
Setelah keluar dari rumah sakit, Aisyah benar benar menagih janji, makan di restoran padang, bersama keluarga besarnya.
Kini di sini lah mereka berada, di sebuah restoran padang yang lumayan terkenal.
Mata Aisyah berbinar melihat makanan yang tersusun rapi di atas meja makan itu, berbagai lauk pauk sudah terhidang di atasnya.
Aldi hanya terkekeh melihat tingkah Aisyah.
"Mau makan pakai apa sayang...?!" tanya Aldi lembut kepada sang istri.
"Kepala kakap, dendeng kering, sama gulai nangka" tutur Aisyah.
Aldi dengan sigap melayani sang istri.
Aisyah makan dengan lahap, semuanya juga ikut makan, sesekali di iringin dengan candaan dari pak Diman, Aldi dan Aisyah.
"Itu yang doyan calon cucu Bapak apa Aisyah, cibir pak diman yang memancing keributan.
"Dua duanya, kenapa emang, bapak ngak suka, oh iya... tadi anak Ais bilang dia pengen Bapak yang bayar seluruh makanannya" ucap menaik turunkan alisnya, Aisyah terkekeh melihat raut wajah pak diman yang mendelik tak suka.
"Enak aja, kenapa bapak yang di suruh bayar, kan Bapak makannya cuma sedikit, ngak kayak kamu, tuh.., lihat piring pada kosong" balas Pak Diman, bersungut sungut.
__ADS_1
"Idih... mana ada Ais makan banyak, orang bapak yang nambah tiga kali, pokoknya anak Ais maunya bapak yang bayar!" sungut Aisyah.
"Ncek... itu namanya pemerasan" dumel Pak Diman, sejujurnya siapa pun yang bayar, Pak Diman atau Aldi, bahkan Pak Bayu juga tidak jadi masalah, mereka orang orang berkantong tebal, cuma keributan itu yang mereka rindukan.
"Sudah sudah bapak ini kenapa suka banget mancing keributan sih?!" omel Bu Sri, melerai Aisyah dan Pak Diman.
"Iya bu, bener itu, coba klau mancing ikan, kan enak bisa di makan, lah ini bapak sukanya mancing keributan" cibir Aisyah, maledek Pak Diman.
"Wlek...." Aisyah menjulurkan lidahnya.
Pak Diman, hanya medelik sebel sama Aisyah, yang lain hanya terkekeh melihat ke dua orang beda usia itu, yang masing saling tatap, untuknya Aldi tidak ikut ikutan.
"Alhamdulillah...." Pak Diman mengangkat ke dua telapak tangannya dan mengusapkan ke wajah, tanda syukur karena uangnya tidak jadi keluar.
"Sayang bayar dua ribu, sisanya di tambahin sama Pak Diman" kekeh Pak Burhan.
"Buahahaha...."
Semua yang ada di sana, tertawa renyah memdengar ucapan Pak Burhan.
Pak Diman, lansung menjatuhkan rahangnya.
__ADS_1
"Heii... kamu kira mau bayar parkiran! buat bayar parkiran aja masih kurang banyak itu uang!" sungut Pak Diman.
"Oh... ya sudah, saya ngak jadi bayar, nanti bapak sekalian bayarin parkiran saya, ya, soalnya dompet saya ketinggalan" ucap Pak Burhan tanpa dosa.
Yang lain hanya bisa garuk garuk jidat yang tidak gatal, entah kenapa semenjak Aldi dan Aisyah mereka yang tua jadinya berubah seperti anak kecil, tidak ada yang mencerminkan orang orang terpandang, padahal dulunya mereka itu, orang orang kaku.
Namun ke hadiran Aldi dan Pak Diman merubah segalanya, dan kini anggota rusuh mereka juga bertabah dengan kedatangan dua kakak Aldi.
Klau sudah berkumpul, rumah Aisyah sudah berubah layaknya pasar dadakan, riuh dengan canda tawa, dan sibuk membuat makanan, mereka akan saling bantu.
"Sudah sudah, ayo pulang, gantian sama yang lain, lihat noh, orang sudah ngantri mau makan juga?!" lerai Bu Wati.
"Ais, ada yang mau di bawa pulang ngak sayang?" tanya Aldi kepada istri cantiknya itu.
"Ngak ada, nanti aja mau beli martabak telor" cengir Aisyah.
Aldi mengangguk tanda mengerti.
Akhirnya mereka pulang kerumah Aisyah, Pak Diman dan Bu Sri, juga ikut ke rumah Aisyah dan berencana akan menginap di sana.
Bersambung....
__ADS_1