
"Bian izin untuk ke kampus, padahal dia tidak ke kampus, malah dia pergi ke cafenya, untuk menenangkan hati yang sedang kesal.
Sesampai di cafe, dia duduk termenung, sambil melihat foto foto Aldi yang di potret dari aldi umur tujuh tahun sampai sekarang.
"Kasihan sekali kamu dek, semoga kamu di sana selalu sehat sehat saja dan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Orang tua angkatmu.
"Maafkan abang tidak bisa menjagamu, abang hanya bisa membantumu diam diam, abang takut ketahuan, satu yang harus kamu ketahui, abang sangat menyayangimu, sama seperti kak Citra, abang tau kak Citra sangat merindukan mu, dan menyesal telah berbuat kasar padamu.
"Abang tau kamu ingin di perhatikan dengan kami, abang juga tau kau ingin di peluk dengan kami, abang juga tau, kamu ingin di lindungi oleh abang, maaf abang tak bisa memberikan itu terang terangan, biarlah kau menganggap abang jahat, tidak mengapa abang ikhlas.
"Dan kau Angga! jangan harap aku akan mau membantumu, klau kau tidak mau memberikan uang mu, untuk kesalahan mu sendiri, membusuklah di penjara, aku tidak akan peduli!" gumam Bian penuh emosi.
*****
Di tempat lain......
Orang tua Aldi lagi menemui Angga di kantor polisi.
"Gimana keputusanmu Ngga?" tanya Bapak.
"Apa kau mau memberikan uangnya atau tidak!" kesal Pak Burhan dari tadi Angga hanya diam saja.
__ADS_1
"Pak kenapa sih, ngak pake uang Bapak saja, aku kan udah bilang mau ganti mobil, jadi pake aja uang Bapak dulu" oceh Angga.
"Kau pikir aku banyak uang hah! tanya ke Ibu mu itu, di kamanain uang hasil jual tanah sama dia!" tunjuk Pak Burhan kepada sang istri penuh emosi.
"Sekarang kau tinggal pilih mau keluar apa di sini, jawab sekarang! jangan bertele tele, ucap Pak Burhan.
"Ya mau keluar lah pak! mana betah aku di sini, ngak ada kasur, tidur nyampur lagi sama orang lain, mana pada bau lagi" keluhnya.
"Ya sudah kalau gitu mana uangnya!" tagih Pak Burhan.
"Bapak ambil aja uang di lemari baju aku, disana ada laci, kuncinya aku tarok dalam jas di lemari gantung di sebelahnya!" tutur Angga, dengan muka masam.
"Dari kemaren kek! jadi Bapak ngak mondar mandir kesini, kamu pikir saya ngak capek, mana izin mulu kerja, gara gara kamu, awas kamu bulan ini kamu yang tanggu uang dapur!" tegas Pak Burhan.
"Itukan ulah mu sendiri, kenapa cari gara gara makanya klau apa apa tuh mikir pakai Otak!" kesel si Bapak.
"Oh iya, habis ini jangan pernah ganggu Aldi lagi ngerti kamu!" Bentak Pak Diman.
"Kenapa sekarang Bapak melindungi anak sialan itu sih? gara gara dia aku berada di tempat ini" kesel Angga.
"Ini tidak ada urusan sama Bapak! ini semua gara gara kamu, asal kamu tau!" jawab Pak Burhan kesal.
__ADS_1
Kok gara gara aku sih Pak!" masih tidak terima dengan ucapan sang Bapak.
"Apa kamu mau tanggung jawab, menikahi bocah ya kamu tabrak kamaren hah!" kesel Pak burhan.
"Ya ngak lah! aku udah punya pacar, dan lagi bocah itu bukan tipe aku!" sungut Angga.
"Nah karena itu sekarang Aldi yang akan bertanggung jawab sama bocah yang kau tabrak itu ngerti!" sembur Pak Burhan.
"Emang harus dialah yang harus tanggung jawab, kan aku nabrak bocah ingusan itu juga gara gara anak sialan itu!" dengan tak tau dirinya masih menyumpahin Aldi.
"Karena itu Aldi sekarang dalam lindungan keluarga gadis itu, dan kita di suruh menandatangani perjanjian di atas materai, klau kita melanggar siap siap di penjarakan seumur hidup ngerti sekarang!" oceh Pak Burhan.
"Iya... iya... Aku ngak akan ganggu Aldi lagi, padahal mah di hati ngomong lain.
"Gue ngak perduli loe di lindungi siapa, pokoknya loe harus celaka di tangan gue, anak sialan, gara gara loe, gue ngak jadi ganti mobil, tunggu pembalasan gue!" Angga mengeram kesal.
"Ya sudah, kami pulang dulu, besok mau ke rumah sakit menumui orang yang kamu tabrak, mudah mudahan besok kamu langsung bisa bebas.
"Iya pak" balas Angga.
Angga menatap kepergian kedua orang tuanya sampai hilang dari balik pintu, baru lah dia masuk ke dalam sel lagi.
__ADS_1
Bersambung....