
Tak kalah jauh dengan penganten baru itu, di rumah dan di kamar Aisyah juga tak kalah mesranya Aldi yang tak henti hentinya mencium dan memeluk sang istri sambil mengusap usap perut buncit istri cantiknya.
"Capek sayang?" tanya Aldi kepada sang istri, dengan penuh perhatian.
"Pegal doang kakinya bang, padahal ngak pake sendal tinggi" kekeh Aisyah, Aisyah memang tidak di izinkan memakai sendal tinggi oleh sang suami, takut jatuh katanya, namun Aisyah memakai balok kayu yang sudah di sediakan oleh sang suami, membuat Aisyah dan ke luarganya terpingkal melihat kreatifnya calon Ayah itu.
"Sini abang pijit sayang?!" seru Aldi lansung duduk di depan kaki sang istri, dia memijit kaki putih mulus Aisyah itu dengan telaten, Aisyah menikmati pijatan sang suami, lama kelamaan dia lansung menutup mata, masuk kedalam dunia mimpi.
Setelah merasa cukup Aldi berhenti memijit kaki sang istri, dia menyelimuti istri cantiknya itu, dia tau sang istri sangat lah lelah, dan membiarkan istirahat sebentar, sebelum waktu magrib tiba.
Ceklek...
Aldi ke luar dari kamar, hendak menuju dapur ingin mengambil minum, tiba tiba langkahnya malah berbelok ke ruang tamu.
"Tumben gegoleran di sini bang?" tanya Aldi melihat Bian ada di ruang tv.
__ADS_1
"Males di rumah, nanti mata abang sakit melihat ke uwuwan penganti baru itu" kekeh Bian, Aldi pun ikut terkekeh.
"Ya udah sih, nanti nginap di sini aja, ajak Ibu, biarin tuh rumah di kuasai sama pengantin baru" kekeh Aldi.
"Ide cakep...!" Bian lansung mengacungkan dua jempol tangannya, sambil nyengir kuda.
"Ibu juga sudah niat tidur di sini, biarin aja tih orang jumpaliatan di rumah berdua" kekeh Bu Isni, yang baru masuk lewat pintu belakang.
"Ahahaha.... benar tuh bu, yuk sini bu, sini..." menepuk sofa yang dia sendiri, tanpa di minta dua kali sang ibu lansung saja berjalan ke tempat yang Bian pinta.
"Bu Isni lansung duduk di sofa itu, dia sebenarnya juga lelah, namun karena sebentar lagi magrib, memilih duduk di sofa ruang tengah itu.
Aldi hanya terkekeh melihat tingkah manja sang abang, namun kenyamanannya tidak berlangsung lama.
"Abang minggir Ais mau tidur di paha Ibu" ketus Aisyah, menarik tangan Bian agar menjauh dari Bu Isni.
__ADS_1
"Astaga... aku lupa kalau masih ada satu lagi biang rusuh" keluh Bian, dengan menatap nanar sang Ibu dan Aisyah sudah merebahkan kepalanya dengan nyaman di pangkuang sang Ibu, membuat Bian mengacak rambut fristasi, Aldi bukanya sedih dia malah terpikal senang, melihat tingkah abangnya itu.
"Jangan tertawa kau..." dengus Bian kesal dan beranjak ke kamar, untuk membersihkan diri dan berangkat ke mesjid, untuk sholat magrib berjamaah.
Aisyah dan Bu Isni juga ikutan terkekeh melihat tingkah Bian, yang menghentak hentakan kakinya seperti anak kecil.
"Kamu kenapa suk sekali membuat abang sewot dek" kekeh Aldi.
"Ngak tau, lucu aja gitu lihat wajah abang yang frustasi itu" ucap Aisyah terkekeh
Bu Isni hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah menantunya itu.
"Abang ke kamar dulu ya, mau ganti baju, abang mau ke mesjid, mau sholat magrib.
"Iya, apa mau Aisyah bantuin" tanya Aisyah
__ADS_1
"Ngak usah, adek istirahat saja di sana" tutur Aldi lembut, dam mengeluh kelap Aisyah dengan kasih.
Bersamamu..