Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 119


__ADS_3

Aldi membawa Aisyah ke sebuah pasar malam yang tidak jauh dari Cafenya itu dan di ikuti oleh Citra dan Bian.


"Kak Citra kita cari jajanan yuk..." ajak Aisyah semangat.


"Ayo..." saut Citra tak kalah semangat.


Aisyah dan Citra memborong makanan apa saja yang menurutnya enak dan ke sukaan mereka. Aldi dan Bian hanya menggeleng geleng kepala melihat kelakuan dua wanita itu.


"Apa setiap perempuan seperti itu Di..." tunjuk Bian ke arah Citra dan Aisyah.


"Entahlah... klau Aisyah pasti seperti itu klau sudah menyangkut makanan" kekeh Aldi.


"Apa istri loe tidak takut gendut?" kekeh Bian, selama ini perempuan yang dia kenal, sahabat maksudnya tidak pernah yang mau membeli makanan yang sangat banyak di depan Bian.


"Tidak... Aisyah selalu memakan semua makanan, tapi badannya tetap segitu gitu aja, paling naik satu dua kilo" kekeh Aldi.


Memang istrinya itu banyak makan namun berat badannya tetap segitu gitu aja, idaman perempuan banget kan... tanpa memikirkan diet badan tetap aman.


"Ayo... abang Aisyah sudah selesai" cengir Aisyah memperlihatkan kantong jajanannya, yang sudah penuh di tangannya.


Bian melongo melihat jajanan di tangan Aisyah, namun tidak bagi Aldi, sudah biasa buat dia, justru Aldi akan bertanya saat istrinya hanya membeli makanan sedikit.


Sedangkan Citra hanya membeli makanan beberapa saja, tidak segila Aisyah.


"Kok.. kakak cuma segitu" tunjuk Bian pada kantong di tangan Citra.


"Takut gemuk, makan malam banyak banyak" kekeh Citra.


Aisyah hanya terkekeh mendengar ucapan kakak iparnya.


"Emang Aisyah ngak takut gemuk" tanya Citra. dari tadi yang sudah ingin bertanya, melihat adik iparnya memesan segala rupa jajanan tanpa pikir panjang.


"Ngak... Ais makan sebanyak apa pun badan Ais tetap segini gini aja" kekeh Aisyah.

__ADS_1


"Ha... serius" kaget Citra.


"Huum... tanya saja sama abang, paling Ais naik sekilo" cengir Aisyah.


"Kok bisa sih..." bingung Citra.


"Ngak tau.... mungkin sudah bawaannya kali, Bunda Ais juga kayak gini badannya" celetuk Aisyah.


Citra mengangguk paham.


"Ayo kita cari tempat duduk dulu lalu makan dan baru lanjut main" ujar Aldi.


"Ayo..." semangat Aisyah.


Bian dan Citra hanya mengikut sepasang sejoli itu dari belakang.


"Sini abang bawain" tawar Aldi.


"Tunggu di sini, abang beli minum dulu" ujar Aldi.


Aisyah mencari tempat duduk yang kosong tidak jauh dari mereka berdiri.


"Kak, duduk di situ Yuk...." tunjuk Aisyah di bangku taman yang kosong.


"Yuk... ke sana" ajak Citra.


Bian hanya mengekori dua wanita itu dari belakang.


Aisyah lansung menggelar semua jajanan di tangannya di atas bangku taman itu.


Bian geleng gelang kepala melihat jajanan Aisyah itu.


Tanpa ba bi bu Aisyah lansung melahap makanan itu dengan sangat, tanpa ada malu maupun canggung.

__ADS_1


"Hayu bang di makan, ngak akan kenyang klau cuma lihat Ais doang"


Aldi lansung terkekeh mendengar sang istri mengoceh kepada abangnya


Bian hanya garuk garuk tengkuk yang tidak gatal karena ocehan adik iparnya itu.


Tanpa terasa makanan yang dia katakan banyak sama Bian tadi juga ludes masuk kedalam perutnya, ternyata apa yang Aisyah pesan itu juga nikmat di lidahnya.


"Iddiiihhh... katanya kebanyakan tadi, tapi kok sisa kantongnya doang, isinya kemana ya?" ledek Aisyah.


"Ngak tau isinya di gondol kucing kayaknya" Aldi juga ikut meledek abangnya itu.


Bian hanya cengengesan karena malu.


"Ternyata enak juga" kekeh Bian.


"Lebih enak masakan abang, klau abang masak semua keluarga Ais pasti sudah berebutan buat makan" celetuk Aisyah.


Aldi hanya tersenyum sambil mengelus kepala sang istri, karena dia sangat senang di puji oleh istri cantiknya itu.


"Masa... emang Aldi bisa masak?" tanya Citra tidak percaya.


"Huuumm... enak banget malah, Ais aja ngak boleh masak sama abang, padahal mah Ais juga bisa masak" keluh Aisyah.


Aldi dan kakaknya hanya terkekeh mendengar keluhan sang istri.


"Mau main ngak...?" tanya Aldi.


"Mau... hayo" jawab Aisyah semangat.


Mereka lansung menaiki wahana apa saja yang ada di sana dengan perasaan bahagia, apa lagi Aldi yang selama ini memang merindukan kebersamaannya dengan saudaranya itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2