Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 148


__ADS_3

Di rumah Aisyah penuh kecerian, canda tawa termasuk Bu Isni dari tadi tidak henti hentinya tertawa sampai tiap sebentar mengusap air mata, bukan air mata sedih lagi tapi sudah berganti dengan air mata bahagia, dan tawa kegelian dengan bayolan bayolan yang di lontarkan oleh siapa lagi dalangnya, klau bukan Pak Diman, Aisyah , Aldi dan sekarang tambah personil Bian semakin kompak mereka menggelitik perut keluarganya untuk tertawa.


Jauh berbeda di tempat Ibu kandung Angga, terjadi keributan yang di sebabkan oleh Mama kandung Angga yang tidak terima hidupnya jatuh miskin, tidak mempunyai apa apa lagi.


"Ma... kenapa mama jadi marah marah kayak gini sih, harusnya mama bersyukur dong kita ngak harus sembunyi sembunyi dan tidak was was lagi untuk bertemu, karena semuanya sudah tau klau mama adalah mama kandung aku" ucap Buan


menenangkan sang mama.


"Ncek... pd sekali kamu! apa dengan bertemu tanpa ada harta kita bisa bahagia, apa makan dan shoping bisa di bayar dengan kata cinta dan kebersamaan seperti apa yang kamu mau, aku sih.. ogah ketemu kalian klau ngak ada harta!" ketus Bu Dewi.

__ADS_1


"Harta bisa kita cari bareng bareng Ma, asal kita bisa hidup bersama seperti yang aku impikan Ma..." melas Angga.


"Haii... jangan mimpi kamu, klau bukan karena uang, dan harta yang kalian berikan selama ini sama saya, mana mau saya hidup bersama kalian, buktinya saja kamu baru lahir saya tidak mau mengurus kamu, karena Papa mu itu miskin ngak punya apa apa, saya sengaja berikan kamu kepada papa kamu, biar dia urus kamu sama istrinya yang banyak harta itu, saya memilih hidup senang senang di luar sana, setelah saya tau Papa mu itu mulai berjaya, saya kembali hadir dan mengaku saya masih mencitai dirinya dan merindukan kamu, agar saya bisa menikmati harta papamu klau bukan karna harta mana sudi saya kembali kepada papamu, dan menemui kamu!" tutur bu Dewi memberi pengakuan.


Duarrr.....


Angga lansung tertampar kenyataan mendengarkan ucapan sang ibu, dia kira selama ini Bu Isni lah menjadi dalang perpisahannya dengan Mama kandung nya, ternyata mamanya sendiri yang tidak mengharapkan kehadirannya, dan dengan teganya dia memecah belah hubungan dia dan Bu Isni dan adik adik satu bapaknya.


"Cih.... itu kau saja yang bodoh, sudah mendapatkan istri yang mau menerima kamu apa adanya, dan ada keluarganya yang mau mengangkat derajatmu kenapa kamu mau mengkhianati mereka, dan dengan tega mencari cinta semu di luar sana, karena istrimu sibuk mengurus anak anak kamu yang masih kecil kecil, dan egoisnya kamu berselingkuh di belakangnya dengan dalih tidak mendapatkan perhatian dari istri kamu, harusnya kamu sadar, istri kamu itu juga tidak perhatian bukan salah dia, tapi salah kamu yang tidak mau membatu dia mengurus anak anaknya yang masih kecil, di tambah anak yang bukan di lahirkan dari rahimnya, namun dia rela membesarkannya, dari situ seharusnya kamu sadar, bukan malah mencari cinta di luar sana, jangan bawa bawa saya, itu salah kamu sendiri!" sinis Bu Dewi.

__ADS_1


Deg....


Hati Pak Burhan lansung nyeri mengingat kelakuannya saat itu, karena terbuai dengan pangkat yang tinggi, uang yang banyak, dari miskin tidak mempunyai apa apa, jadi bisa beli apa apa tanpa memikirkan uangnya cukup atau ngak ada istrinya yang mau memberi dia uang, namun dengan teganya dia berkhianat saat melihat kembali mantan ke kasih yang telah memberikan anak untuknya yang saat itu sampai sekarang memang terlihat **** tidak seperti Bu Isni yang suka memakai pakaian tertutup, matanya di butakan dengan cinta semu.


"Pergilah kalian dari sini, saya tidak mau menerima gembel seperti kalian, ngak guna, ngak menghasilkan uang, buat apa? ngak ada untungnya!" sinis Bu Dewi dengan tega mengusir Angga dan Pak Burhan.


Pak Burhan tersadar dari lamunannya, begitupun dengan Angga saat tubuh mereka di dorong tanpa perasaan oleh Bu Dewi.


Brakk.....

__ADS_1


Pintu di tutup dengan kencang oleh Bu Dewi dari dalam rumah, tanpa menghiraukan panggilan dari suami siri dan anak kandungnya, dia malah asik melanjutkan mewarnai kuku tanpa perduli teriakan teriakan dari luar sana.


Bersambung....


__ADS_2