
"Kalian akan tinggal dimana setelah ini, bukan maksud kami mengusir kalian hanya sekedar bertanya, mau di rumah Citra ok, di rumah apa lagi" tanya Pak Burha.
"Bima kami bolak balik aja Pak, lagian dekat juga, pengenya tinggal di rumah dinas, tapi kasian klau aku piket atau dinas luar, Citra bakal sendiri disana, jadi kami bakal tinggal di sini aja" putus Bima.
"Ini rumah sebelah mau di jual kayanya, pak Imron mau pulang kampung katanya, soalnya anak anak mereka juga sudah pada misah misah, dan di kampung ada orang tua pak imron yang sudah sepuh, ngak ada yang merawatnya, jadi Pak Imron mau jual rumahnya" tutur Pak Diman, yang tadi pagi sempat bertemu dengan tetangga Aisyah itu.
"Aaa... bagus itu, abang ambil rumah itu aja, nanti Ais tambahin uangnya, kebetulan kemarena belum jadi beli kado, bingung soalnya" ucap Aisyah.
"Ais, sudah bilang sama Aldi, walau itu uang Ais, tetap izin sama suami nak" tegur Pak Diman.
"Sudah Paman, Ais, sudah izin sama Aldi, mau ngasih kado abang sama kak Citra jadi kami belum sempat beli, nah karena ada rumah yang mau di jual ngak jauh juga dari kita, malah sebelahan, ya udah kita patungan aja belinya" putus Aldi.
Citra seketika terharu mendengar ucapan adik dan adik iparnya, begitu dewasa memikirkan segala hal, yang lain ikut mengembangkan senyum, mendengar penuturan Aldi.
"Baik lah, kami juga ikut patungan, kemaren saat Aisyah sama Aldi nikah, Paman kasih mobil, tadi niatnya Paman mau kasih mobil juga buat kalian, tapi mendengar ucapan Aisyah dan Aldi, Paman ikut patungan aja, lagian mobil di sini, di rumah dan rumah mu sudah bejibun lebih baik beli rumah itu saja, nanti isi kampung ini sodara semua" kekeh Pak Farhan.
"Ok, saya juga setuju kalau gitu saya ikut nyumbang amplop isinya istri dan anak dan mantu saya saja" jawab Pak Diman sok serius, yang ujung ujungnya gumbrak, bikin istri dan anaknya naik darah.
Sering sering aja Pak, kasih amplop kosong, kemaren nikahan Aldi sama Aisyah juga cuma nyumbang amplop" dengus Aldi kesal.
"Biarin aja Di, masih untung sadar diri pake nyumbang, klau tangan kosong datang ke undangan, kan kebangetan banget, walau pun yang hajat rugi banyak, tapi Pak Diman masih ngeluarin uang seribu buat beli amplop" oceh Bima.
"Saya ngak ngeluarin uang, saya cuma minta sama tetangga, kebetulan kemaren lihat Bu Tini beli amplop banyak, jadi saya minta satu" jawab Pak Diman tanpa dosa.
__ADS_1
"Astaga.... Bu kenapa Ibu ngak jadi tukar tambah Bapak Sih bu... emang Ibu ngak capek tiap hari ngadepin orang kek Bapak" keluh Aldi, menatap nanar sang Ibu angkat.
"Pengennya sih gitu, tapi sayang si duda sudah nikah sama gadis perawan, Ibu kalah strat Di" ucap Bu Sri pura pura sedih.
Buahahaha....
Pecah sudah tawa keluarga itu, melihat wajah kesal Pak Diman dan mendengar lawakan Bu Sri.
Anak anak Pak Diman hanya menutup muka malu, melihat tingkah sang bapak.
"Sudah sudah balik lagi ke topik" ucap Pak Diman, yang masih terkekeh.
"Jadi gimana Bim, Cit, apa kalian setuju usulan ini?" tanya Pak Diman.
"Ya sudah, besok bapak lansung nego sama Pak Imran" ucap Pak Bayu.
"Kami Dua tahun lagi, juga pindah ke sini kok, kami sudah ngajuin surat pindah, dari tahun kemaren, kalian tau sendiri, susahnya klau dari daerah pindah ke kota" jawab Abang iparnya itu.
"Iya rencananya, kakak juga mau buka praktek di rumah aja nanti klau sudah pindah ke sini" tutur Andin.
"Alhamdulillah... kita kumpul semua lagi" girang Aisyah.
"Kalian ngak mau pindah ke sini juga, Bapak sama Ibu juga ingin kalian pindah ke sini, apa lagi kami sudah tua kek gini" sendu Pak Diman, membuat anak mantunya juga terenyuh.
__ADS_1
Aldi lansung memeluk Pak Diman dan Bu Sri, dia tau Pak Diman dan Bu Sri ke sepian, makanya mereka selalu menghabiskan waktu di rumah Aisyah dan Aldi.
"Bapak sama Ibu tinggal di sini aja, biar ngak kesepian di rumah, lagian klau kakak sama abang belum bisa pindah secepat itu, jadi kalian pindah ke sini aja sama kami" putus Aldi.
"Iya Bapak sama Ibu Pindah ke sini aja, jadi pas Ais lahiran kan ada Bapak Sama Ibu yang jagain anak Aisyah, ya mana tau pas lahir ini anak jadi dua, soalnya perut Ais gede banget" kekeh Ais, membujuk Pak Diman.
Membuat hati anak dan mantu Pak Diman terharu dengan sepasang suami istri muda itu.
"Kami akan ngajuin surat pindah juga Pak, Bu, mudah mudahan di acc, ya walau ngak lambat sih prosesnya" putus Menantu Pak Diman, memang menantunya itu hanya sebatang kara, anak panti asuhan, jadi dia hanya punya orang tua itu ya Pak Diman dan Bu Sri, dia ngak ingin orang tua istrinya kesepian, apa lagi setelah mereka masuk ke dalam ke luarga besar Aisyah ini, yang penuh kehangatan dan tidak membeda bedakan kasta.
"Benar kah mas?" teriak sang istri penuh Binar dia memang memikirkan ke adaan orang tuanya yang sudah tua, klau dia mah gampang kerja di perusahaan swasta bisa risen, walau susah dapat kerja lagi di kota, tapi ngak masalah, asal dekat dengan orang tuanya, dan masih ada usaha orang tuanya yang akan dia kelola nantinya.
Suaminya hanya mengangguk dan tersenyum, melihat wajah bahagia sang istri, dia menyesal kenapa ngak dari dulu minta pindah ke sini, klau reaksi sang istri dan mertuanya sebahagia ini
"Makasih mas, makasih nak" ucap sang istri,Pak Diman dan Bu Sri memeluk sang menantu dengan erat.
Semua yang di sana ikut terharu melihat itu semua.
"Sepertinya kita sudah tidak di anggap dek" keluh Aldi pura pura sedih dan merebahkan kepala di bahu sang istri.
"Haii... bocah tengil, kemari kalian" sewot Pak Diman, akhirnya mereka bagai teletubis, berpelukaannn....
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote ya....