
"Paman. Bibi, boleh aku ngomong sesuatu?" tanya Aldi serius.
"Mau nanya apa nak?" tanya Bi Wati penasaran.
"Gini... Tapi kalian jangan tersinggung ya?!" ucap Aldi tidak enak hati.
"Ngomong aja, ngak usah takut" sela Pak Diman.
"Ini paman. Cafe Alhamdulillah... rame ya Paman. Bi" ucap Aldi dan di anggukin yang lain.
"Uang Paman semua sudah ada dari ke untungan Cafe selama ini kami kumpulin, jadi ini uang nya mau gimana? mau tetap join kerja sama, apa mau di ambil?" tanya Aldi.
"Emang kenapa nanya gitu?" Pak Farhan.
"Klau Paman ambil aku pulangin, klau ngak rencananya aku, mau memperluas Cafe atau buka cabang baru Paman" terang Aldi.
Semua tersenyum senang mendengar ucapan Aldi.
"Kami ikut Investa aja, klau menurut Paman lebih baik kalian buka cabang aja deh, Biar tambah terkenal Cafe A&A" Pak Bayu.
Aldi menganggukan kepalanya.
"Aldi sih, sudah ada pilihan lahan paman?!" ucap Aldi.
"Dimana?" Pak Farhan.
"Di dekat kampus Aldi juga ada, tapi ngak begitu luas sih, tapi tempatnya bagus pemandangan bagus paman, apa lagi kan tempatnya di ke tinggian, klau malam tuh orang orang di manjakan sama kerlap kerlip lampu lampu rumah, apa gedung di bawahnya.
"Ada satu lagi, di jalan xx paman, cuma tempatnya kurang strategis, ngak ada pemandangan, kudu kita harus bikin konsep sendiri, banyak ke luar uang sih, klau menurut aku" ucap Aldi.
__ADS_1
"Ambil yang di dekat kampus aja coba, jadi kalian kan dekat tuh klau mantau" ucap Bima.
"Boleh sih bang, tapi aku mau bikin mes buat karyawan kayaknya Bang" Aldi.
"Kenapa emang?" Pak Diman.
"Gimana ya, kadang Cafe tutup sampai jam 12 malam, anak anak sudah di bilangin suruh tutup jam sembilan atau jam sepuluh aja, suka ngebantah, katanya sayang, masih rame" keluh Aldi.
"Kan bagus itu..." celetuk Pak Farhan.
"Cuma kasihan mereka pulang tengah malam, kadang hampir dini hari klau sama beberes dulu kan di Cafe sebelum tutup, kasian mereka kecapean, apa lagi yang perempuan." Keluh Aldi.
"Iya juga sih, kau bikin aja penginapan, kayaknya kebun pak somad di belakang itu paman dengar dengar mau di jual deh, dia butuh uang anaknya sakit" ucap Pak Bayu.
"Coba deh Paman tanya, luas ngak paman"
"Klau luas sih ngak, paling cuma 150 meter deh" ucap Pak Diman.
Dan di anggukin oleh Pak Diman dan yang lain.
Pak Diman dan Bu Sri begitu bahagia anak angkat nya itu mulai mengepakkan sayapnya.
"Semoga kamu selalu bahagia nak" gumam Bu Sri berkaca kaca, melihat bontotnya itu.
"Di... Emang sudah tau yang punya tanah yang dekat kampus itu?" tanya Bima.
"Belum sih, Bang... Kan baru kepikiran, jadi belum sempat nanya nanya" ucap Aldi.
"Klau ngak salah, teman abang ada yang tinggal di daerah situ deh, nanti abang coba tanya, apa dia tau yang punya tanah di situ" tanya Bima.
__ADS_1
"Iya Bang, makasih ya" ucap Aldi sopan.
Lama mereka duduk duduk santai di gazebo itu sampai ngak sadar, istri cantiknya itu sudah tertidur pulang di samping Ines.
Gimana ngak pules, habis makan, kepala di kusuk kusuk sayang sama sang kaka, di tambah di terpa angin sepoi sepoi.
"Astagfirullah... "ucap Ines.
"Kenapa?" tanya yang lain.
"Noh... habis makan malah tidur" kekeh Ines.
"Biarin kak, kemaren sabtu dari pagi bantuin di Cafe sampai malam, ngak berenti berenti" ucap Aldi.
Aldi berjalan ke arah Aisyah, menggendong Aisyah masuk ke dalam rumah, untuk menidurkan istri cantiknya itu di kamar.
Semua keluarga sana melihat kepergian Aldi yang menggendong Asiyah dengan sayang.
"Aldi dewasa banget ya, bisa nyayaingin Aisyah gitu banget, sabar..." ucap Ines.
"Iya, makanya Ibu nyari orang buat bantu bantu, Aisyah ngak boleh ngapa apain, tuh anak semenjak nikah jadi manja" ucap Bi Wati terkekeh.
"Iya, klau di rumah, klau di Cafe sat set sat set, gesit banget bantu karyawan" celoteh Pak Bayu.
"Iya anak anak itu, bisa menempatkan diri" Ucap Pak Diman.
Dan di anggukin oleh yang lain.
Bersambung....
__ADS_1
Haii... jangan lupa like komen dan vote ya....
"Terimakasih..."