Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Ban 168


__ADS_3

"Sayang... kenapa Ibu dan Bima tidur di rumah Aisyah?" tanya Bima kepada Citra saat mereka baru masuk ke dalam rumah Bu Isni, Bima lansung memeluk Citra dari belakang.


"Ngak tau, katanya males pulang, sudah lelah jalannya" jawab jujur Citra memang itu alasan ke dua Ibu dan Anak itu.


"Ncek bilang saja neraka memberi kesempatan buat kita melakukan malam pertama, dan ngak mau terganggu dengan suara merdu kita nanti" kekeh Bima sambil berbisik di telingan sang istri, tidak hanya itu dia juga menjilat kuping Citra dan tangan sudah berkelana kemana mana, membuat Citra menggelinjang dan dan menggit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara.


Melihat reaksi sang istri membuat Bima tersenyum puas, tanpa aba aba dan tanpa malu Bima lansung membuka satu persatu baju Citra di ruangan itu tanpa sungkan sedikit pun, dia tau tidak akan ada menganggu acaranya malam ini, dan tidak akan ada yang akan bertamu ke sini.


"Bang... ini masih di luar, belum di kamar" de**h Citra menahan tangan sang suami yang melucuti pembungkus gunung himalayanya.


"Emang kenapa, ngak ada orang ini, kita pemanasan dulu di sini" kekeh Bima dengan mata mesumnya, membuat sang istri mencibik kesal.


Namun itu tidak lama, Bima lansung membungkam bibir sang istri dengan mulutnya, dan mendorong tubuh istrinya ke arah sofa secara perlahan, dan mendudukan Citra di sana, baju merakan sudah berserakan di mana mana, kini tinggal tubuh toples pengantin baru itu.

__ADS_1


Mata Bima menatap takjub tubuh toples sang istri dengan tatapan laparnya, membuat Citra malu alang kepalang, Citra ingin menutup buah dada dan hutan belantaranya dengan tangan, namun Bima buru buru menyingkirkan tangan itu.


"Jangan di tutup abang sedang melihat ke indahan istri abang" ucap Bima dengan suara serak nya dan mata mulai sayu.


"Tapi aku malu" ucap Citra dengan muka yang sudah merah merona, membuat Bima terkekeh,


"Kenapa harus malu, kita sudah suami istri, kamu milik abang begitupun sebaliknya, kita sudah halal" ujar Bima dan tangan nakalnya menangkup buah kenyal yang menantang di depannya, dan ******* ***** lembut buah itu bagaikan squisy, dan menyedot tonjolan berwarna merah muda itu dengan rakus, tangan yang satunya sedang bergerilya menelusuri hutan belantara dan satu jarinya sudah masuk ke dalam goa yang masih kekurangan aliran air, dia mencoba membuat goa itu mengeluarkan sumber mata airnya, jari tengah Bima dengan lincah maju mundur untuk membuat mata air itu ke luar.


Selanjutnya silahkan berhayal hehehe...


"Ya ampun... itu pengantin baru ngak keluar keluar?" tanya Pak Diman yang pagi pagi sudah bertandang ke rumah Aisyah bersama anak menantu dan cucunya.


Semalam cucunya merengek mau sama paman kecilnya, tapi Pak Diman memilih membawa mereka pulang, dia yakin Bu Isni dan Bian akan mengungsi di rumah Aisyah.

__ADS_1


Pagi pagi sekali setelah sholat shubuh sang cucu sudah merengek minta di anter ke rumah paman kecil, mau main di kolam ikan katanya, mau tak mau mereka lansung ke rumah Aisyah.


"Biasalah Pak... namanya juga pengantin baru, pasti masih hot hotnya" kekeh Bian.


"Ncek... bocah sok tau anda, pacar aja lom punya sudah seperti orang berpengalaman aja kamu" cibir Pak Diman.


Membuat Bian mendengus kesal, di ledek sama Pak Diman.


"Aku lagi nunggu Lani Pak" jawab Bian terkekeh mengingat tingkah lucu ponakan Bima itu.


"Om ganteng...." belum juga mingkem mulut Bian sudah terdengar suara cempreng gadis kecil itu dari dalam rumah, karena sekarang mereka memang sedang menikmati hati di taman belakang.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vite ya...


__ADS_2