
"Bu... apa apaan kamu... aku ngak akan menceraikan kamu, karena kamu istriku, dan apa susahnya sih... kamu menerima Dewi, dia juga istri ku, aku mencintai kamu juga Bu...?!" keluh Pak Burhan tidak tau diri.
"Tau Ibu ini, apa susahnya menerima Ibu aku di rumah ini, aku juga berhak loh... atas rumah ini, dari ketiga anak anak ibu itu, aku yang duluan masuk ke rumah ini baru mereka ada!!" sungut Angga tidak tau malu.
"Ncek... mencintaiku atau harta ku....!!" teriak Bu Isni menggebu, dasar anak sama bapak tak tau diri itu.
"Dan kamu...!! tunjuk Bu Isni ke arah Angga, kamu berada di sini karena bapak kamu itu yang memohon mohon kepada saya, dan bersumpah tidak akan menemui ibu mu lagi, namun bodohnya saya, saya percaya dengan ucapan dan janji palsunya, satu lagi saya kasih tau kamu! klau ayah mu itu tidak mempunyai harta satu pun juga, di sini di rumah ini ayah mu itu hanya bermodal burung perkututnya saja asal kamu tau, selebihnya tidak ada, bahkan dia bekerja di perusahaan keluarga saya, bergaya ingin punya istri dua, keluar kalian dari rumah saya, dan kamu Angga, karena dulu aku menyayangi mu dengan tulus, dan kamu dengan tidak tau malu, menghasut saya untuk membenci anak kandung saya dan akhirnya saya ikut mengusir dia dari rumah ini tanpa harta satu persenpun, dan sekarang kamu juga akan merasakan apa yang anak saya rasakan! sekarang keluar kalian dari rumah ini! sebelum saya panggil satpam untuk mengusir kalian...!!" teriak Bu Isni.
Wajah Pak Burhan lansung memerah malu. mendengar hinaan yang di lontarkan oleh Bu Isni, Angga panik, takut dia akan menjadi gembel dan tidak mempunyai apa apa, setelah keluar dari rumah Ibu tirinya itu.
"Bu... jangan gini Bu... biarkan kami tinggal di sini, ngak apa apa mama saya tinggal jauh dari saya, asalkan saya masih tinggal di sini?!" mohon Angga tidak tau malu.
"Ayo lah Bu... aku juga tidak akan menemui Dewi lagi asal aku juga bisa tinggal di rumah ini" bujuk Pak Burhan.
Citra dan Bian menggeleng emosi melihat kelakuan manusia biadab itu, dan dengan tidak sabarnya dia melihat ke dua laki laki itu keluar dari rumahnya, Bian lansung menyeret mereka keluar dari dalam rumah dan tanpa ampun Bian lansung melemper bapak dan anak itu sampai jatuh tersungkur, mungkin karena emosi tinggi tenaga Bian naik berkali kali lipat, dua laki laki dewasa dengan badan lumayan besar bisa dia lempar tanpa ampun.
"Keluar kalian dari sini..!! dulu Aldi keluar masih membawa pakaiannya, karena hasil keringat dia sendiri, klau kalian keluar dari sini, tanpa membawa apa pun, karena yang kalian pakai harta ibuku, jadi pergilah dari sini dengan tangan kosong!!" bentak Bian.
Bian masuk ke dalam rumah dan mengunci seluruh pintu dan jendela rumah itu di bantu dengan Citra, agar dua laki laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Bu Isni lansung jatuh tersungkur menangis tergugu, dengan penghianatan suaminya itu dan mengingat Aldi anak yang dia sakiti.
"Hua..... aa... aa... dasar laki laki biadab!!"
Hiks....
Hiks...
Hiks....
Hanya tangis yang mewakili perasaan Bu Isni saat ini, dia tidak mampu berkata kata.
"Sudah Bu.. janga di tangisi lagi, biarkan saja orang orang itu, ngak guna Ibu menangisi mereka, ngak ada untungnya, mereka paling sekarang lagi senang senang sama keluarga mereka" ujar Bian, dia benci klau Ibunya menangisi Ayah dan Angga.
"Ibu tidak menangisi laki laki biadab itu, Ibu menyesal telah menyia nyiakan adik kalian hiks.... hiks... hiks... Aldi......" jerit Bu Isni.
"Bawa Ibu ke rumah adik mu, Ibu mohon... Ibu ingin minta maaf sama dia, Ibu menyesal... hiks... hiks.... Aldiiii....." jerit Bu Isni membuat Citra dan Bian ikut menangis.
"Iya Bu.. nanti kita akan ke rumah Aldi, tapi kita urus dulu laki laki licik ini, klau Ibu ngak bergerak cepat takut mereka mendahului Ibu?!" cecar Citra yang tidak mau hartanya sepeserpun jatuh ke tangan Bapak dan Angga.
__ADS_1
Tidak sudi Citra rasanya, klau harta ibunya masih di makan oleh ke dua banjingan itu.
"Ah... iya kamu benar, kita harus gerak cepat!!" seru Bu Isni, gegas dia menelpon seseorang, dan meminta pengacara keluarganya untuk mengurus surat perceraian.
"Temanin Ibu ke bank, ibu mau menarok surat surat berharga kita di sana, Ibu tidak yakin surat surat ini di rumah, bisa saja mereka nekat dan mencurinya" ucap Bu Isni.
"Iya Bu.. kami akan menemani Ibu" ucap Citra dan di anggukin oleh Bian.
"Satu lagi, tolong kamu blokir ATM ayah mu dan Angga, jual mobil dan motor Angga dan Bapak mu itu sekarang juga" titah Bu Isni yang memang tidak ingin sedikit pun hartanya di kuasai oleh Pak Burhan.
Bian lansung bergerak cepat, dan menelpon temanya yang bekerja di sworoom mobil dan motor, tanpa ba bi bu Bu Isni memang lansung memiskan suami biadapnya itu.
"Cit... tolong kamu keluarkan barang barang mereka, yang bisa di jual kita jual, pakaian yang masih bisa di pakai, kasih sama orang yang membutuhkan, kamu ajak Bi sum sama mang dadang untuk membongkarnya!" titah Bu Isni sadis.
Citra hanya mengangguk patuh, dan memanggil Bi Sum dan mang Dadang.
Hari itu juga, semua urusan Pak Burhan dan Angga lansung di musnahkan oleh Bu Isni, Citra dan Bian.
Tetangga yang mendapat barang barang Angga dan Pak Burhan bersorak gembira, karena pakaian mereka barang barang bagus, ya pasti harga mahal, melihat ke bahagian tetangganya, Bu Isni yang tadinya ingin menjual jam tangan dan cincin akik Angga dan Pak Burhan yang lumayan banyak malah di bagi bagiin tanpa sisa, tentu saja warga semakin senang.
__ADS_1
Bersambung...