Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 162


__ADS_3

Beberapa hari berlalu kaki dan tangan Citra sudah sembuh dan hari ini, adalah hari pertunanga Citra dan Bima, semenjak dua hari kemaren Bima sudah memaksa orang tuanya untuk melamar Citra.


Malam Ini Citra resmi menjadi tunangan Bima, dan besok pagi Bima dan Citra lansung mengurus daftar nikah kantor, yang membuat semua orang melongo dengan kelakuan Bima itu.


"Bim, kamu sebenarnya kenapa sih, kesambet, pengen buru buru aja" dumel Bi Wati.


"Ibu ada ada aja, anak pengen nikah, di bilang ke sambet, giliran anak santai santai aja, di suruh cari bini gimana sih" gerutu Bima ikutan sewot.


"Ya... ngak gitu juga bambang, mentang mentang di suruh nikah, lansung aja seruduk anak orang kek gitu" omel Bi Wati.


"Idihhh... si Ibu, masa anak ganteng kaya gini di katain Kebo, yang main seruduk itu kan kebo Bu..." dengus Bima tak terima.


"Bukan Kebo bang, tapi bandot tua hahaha...." celetuk Aisyah membuat orang orang ikutan ngakak dengan ucapan Aisyah itu.


"Astaga kalian kenapa jadi begini sih, heran deh, aku ini jadi laki laki serbah salah, ngak nikah salah, mau nikah juga salah" nelangsa Bima.


"Bodo amat...!!" ketus Bi Wati, membuat yang lain terkekeh.

__ADS_1


"Ini kalian acara lamaran kenapa jadi berantem sih" cetus Pak Farhan tak habis pikir melihat tingkah anak dan istrinya itu


"Jangan salahin ibu loh, pak. Salahin aja anak mu itu, yang ngak mikir, ya kali, lamaran dadakan, ngurus nikah juga dadakan lama lama kalah tahu bulat" kesal Bi Wati.


"Sudah lah... bu, biarin aja, kasih dia sudah tua, nanti olinya bisa kering klau kelamaan ngak di pake, kasian Citra, bisa bisa Citra cari oli yang baru" kekeh Pak Farhan.


"BAPAK....!!" kesal Bima di katain oli nya kering.


"Apa..." jawab Pak Farhan tanpa dosa.


Bu Isni, yang sudah terbiasa dengan orang orang itu, hanya terkekeh saja melihat kelakuan calon besarnya itu, besan ke dua maksudnya.


Citra yang di panggil Yang, sama Bima lansung aja mukanya bersemu merah, membuat Aisyah terkekeh.


"Cie..... yang blusingg....." goda Aisyah.


"Apa sih dek..." dengus Citra menahan malu.

__ADS_1


Yang lain hanya menahan tawa, sementara Bima sudah ngacir pulang duluan, mana ada ya, orang ngelamar kaya gitu, tapi buktinya ada itu Si Bima.


"Bim...waiii... Bima... kenapa pulang duluan, ngak sopan kamu, ngak di kasih restu sama Angga sama Aldi baru nyahok kamu!!" teriak Pak Farhan.


"Ngak akan Pak, secara mereka mau dapat kakak ipar yang ganteng dan mempesona kaya aku" teriak Bima dari luar.


"Kepedean kamu bang, habis berguru sama Pak Diman ya...." teriak Bian terkekeh.


Ines dan Sita terpelongo mendengar sautan dari abangnya itu, laki laki kaku itu kenapa bisa senarsis itu, biasanya kalem dan menjaga wibawanya, lah ini dia hari ini kenapa, habis ke pentok kah itu kepala sang abang.


"Ya sudah Bu kami pulang dulu, cemas kami itu anak kenapa" kekeh Bi Wati.


"Anak mu, telat puber Bu, jadi gitu kelakuannya" kekeh Pak Fathan, di sambut tawa rengayah keluarganya.


"Ya udah bu, makasih ini segala bawa bawa ginian" omel Bu Isni melihat seseharan dari Bi Wati, yang nanti ujung ujungnya akan dimakan bersama ke cuali Perhiasan, pakaian dan tas itu khusus untuk Citra.


Seluruh kekuarga Aisyah itu membubarkan diri termasuk Aisyah dan Aldi, yang hanya lompat pagar.

__ADS_1


Bersanbung.


__ADS_2