
Di sini lah Aldi berada, di taman depan yang di temani oleh istri cantiknya, sengaja Aldi ajak kedepan, takut anak tk itu aktif klau di suruh sendiri di dalam rumah, lebih aman dan tenang klau di ajak di depan biar kena udara pagi juga.
Aldi merapikan rumput jepang yang sudah mulai melebar kemana mana dan mencabuti rumput liar yang tumbuh di dalam pot bunga kesayangan sang istri, dan kebetulan di belakang ternyata ada kayu dan papan tidak terpakai, jadi lah Aldi membuat rak bunga, agar bunga tersusun rapi, dan menguras kolam ikan yang mana airnya sudah kotor, tidak lagi kelihatan ada ikan di dalam sana.
Aisyah hanya diam memperhatikan suaminya, yang bekerja cekatan dan serius.
"Beruntungnya gue, punya suami sudahlah penyayang, rajin bekerja dan taat agama, ngak nyesel gue nikah muda" gumamnya.
"Dek! lagi asik asiknya mengagumi sang suami, eh... malah di kejutkan dengan suara lembut suaminya itu, tau taunya suami sholehnya sudah berdiri di depan Aisyah.
"Apa abang?" balas Aisyah malu, pipinya sudah merona.
"Hayooo.... lagi mikir apa!" menatap Aisyah, sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih bang! ngak mikir apa apa!
abang mau apa manggil Ais" ucap Aisyah menutupi ke gugupanya.
"Ooohhh iya ... jadi lupa!" sambil menepuk jidatnya.
"Itu, abang lihat di belakang ada cat, boleh di pake ngak, nanti abang beliin lagi, sekarang matrial belom buka, jadi abang pake cat yang di belakang boleh?" tanya Aldi.
"Buat apa emang bang!" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Itu buat ngecat rak bunganya biar lebih bagus!" jawab Aldi sambil menunjuk rak bunga yang selesai di biat oleh Aldi.
"Pake aja bang?!" jawab Aisyah setelah tau kegunaannya buat apa.
Lagi asik asik bekerja Aldi di kagetin sama salam banyak orang, sontak dia terjengkit kaget.
Yang datang keluarga Pak Diman dan pak Bayu yang mau sarapan bareng, sekalian bawa kebutuhan pokok yang tadi Aldi mau beli, sehabis pulang dari mesjid tadi, Pak Bayu, dan Pak Farhan, cerita sama istri mereka, ya langsung aja tuh dua wanita super hiro itu gercep kepasar membeli segala sayuran, cabe, bawang dan teman temannya, tidak lupa ikan, ayam, dan daging mereka membeli kebutuhan untuk seminggu buat keponakan tercinta, karena rumah mereka memang dempetan yang agak terpisah cuma rumah Aisyah.
Pak Bayu dan Pak Farhan juga ngak mau kalah star dari sang istri, mereka berdua pergi ke warung Pak Bayu, mengambil segala macam persabunan, minyak beras, telor dan teman temannya, anak anak mereka hanya melongo melihat tingkah orang tuanya itu, walau selama ini memang begitu heboh klau sudah menyangkut Aisyah, sudah biasa, lah ini lebih luar bisa.
Setelah semua beres termasuk sarapan mereka bungkusin semua, baru pergi ke rumah Aisyah, seperti orang di usir dari rumah.
"Lah kalian semua ngapain? ngungsi?" tanya Aisyah bingung, karena melihat banyaknya barang bawaan keluarganya itu, Aldi juga ikut bingung ngeliat bawaan yang super banyak itu.
"Itu tuh gara gara ulah kamu!" ucap Bima.
"Lah.. kok gara gara aku, emang aku ngapain" ? bingung Aldi.
"Kamu tadi pagikan yang nanya warung sayur, trus bilang ngak ada persedian apa pun buat masak kan!" celetuk Bima.
"Iya, trus masalahnya di mana?" ucap Aldi yang masih bingung.
"Kamu bilang mau ke warung mau belanja, tapi takut ninggalin anak tk mu yang lagi aktif itu!", tunjuk Bima ke Aisyah.
__ADS_1
"Nah gara gara itu jadi lah mereka bawain stok makanan kalian noh... lihat!" tunjuk bima ke barang bawaan keluarga istrinya itu.
"Ya ampun ini salah ngomong kayaknya" gumam Aldi sambil menepuk jidatnya, trus menggelengkan kepala kediri dan kekanan.
"Kok abang bilang Ais anak tk aktif sih?" cemberut Aisyah.
"Ya apa namanya klau bukan anak tk aktif, baru janji akan patuh, klau selesai mandi panggil abang, tau taunya udah ada di kasur, apa namanya ngak aktif hmm...!" ucap Aldi lembut sambil mengkusuk rambut Aisyah.
"Tapi kan Ais udah bilang pengen belajar jalan, itu jugakan ngak napak kakinya!" sungut Aisyah.
"Iya kakinya ngak napak, tapi kamar mandi rada licin Aisya cantik, klau jatoh gimana?
tambah lama sakitnya, emang mau di kurung di rumah terus, emang ngak mau sekolah lagi
hmm...!?" nasehat Aldi kepada sang istri.
"Kan abang udah bilang, klau belajar jalan tunggu ada abang apa yang lainnya, klau Ais kenapa napa ada kami gercep!" jawab Aldi panjang lebar.
"Iya iya... Ais minta maaf, janji ngak gitu lagi?!" ucap Aisyah, merasa bersalah, matanya sudah berkaca kaca.
"Sudah ngak pa apa jangan nangis, tapi jangan di ulang lagi ya ?!" bujuk Aldi lembut.
Cara Aldi menanganin Aisayah di lihat oleh keluarga Aisyah, memberi tahu Aisyah tampa membentak atau memarahi Aisyah, klau di bilang umur Aldi juga masih muda, baru delapan belas tahun mau ke sembilan belas tahun, hidup dari keluarga yang tak menerimanya, sering mendapatkan perlakuan kasar dari keluarganya, tapi mampu bersikap lembut sama sang istri, tidak melakukan hal kasar sama sekali, itu membuat mereka bangga, dan semangkin tumbuh rasa sayang keluarga Aisyah itu kepada Aldi.
__ADS_1
Bersambung....