Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 174


__ADS_3

Baru selesai dengan drama gule ikan mas, Citra kembali membuat dua gadis cantik ketar ketir.


"Haaiiissss.... kenapa abang yang nanam benih kita semua yang susah!" kesal Ines, tentu saja dia hanya bisa menggerutu di belakang Citra.


Ibu ibu dan Bapak bapak hanya bisa terkekeh dan sabar mengikuti kehamilan Citra yang usil itu, belum juga berbentuk sudah usil, apa lagi klau sudah lahir.


"Sudahlah... buruan kalian cari, dari pada nanti kalian dengar tangisan bumil itu!" titah Bu Ineke.


"Lagian ya bu, minta Cilok ya cilok aja, ngak usah segala, harus yang jual, kepala botak, pake kumis, perut buncit segala, kita mau cari kemana coba" frustasi Ines.


"Kalian belum berangkat, apa kalian ngak mau nyariin? Ya udah deh, aku cari sendiri aja" putus Citra yang mulai merajuk, membuat dua gadis itu kelabakan, entah dari mana itu si bumil tiba tiba sudah berdiri aja di samping mereka.


"Astaga... ini kita mau berangkat, tadi ada yang ketinggalan makannya balik lagi, bukan ngak pergi, udah jalan kok tadi" ujar Sita mencari alasan.


"Ya udah klau gitu, jalan sana" usir Citra tanpa dosa, kepada kedua adik iparnya itu.


"Iya kak, kami jalan, sudah sana kakak masuk" tutur Ines, dan naik ke atas motor metic berboncengan dengan Sita.

__ADS_1


"Huff... untung kaka ipar, hamil anak abang gue, kalau kagak gue karungin loe!" gerutu Ines dan masih di dengar oleh Sita, alhasil pecah lah tawa Sita mendengar gerutuan Ines itu.


"Buru jalan ih... ntar dia keluar lagi, bikin drama lagi" sungut Ines.


"Siap bosku...." kekeh Sita, dan akhirnya ke dua gadis itu pergi mengelilingi daerah tempat tinggal sampai ke alun alun demi sebuah cilok abang abang botak berkumis dan berperut buncit.


"Ya tuhan... sudah sejauh ini kita jalan dan sudah habis bensin motor gue, abang abang cilok perut buncit itu belum ada juga" frustasi Sita.


"Tau bakal di kerjain gini, mending kemaren ikutan lembur deh" keluh Sita lagi.


"Udah jangan ngeluh, yang penting kita bisa kulineran dari tadi kita jajan mulu, gratis pula, kan kita pake uang bang Bima" kekeh Ines.


Dan di rumah sana Citra kembali mengerjai sang suami, dan untung kali ini suaminya sendiri yang di kerjai bukan orang lain.


Bima di suruh memotong rumput memakai gunting kecil, kapan kelarnya coba, membuat yang tadi nya berkumpul bubar satu satu, bukan karena takut, dan bukan juga karena tega, cuma tidak tahan ingin menyemburkan tawa mereka melihat penderitaan Bima, di siang hari bolong di suruh memotong rumput dengan gunting kecil.


Keluarga besar itu, antara kasihan dan antara lucu, dan akhirnya tanpa di komando menyemburkan tawa, karena sudah tidak tahan melihat Bima di siksa.

__ADS_1


"Biasanya suka nyiksa anak buah, sekarang rasain di siksa cebong sendiri" kekeh Pak Diman.


Bima hanya mendelik kesal mendengar ledekan Pak Diman itu.


"Saya do'ain besok Bapak di siksa lagi sama anak aku, bukan hanya di suruh joget poco poco tapi mandi di got" gerutu Bima.


"Haii... kau pikir aku anggota mu" dengus Pak Diman tak terima.


Bima hanya menaikan bahunya acuh, sambil menggunting rumput.


"Dek, sudah ya dek... capek abang, ngak kasihan ini badan abang jadi gosong" keluh Bima.


"Nanti klau Sita sama Ines sudah datang baru abang selesai potong rumput, abis aku kesal sama mereka kenapa lama sekali beli ciloknya, jadi dari pada aku marah marah mending liat abang motong rumput aja, kan enak" jawab Citra tanpa dosa.


"Apaaa...? jadi kamu hukum abang karena nungguin Ines sama Sita pulang lama?" tanya Bima kaget dan tidak percaya, gara gara adiknya lama malah dia yang di hukum.


Buahahahaha.... pecah sudah tawa orang orang itu, dari ke jauhan masih mendengar sayup sayup pembicaraan suami istri itu.

__ADS_1


Citra hanya mengangguk santai


Bersambung....


__ADS_2