Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 154


__ADS_3

Mereka berkumpul di halaman belakang rumah Aisyah, sedang menikmati BBQ an di sana. kebetulan malam ini malam minggu, mereka menghabiskan malam di sana, termasuk Pak Diman.


"Paman, aku mau buka cabang di daerah xx" ucap Aldi santai, memang lah Aldi klau apa apa terbiasa bicara sama sama keluarganya itu.


"Ha... serius, emang sudah ada modal lagi, setau Paman di daerah sana, tanahnya lumayan mahal loh" pungkas Pak Farhan yang memang tau ke adaan di sana, di sana sudah termasuk kawasan elit, tanah di sana juga sudah mahal permeternya.


"Iya, Paman, sudah ada kok, kemaren Ibu kasih Aldi tanah Ibu yang di daerah xx, katanya buat nambah cabang baru, sekalian Ibu kasih modal" cengir Aldi senang.


"Wah... keren, Bu Isni punya tanah di daerah situ, klau di jual bisa lansung jadi miliyader dong" heboh Pak Diman.


"Ada Pak, lumayan lah buat beberapa kavling rumah, itu juga sedang di bangun, mau di jadikan kontrakan mewah" kekeh Bu Isni malu malu.


"Wisss.... si utun punya nenek horang kuayahh.... sorak Pak Diman" Bapak satu itu memang suka banget usil, padahal mah dia sendiri juga tidak kalah kaya, tapi masih berlagak tak punya apa apa.


Yang lain hanya terkekeh geli, melihat kehebohan Pak Diman, Bu Sri dan Aldi hanya menatap jengah Bapaknya itu.


"Emang Bapak miskin ya Pak, kasian sekali ibu dapat suami miskin" ledek Bian, kenapa ibu ngak cari suami kuaayyaaahhhh.... juga Bu, retur aja si Bapak bu, ganti sama yang baru" kekeh Bian, menggoda Pak Diman, setelah meledek dia lansung berlari.

__ADS_1


"Woii.... bocah semprulll, saya ini juga orang kaya ya, cuma ngak di lihatin klau saya ini orang kaya, enak saja mau main retur retur, susah loh dapat suami kaya saya ini" kesal Pak Diman.


"Haiii... bocah jangan lari kau, bujang lapuk!" teriak Pak Diman berkacak pinggang


"Idih... mana ada aku bujang lapuk Pak, aku masih muda ya, beda 3th doang sama Aldi, yang bujang lapuk itu Bang Bima noh..." cibir Bian tampa beban, dia lupa siapa yang dia candai.


"Apa kata kau... sini kau!" pelotot Bima, melihat ke arah Bian.


Glek....


"Piiss bang, Piis... ampun, jangan salahin aku dong, salahin bapak noh, yang bilang bujang lapuk duluan, mana ada aku bujang lapuk umurku aja belum ada 25th, lah klau abang kan emang sudah mulai alot bang, wajar di bilang bujang lapuk" ucap Bian tanpa filter.


Ini si Bian mau ngajak damai atau ngajak perang lah, seenak jidatnya ngatain Bima, bujang lapuk, apa katanya tadi, alot, mengesalkan bukan.


Bima langsung mengambil ancang ancang dan melompat secepat kilat, mempiting leher Bian.


Hap....

__ADS_1


"Abang... ampun bang, ampun, ?leher ku ke cekek huk... huk... huk... lepasin bang ah ela, ngap ini, bang" Bian mengap mengap di piting di bawah ketiak Bima.


"Berani beraninya kau ngatain aku bujang lapuk, sama laki-laki alot, sekarang rasain pitingan dari laki laki alot hu... enak ngak!" kesal Bima.


"Heheh.... canda bang, ihss... sensi amat sih. itu abang ngaku sendiri alot, bukan aku loh yang ngomong" seru Bian yang mana kepalanya masih di piting oleh Bima.


"Ooohh.... dasar kau ini ya, rasakan ini!" Bima lansung membanting Bian di rumput dan menggelitiki Bian tanpa ampun, sampai sampai Bian memekik dan menggeliat kesana kemari, sambil minta ampun.


"Ahahaha... Hahaha... ampun bang, hahaha.... hahaha... ampun bang... bisa ngompol ini hahaha... Bian di buat tertawa terpingkal pingkal karena geli.


"Hahaha.. bang, am-pun hahaha.... ha- ha- hahaha... udah, nye- rah, bang hahaha..." Bian benar benar tak di beri ampun sama Bima sampai lemas.


Yang lain juga ikut terpingkal ulang dua laki laki beda usia itu.


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan vote ya

__ADS_1


__ADS_2