Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 149


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu kehidupan Aldi semakin bahagia karena dia dan ibunya sudah berbaikan, bahkan semenjak ke jadian itu Bu Isni tidak pernah absen menelponnya, menanyakan keadaan dia dan Aisyah tidak lupa menanyakan kandungan Aisyah.


"Huuu... pengennya rumah dekatan sama rumah Aisyah aja tau bu..." cemberut Citra, karena dia memang sudah sangat dekat dengan adik iparnya itu.


"Benar Bu... tinggal dekat sama Aldi dan Aisyah kek nya enak deh, bakal betah di rumah" kekeh Bian mengompori.


"Betah di rumah sendiri apa betah di rumah Aisyah" cibir Bu Isni kepada ke dua anaknya.


Hahahaha.....


Bian dan Citra kompak tertawa, modusnya ketahuan yang ngak ingin pisah sama adiknya itu.


"Rencananya sih, ibu mau jual rumah ini kok" tutur Bu Isni tanpa beban.


"Haaa.... serius Bu..." pekik Bian dan Citra, dan di anggukin oleh Bu isni, yang memang ingin menjual rumah itu.

__ADS_1


"Kenapa tiba tiba Ibu mau jual rumah ini?" tanya Bian bingung.


"Huuhh... sudah ngak betah Ibu tinggal di sini, apa lagi Angga dan Bapakmu itu suka sekali datang ke sini dengan berbagai alasan, dan minta kembali tinggal di sini, dan memohon mohon suruh cabut surat cerai di pengadilan, belum lagi istri siri Bapakmu memaksa ibu memberi harta gono gini, karena ada hak anaknya di sini, gila memang, dia pikir ini rumah lakinya yang beliin, dia pikir harta Ibu dari lakinya!!" sungut Bu Isni kesal.


"What.... parah parah, dasar keluarga benalu, ngak waras, sudah bikin hubungan kita hancur dengan Aldi, dan berkhianat di belakang ibu, dan sekarang dengan tidak tau diri ingin tinggal di sini lagi, aku sih ogah banget bu, klau sampai mereka kembali ke rumah ini, lebih baik aku yang keluar, males akunya hidup bersama orang orang munafik tidak tau diri itu!" dengus Citra tidak terima.


"Apa Bu... perempuan itu minta harta sama Ibu, hahaha.... apa dia masih waras Bu, Bian geleng geleng kepala, sudah tidak berperasaan membuang anaknya, di besarkan oleh Ibu dan setelah anaknya sukses muncul kehadapan anaknya mengaku klau dia ibu kandungnya, sedikit pun dia tidak andil membesarkan anaknya, dan sekarang minta hak anaknya, hak apaan hahaha..." Bian tertawa keras mendengar kelakuan Dewi yang tidak tau malu itu, pantas Angga sifatnya seperti itu, ternyata turunan orang tuanya yang tidak tau.


"Hmmm... bagai mana menurut kalian, klau ibu jual rumah ini, rumah penuh kesedihan buat Aldi, rumah yang penuh luka buat bontot ibu, luka Ibu membesarkan anak selingkuhan dari suami Ibu, dan luka penghianatannya yang di berikan oleh Bapak kalian, apa boleh Ibu menjual rumah ini?" tanya Bu Isni kepada ke dua anaknya.


"Bian ikut aja Bu, Bian juga ingin suatu saat Aldi dan Aisyah nginap di rumah kita membawa ponakan ponakannya aku, klau untuk datang ke sini itu ngak mungkin, akan membuka luka lama buat Aldi" Bian memberi pendapat.


"Itu juga yang ibu fikirkan, makanya selama ini. Ibu tidak pernah menyuruh mereka datang kerumah kita, karena Ibu tau Aldi pasti tidak nyaman untuk berada di rumah ini, jadi kalian setuju kan klau Ibu jual rumah ini?" tanya Bu Isni.


"Setuju bu, tapi nanti kita beli rumah dekat rumah Aisyah aja ya bu, jangan jauh jauh dari mereka" rayu Citra.

__ADS_1


"Iya iya, itu juga sudah Ibu fikirkan, karena ibu juga ingin merawat cucu ibu, apa lagi Aisyah sama Aldi kan masih sibuk kuliah dan mengurus Cafe, biar nanti ibu yang merawat cucu ibu, hitung hitung penebus rasa bersalah ibu" ucap Bu Isni sendu. Citra dan Bian lansung memeluk Bu Isni tanpa kata.


"Nanti aku bantu masarin rumah ini dan sekalian nyari rumah di dekat rumah Aisyah" tutur Bian sambil memeluk sang Ibu.


"Ngak perlu, teman Ibu ada yang mau beli rumah ini, dia akan datang dua minggu lagi dari luar kota, kebetulan anaknya pindah tugas kesini, dan rumah Ibu sudah dapat kok, pas di samping rumah Aisyah banget, rumah itu di jual, tapi ngak sebesar rumah ini sih, tapi cukup lah buat kita, nanti kita bisa bikin pintu samping yang bisa lansung tembus ke rumah Aisyah" tutut Bu Isni.


"Waahhh.... ngak nyangka aku, ternyata Ibu sudah memikirkan dengan matang" kekeh Bian.


"Iya dong, kebetulan kemaren ibu ikut arisan, trus dengar ada yang cari rumah ya sudah ibu tawarin aja rumah kita, Ibu iseng iseng ibu kirim foto foto rumah kita ke teman ibu itu, ehh... dia suka, ya sudah ibu jual saja harganya sudah cocok kok" kekeh Bu Isni.


Citra dan Bian hanya mengangguk anggukan kepalanya.


Bersambung...


jangan lupa like komen dan vote ya....

__ADS_1


__ADS_2