
"Aku ngak mau ikut campur urusan abang terserah dia mau apa, itu kesalahan dia sendiri, jangan minta aku untuk bantu dia dengan uangku, dia punya uang sendiri, bahkan dia sudah bekerja, otomatis dia punya banyak uang atau tabungan, kenapa harus aku yang bantu, sedangkan aku masih minta uang sama Ibu sama Bapak untuk kuliah, dan satu lagi aku pengen tanya sama kalian, sebenarnya Aldi itu anak kandung Ibu apa bukan sih?" kata kata itu keluar dengan mulus dari mulut Bian.
"Maksudmu apa Ian! nanya seperti itu! klau ngak mau bantu abangmu ya sudah ngak apa apa, kenapa kamu harus tanya orang yang sudah ngak ada di rumah ini hah!" Bu Isni tersulut emosi.
"Ya ngak kenapa napa sih Bu, cuma pengen tau aja, emang salah aku nanya kek gitu, selama anak itu di sini kita tidak pernah memperlakukan dia dengan baik, bahkan dia cari uang buat makan dan bayaran sekolah sendiri tanpa bantuan dari kalian dan satu lagi selama aku berada di sini tidak pernah sekali pun Aldi itu memakai pakaian baru, yang dia pakai pakaian bekas aku dan abang yang sudah tidak muat kami pakai, itu jadi tanda tanya buat aku bu, bahkan saat kita makan tidak sekali pun kita makan satu meja dengan dia, jarang sekali aku melihat dia makan di rumah ini, bahkan yang dia makan sisa kita semua, makanya aku ingin tanya sama Ibu, aku sudah penasaran dari dulu, tolong jawab Bu!" tanya Bian.
Citra dari tadi juga diam, menunggu jawaban dari Ibunya, sebab dia juga penasaran dengan ini semua.
"Apa kalian ngak ingat klau perutku buncit mengandung dia saat itu haah..!! baarti dia anak kandungku! jadi buat apa lagi kalian tanyakan soal itu, sudah tau jawabannya juga" ketus Bu Isni.
__ADS_1
"Aku memperlakukan dia seperti itu, memang aku sudah tidak mau punya anak lagi ngerti kalian! jangan tanya tanya lagi bikin emosi aja!" sungut Bu Isni.
"Baik lah, aku ngak akan tanya tanya lagi, tadi aku cuma penasaran, sekarang kan udah ke jawab, ya sudah aku sudah puas, Bian berdiri dari kursi dan beranjak dari situ, aku berangkat dulu Bu?"minta izin sama sang Ibu.
"Iya...! hati hati" jawab Bu Isni dengan wajah yang masih terlihat kesal.
Tak jarang juga Bian memperhatikan Aldi di sekolah atau saat adiknya bekerja, ternyata di sana Aldi di perlakukan dengan baik, Bian bersyukur, ada orang yang baik sama Aldi, makan Aldi sudah terjamin di sana.
Sebenarnya Bian diam diam mempunyai usaha sendiri, sebuah cafe xx yang pernah Aldi nongkrong sama teman temanya, dia sangat merindukan adiknya, makanya dia sengaja membuat onar di sana, agar bisa melihat Aldi dan mendengarkan suara adiknya itu, setelah mendengar suara adiknya dia berlalu pergi kedalam ruangannya, sambil menangis melihat Aldi dari cctv.
__ADS_1
"Kalau kau! menyayangi adikmu, kenapa kau memperlakukan dia dengan kasar", tanya teman Bian.
"Ya hanya seperti itu gue bisa menegurnya, dan melihat dia, ternyata adik gue sekarang sudah hidup lebih baik, dari pada di rumah, gue senang melihatnya.
"Kalian tau, gue sebenarnya bikin cafe ini, agar saat lulus nanti adek gue bisa bekerja di sini dan gue bisa memantaunya, ternyata dia sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya, gue sangat bersyukur adek gue bisa mendapatkan kasih sayang dari Orang tua angkatnya.
"Dan apa kalian tau, ternyata adik gue lulus dengan nim tertinggi, gue bangga bangat sama dia, dan dia juga dapat bea siswa di kampus Brawijaya" ucap Bian membanggakan Aldi.
Bersambung...
__ADS_1