
Plak....
"Aggkkkhhh...." terdengar erangan seseorang menahan sakit, namun itu bukan Citra.
"Loh... kok ngak berasa apa apa dan ngak sakit juga, trus bunyi tamparan tadi apa, kok aku ngak ngerasain" gumam Citra yang masih setia memejamkan matanya, menghindari tamparan dari Angga.
Sedikit demi sedikit Citra membuka matanya, lama lama matanya lansung membola, melihat apa yang terjadi di depannya, Citra melihat Angga yang menahan sakit akibat di pelintir oleh Bima.
"Aggkkkhhh... sakit bego, lepasin tangan gue, ngapain loe melintir tangan gue, gue ngak ada urusan sama loe!!" teriak Angga sambil meringis menahan sakit di tangannya yang masih di pelintir oleh Bima.
"Siapa bilang loe ngak punya urusan sama gue, siapa suruh loe ganggu Citra, Citra itu tanggung jawab gue, dia keluarga gue, loe cari masalah sama Citra bearti loe juga cari masalah sama goe!!" bentak Bima, yang masih memelitir tangan Angga, dan kebetulan Bima baru pulang kerja dan mau pulang, masih dengan seragam kebanggaannya.
Glek....
Angga menelan ludahnya kasar, ternyata sekarang Citra ada yang melindunginya, apa lagi yang melindungi Citra bukan kaleng kaleng aparat negara, dan jangan lupa badan besar berotot Bima itu, tidak akan mampu Angga lawan.
Deg....
"Apa apaan bang Bima, bilang gue tanggung jawab dia, keluarga dia, ehhh... tunggu tunggu, kan Aisyah adik sepupu bang Bima, dan Aisyah kan adik ipar gue, benr juga sih gue sekaranh kelurga gue" gumam Aisyah.
__ADS_1
"Masih mau gangguin Citra loe!!" bentak Bima, mendorong Angga dan akhirnya Angga jatuh terduduk si asal.
Angga menatap penuh kemarahan kepada Citra dan Bima bergantian.
"Apa platat plotot gitu! mau gue pelintir lagi?" bentak Bima dengan suara tegasnya dan matanya menajam melihat ke arah Angga. nyali Angga lansung meciut mendengar suara tegas Bima.
Bima lansung beralih melihat ke arah Citra yang masih meringis karena luka luka di kaki dan tangannya.
"Kamu ngak apa apa Cit?!" tanya Bima dengan suara lembut, tentu saja berbeda dengan suara garang yang dia layangkan saat bicara sama Angga tadi.
"Ncek... abang ngak liat apa kaki sama tangan aku luka luka gini, gimana di kata baik baik saja sih.." omel Citra dengan mencibikan bibirnya lucu, membuat Bima ikutan terkekeh.
"Motor aku?" tunjuk Citra melihat ke arah motornya.
"Buang aja, nanti beli lagi, uang Ibu Isni kan banyak, sayang ngak di gunain, dari pada ngidupin orang tak tau diri mending kamu beli motor keluaran terbaru kamu koleksi tuh, puas puasin habisin duit Bu Isni sama Bian dan Aldi, apa lagi kemaren dengar dengar kemaren Aldi di kasih tanah di daerah xx, dan di kasih modal banyak buat ngembangin usahanya, masa kamu sama Bian ngak" Bima mulai menjulid, sambil melirik ke arah Angga yang mulai kelojotan mendengar ucapan Bima.
Citra terkekeh mendengar ocehan anfaedah dari Bima, yang mulai terkontaminasi dengan kelakuan Pak Diman.
"Abang mengadi ngadi aja deh, ini juga motor baru aku beli dari hasil kerja keras aku sendiri, tanpa menggunakan uang Ibu, ya kali sudah kerja masih minta jatah uang sama Ibu, yang ada tu, sekarang aku yang harus ngasih Ibu uang, secara aku sudah dari kecil di biayaain sama Ibu, ya kali sekarang masih minta minta sama ibu, apa lagi yang bukan hak aku, harus mengaku aku hak aku" cibik Citra menyindir Angga yang masih menatap kesal ke arah dia dan Bima.
__ADS_1
"Sialan nih anak bisa bisanya dia menyindir gue" gerutu Angga kesal mendengar ocehan Citra itu.
"Bagus anak pintar, harus begitu jadi orang jangan serakah, anak siapa sih nih" goda Bima sambil mengkusuk rambut Citra.
Deg... Deg...Deg...
Jantung Citra lansung tak aman, mendapat perlakuan manis dari Bima.
"Hiss... abang ini ngapain coba elus elus kepala gue, bikin jantung gue loncat loncat tau ngak sih, meleleh hati neng bang" gumam Citra dengan wajah bersemu merah.
Bima yang sadar dengan kelakuannya juga salah tingkah sendiri.
"Ya udah yuk... pulang, abang sudah suruh teman abang bawa motor kamu pulang" titah Bima.
Citra hanya mengangguk, karena jantungnya belum baik baik saja setelah perlakuan Bima tadi
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan vote ya....
__ADS_1