Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 120


__ADS_3

Sepanjang jalan pulang dan saat sampai di rumah pun bibir Aldi tetap mengukir senyum, segitu bahagianya dia bisa bermain bersama Kakak dan abangnya.


Aisyah yang melihat suaminya itu tersenyum senang, tentulah dia ikutan senang, karena apa yang di impikan suaminya tercapai.


"Peluk sini sayang..." ucap Aldi saat mereka sudah di atas kasur, yang masih mengulum senyum manis.


"Cieee ... yang lagi senang, bisa main sama kakak dan abangnya" goda Aisyah.


Aldi hanya tersenyum, dia tau istrinya itu sedang menggoda dirinya.


"Iya abang senang banget... kegiatan tadi sudah abang tunggu sejak lama, akhirnya datang juga, padahal abang sudah pasrah dan tidak berharap lagi, namun tuhan memberikannya sekarang" ucap Aldi sambil membelai rambut istrinya.


"Aisyah.... senang lihat abang senang, mungkin klau Ais punya kakak atau adik mungkin kayak gitu juga kali ya... tapi sayang Ais hanya terlahir jadi anak tunggul" keluh Aisyah.


Aldi mengeratkan pelukannya kepada sang istri.


"Tapi kan Ais punya kak ines, kak Sita, Kak Andin dan Bang Bima yang sayang banget sama Ais" bujuk Aldi.


"Iya... mereka sangat menyayangi Ais dari kecil, walau Ais suka di manja sama bibi dan paman mereka tidak pernah marah sama Ais" curhat Aisyah.


Aldi mengangguk tanda percaya, ya percayalah, terbukti sekarang dia juga di sayang sama kakak dan abang Sepupu Aisyah itu.

__ADS_1


"Dek..." panggil Aldi ragu ragu.


"Apa abang...."


"Klau sesekali abang ajak Kak Ines sama Bang Bian makan di sini boleh" ucap Aldi ragu ragu, takut istrinya marah.


"Boleh lah... silahkan ajak mereka, mereka saudaranya abang, otomatis juga saudara Ais, tapi mereka harus ingat, jangan pernah sakitin abang, klau sampai mereka sakitin abang lagi, lihat saja Ais goreng mereka hidup hidup, trus Ais bagi bagi dagingnya sama guguk jalanan" ancam Aisyah.


Aldi ada rasa senang kepada sang istri, yang selalu jadi garda terdepan melindunginya dan tidak ingin dia di sakiti oleh orang lain, dan bergidik ngeri dengan ucapan sang istri.


Bagaimana tidak gadis lemah lembut itu bisa jadi garang saat miliknya merasa terganggu, tentulah dia bisa jadi singa betina sewaktu waktu.


Di tempat lain,


"Dari mana kalalian berdua, kok jam segini baru pulang, trus kenapa kalian bisa barengan?" tanya Angga bertubi tubi.


"Kami habis main ke pasar malam, tadi aku jemput kak Citra ke kantornya" jawab Bian.


"Tumben kalia ke pasar malam segala, sudah kayak masa kecil kurang bahagia" cibir Angga.


"Biarin yang penting kami happy" sewot Citra.

__ADS_1


"Idih... gitu aja ngambek"


Citra berlalu masuk ke dalam rumah.


"Kok kamu baru pulang Cit" tanya Ibunya yang sedang duduk santai di ruang tamu sambil nonton tv.


"Iya... tadi abis main sama Bian ke pasar malam"


"Tumben kalian bisa barengan?" aneh Ibunya.


"Di jemput Bian tadi ke kantor, trus di ajak main, ya udah ikut aja, udah lama juga ngak ke luar, sesekali lah... main mumpung besok minggu" jawab Citra panjang lebar, memberi alasan.


Ibunya cuma ngengangguk tanda mengerti.


"Ya sudah bu... aku masuk dulu, mau bersih bersih"


"Ya sudah sana..." usir Ibunya yang kembali fokus sama acara di televisi.


Citra lansung menghambur ke atas kasur, membayangkan acara betapa dia sengat senang menghabiskan waktu bersama adiknya itu, ada kepikiran buat Citra mengajak Aldi, Bian dan Aisyah untuk liburan bareng, tapi... nanti lah setelah keadaan lebih baik lagi pikir Citra.


Dia beranjak ke kamar mandi, ingin membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2