Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
bab 42


__ADS_3

Dan sekarang di sini lah, Aldi berada di ruang rawat isyah,


Aldi melihat kepala Aisyah yang terbalut perban, wajah yang biru biru, tangan yang lecet lecet, karena terseret di aspal, kaki kiri Aisyah yang terbungkus gips.


Sungguh dia sangat sedih, melihat gadis penolongnya dan sekaligus gadis yang telah membuat jantung berdegup kencang itu.


Aldi memegang tangan Aisyah sambil menatap pilu gadis itu.


"kenapa Ais menolong abang?, kenapa Ais mengorbankan diri Ais untuk abang? seharusnya Ais biarkan saja abang di sana, tidak perlu menolong abang, lihat lah sekarang, keadaan Ais sudah seperti ini" oceh Aldi.


"Lihat lah semua keluarga Ais sangat sedih melihat Ais seperti ini, seharusnya Ais biarkan saja abang di tabrak mobil itu, klau abang mati pun tak akan ada yang kehilangan , justru mereka menginginkan abang mati, tapi kenapa Ais menyelamatkan abang, hiks... hiks..." Aldi menangis melihat gadis cantik yang masih menutup mata itu.


Semua yang ada di luar, mendengar keluh kesah Aldi, mereka turut meneteskan air mata, apa lagi mereka tau yang ingin mencelakai Aldi memang keluarganya sendiri.


"Ais, tolong bangun, jangan diam aja, bangun Ais abang mohon!? klau Ais minta apa aja abang akan turuti, abang akan bertanggung jawab sama Ais, tolong bangun ya? hiks.. hiks..."


Di luar sana terbit lah senyum dari keluarga Aisyah, muncul lah ide di kepala pak Bayu, akan menjerat Aldi untuk menikahi Aisyah, dia percaya Aisyah dan Aldi akan bahagia klau hidup bersama.

__ADS_1


"Gimana kalau Aisyah sama Aldi kita nikahan saja" ucap pak Bayu.


"Tapi paman, Ais masih sekolah emang bisa untuk menikah sekarang?" ucap Bima bingung dengan ide pamannya itu.


"Ais sudah tujuh belas tahun lebih umurnya, dan enam bulan lagi juga dia sudah tamat sekolah, paman rasa bisa"


"Bagai mana ceritanya klau Ais akan nikah sekarang, sedangkan dia masih sekolah, yang ada Ais bisa di keluarkan dari sekolah paman!?" ucap Bima yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran pamannya itu.


"Kita akan menikahkan Ais, yang akan tau cuma kelurga kita, keluarga pak Diman dan kelurga orang tuanya Aldi saja"


"Trus pelaku tabrakan itu gimana? apa akan di bebaskan gitu aja?" sembur Bima lagi.


"Apa aja syaratnya"? tanya Bima balik.


"Yang pertama kita suruh saja Aldi pura pura minta tanggung jawab untuk menikahi Aisyah, agar mempermudah mengurus Aisyah" ucap Pak Diman.


"Tentu saja mereka akan senang dan tak akan menolak itu" ucap Bima yang tak mengerti dengan jalan pikiran pamannya itu.

__ADS_1


"Dengerin dulu paman ngomong sampai selesai! jadi jangan di potong dulu!!" ucap pak Bayu frustasi dari tadi omongannya di potong terus oleh Bima.


Pak Diman sudah tau jalan pikiran pak Bayu, dia terkekeh melihat pak Bayu yang frustasi itu.


"Yaaa.... ya.... lajut" ucap Bima ikut terkekeh melihat muka pamannya yang nelangsa itu.


Pak Diman lansung melanjutkan keinginan nya.


"Pertama kita akan minta Aldi menikahi Aisyah, sebagai tanggung jawab, yang kedua abangnya Aldi itu klau mau keluar dari penjara dia harus membayar uang pengobatan Aisyah sebesar tiga ratus juta.


Bima sudah mulai buka mulut, langsung tertutup lagi, gara gara mulutnya di bekap pak Bayu saking keselnya, klau dia ngomong di sela terus sama Bima, yang ada di sana semua terkekeh melihat tingkah pak Bayu.


"Uang itu bukan untuk pengobatan Aisyah, uangnya akan kita kasih ke Aldi, orang tuanya Aldi abis jual tanah, di jalan xx yang paman beli dan sekarang lagi tahap pembangunan cafe, Aldi ngak di kasih bagiannya sama keluarganya, jadi kita mamfaatin Aisyah aja dengan dalih pengobatan, padahal mah pengobatan Aisyah sudah di bayar asuransi" saut pak bayu, yang mana di anggukin orang yang ada di sana.


"Dan kita akan membuat perjanjian di atas materai, agar keluarga Aldi, tidak akan mengganggu Aldi lagi, klau dia masih mengganggu Aldi, mereka siap masuk penjara", ucapan pak Bayu, di sambut anggukan dan senyum puas oleh seluruh orang di sana.


Bersambung....

__ADS_1


"Terimakasih..."


__ADS_2