna tidak ada disana. Ayah Luna menuju kamar Luna.
Ceklek... suara pintu kamar Luna terbuka .
" Siapa yang menolongmu?" tanya ayah Luna dengan keras mengagetkan Luna yang masih tertidur.
" Aku yang melepasnya" sahut Atta pada ayahnya dengan nada marah.
" Ayah keterlaluan... kenapa ayah memperlakukan Luna tidak adil dia anak ayah juga darah daging ayah sama halnya dengan anak ayah yang lain " teriak Atta karena sudah tak bisa memendam amarahnya sejak semalam.
Mendengar teriakan Atta kakaknya Luna kembali menitikan air matanya. Dan berusaha bangun dari tempat tidurnya mendekati Atta.
" Kak...sudahlah Luna tidak apa apa kakak sebaiknya berangkatlah sekolah bukannya sekarang pengumuman kelulusan kakak".
Kata Luna berusaha menenangkan emosi kakaknya.
__ADS_1
Atta bergegas kesekolah mengendarai motor Ninja merahnya.
******