Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 143


__ADS_3

Satu jam berlalu, Bian, Citra dan dan Bu Isni sampai di rumah Aisyah. Keluarga Aisyah sudah menunggu ke dagangan mereka dari tadi.


"Assalamualaikum...." Bian, Citra dan Bu Isni memberi salam dari arah luar, namun Bian dan Citra yang sudah biasa lalu lalang di rumah itu, lansung nyelonong masuk, lupa klau dia membawa Ibunya.


"Wa'alaikum salam...." saut orang orang dari dalam, Citra dan Biar langsung menyalami satu persatu orang orang yang ada di dalam rumah itu.


Namun tidak dengan Bu Isni, langkahnya terhenti di pintu itu, dia takut untuk melanjutkan langkahnya ke dalam rumah itu, dan anak anaknya sudah berjalan menjauh menghampiri orang orang yang sedang berkumpul di dalam sana.


"Kak, Ais kangen..." rengek Aisyah seperti anak kecil.


"Kakak juga kangen sama adik kakak ini" ucap Citra dan menciumi pipi Aisyah bertubi tubi.


"Ais cuma kangen sama kakak doang, sama abang ngak" cemberut Bian, keluarga Aisyah hanya menggeleng melihat kelakuan adik dan kakak ipar yang sedang merajuk itu.


"Ahahaha... Ais juga kangen sama abang" kekeh Aisyah memeluk Bian. Bian mengelus kepala belakang Aisyah dengan lembut.


"Kemana aja abang sama Kakak dua hari ngak ada kabarnya" oceh Aisyah.


"Hufff... di rumah lagi ada masalah sedikit, jadi kakak sama abang lagi ngurusin di rumah, ehhh... malah lupa telpon kalian" kekeh Bian.

__ADS_1


Krik....


Krik....


Bian seakan sadar akan suatu hal, serasa ada yang lupa.


"Oo... Astaga..." Bian menepuk jidatnya dengan sedikit kencang.


"Abang kenapa?" tanya Aisyah bingung, melihat tingkah abang iparnya itu.


"Ha... abang melupakan sesuatu, Kak ada yang berasa ketinggalan ngak?" tanya Bian kepada Citra.


Bahkan Aldi pun lupa, klau tadi di telpon abangnya itu tadi minta izin akan membawa ibunya kerumah Aisyah.


"Oohh... Astaga... ya ampun..." ucap mereka serempak mengingat seseorang yang ikut mereka lupakan.


Sementara dari luar sana, tanpa di ketahui orang orang, Bu Isni melihat perlakuan orang orang itu menyambut hangat kedatangan Bian dan Citra, betapa anak anaknya di terima dengan tangan terbuka oleh keluarga menantunya, dia juga melihat perubahan pada anak bontot yang pernah dia sia siakan sangat banyak perubahannya saat ini.


Aldi yang dulu kurus kering, tiada canda tawa, bahkan senyum pun tidak pernah, tapi sekarang Aldi, anak bontot yang dia sia siakan itu, tumbuh menjadi lelaki tampan, kulit bersih, badan kokoh dan berotot, kulit wajahnya begitu berseri, dan jangan lupa senyum cerahnya menyambut Citra sang kakak yang pernah jahat padanya dengan begitu hangat, sungguh hati Bu Isni sakit, besar penyesalan yang dia rasakan, kenapa begitu bodohnya dia sampai terhasut oleh dua laki laki tidak tau di untung yang sudah dia angkat derajatnya, malah menusuk Bu Isni dari belakang.

__ADS_1


Jatuh sudah Air mata Bu Isni, sakit hatinya tiada tertahan, melihat anak anaknya akur seperti itu, ingin Bu Isni melangkah ke dalam sana memohon ampun kepada sang anak, namun nyali nya menciut.


Bu Isni mengingat begitu sombong dan angkuhnya, waktu itu dia menolak menantunya itu dulu, merasa tidak sepadan dengan Angga anak yang dia anggap seperti anak kandungnya. Bu Isni juga mengingat betapa banyak dia melontarkan kata kata kasar, hinaan makian saat itu, klau mengingat itu semua, Bu Isni rasanya ingin pulang saja, malu sungguh malu diri Bu Isni.


Orang yang dia hina, dan dia caci dulu ternyata, lebih kaya dan lebih segala galanya dari dia, bahkan mereka yang kaya dari Bu Isni bisa menerima anak anaknya tanpa pandang dari mana mereka berasal, malu sungguh malu Bu Isni.


Bu Isni berbalik ingin melangkah meninggal kan rumah itu, dia sungguh tidak mampu untuk mengangkat kepala kepada keluarga besarnya itu, dan dia sungguh tidak kuasa melihat anak bontotnya, dia takut anaknya akan menolak ke hadirannya, namun baru saja dia akan melangkah pergi, langkahnya terhenti karena mendengar panggilan dari dalam sana.


"IBU....."


Suara ke tiga anaknya menghentikan langkah Bu Isni, air matanya luruh melihat Aldi ikut melangkah mendekat ke arahan.


Saat Aldi sampai di hadapannya, Bu Isni langsung bersujud di kaki anaknya itu.


"Maafkan Ibu...."


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan vote ya...

__ADS_1


__ADS_2