Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 152


__ADS_3

"Di... ini hadiah untuk kamu, Aisyah sama dedek" ucap Bu Isni menyodorkan sertifikat tanah dan buku tabungan di atas meja, saat ini Aldi dan Aisyah lagi berada di rumah Bu Isni.


Seharian Aisyah di rumah Bu Isni, karena Aldi dari pagi sudah berangkat ke Cafe, ke cafe cabang yang baru buka beberapa minggu lalu, dan cafe itu sama ramainya dengan cafe yang lama.


Aldi sedikit ke walahan, karena karyawannya belum dia tambah, terpaksa Aldi turun tangan membantu di sana, sudah hampir magrib baru lah Aldi sampai di rumah.


Kini Aldi sedikit tenang meninggalkan Aisyah di rumah karena ada sang Ibu yang siap menemani Aisyah di rumah.


"Ini apa Bu...?" tanya Aldi melihat map yang di sodorkan oleh sang Ibu.


"Buka aja sih, pake di tanya segala, apa mau di bantu bukanya" ledek Bian, yang semakin hari semakin usil.


Aldi hanya menatap malas sang abang, Bian melihat aldi kesal kepadanya hanya terkekeh, ini yang Bian rindu sama adiknya itu, bisa bercanda, berkumpul bersama, beruntungnya keluarga mertua Aldi orang yang baik, bisa menerima meraka dengan tangan terbuka, dan tidak mengingat masalah yang dulu dulu.


Aldi membuka map tersebut, matanya terbelalak melihat isi map itu.


"Bu... ini maksudnya apa ya?" kaget Aldi melihat isi map itu.


"Itu bagian kamu nak, dulu Ibu beberapa kali menjual tanah, tapi kamu tidak mendapatkan hak kami, sekarang ibu berikan kamu tanah yang ada di daerah selatan, tempatnya strategis dan itu juga terletak di keramain, kamu bisa buka cabang baru, kamu pakai uang itu untuk membuka cabang baru" tutur Bu Isni.

__ADS_1


"Tapi Bu... apa ini ngak berlebihan, aku sudah Ibu akui sebagai anak saja sudah cukup Bu, aku tidak mempersalahkan yang lain"


Bu Isni lansung berhambur memeluk sang anak.


"Maafkan Ibu ya nak, ibu sudah zolim sama kamu, ibu abai sama kamu, ibu terlalu mudah terhasut sama orang" ucap Bu Isni serak.


Aldi membalas pelukan sang Ibu, dia mengelus tunggu tua itu dengan kasih sayang.


"Sudah ya Bu... jangan di ingat ingat lagi yang sudah lewat, lupakan semuanya, saatnya kita hidup bahagia" tutur Aldi lembut, dia tidak ingin sang ibu masih menyesali pembuatan yang dulu dulu, biarlah yang dulu menjadi pelajaran buat mereka, tidak perlu di ingat lagi.


Bu isni mengangguk melepaskan pelukannya dari Aldi, dia menangkup pipi anak bontotnya, bu isni melabuhkan banyak kecupan di wajah anak bontotnya itu.


Aldi buru buru merampas map itu, sebelum sampai ke tangan Bian, sang abang yang luar biasa usilnya itu.


"Ncek.. maruk, ya kali punya dedek bayi masih di embat, ngak liat apa Ayahnya lagi basa basi" kekeh Aldi ikut melawak.


Bu Isni, Aisyah dan Citra terkekeh melihat tingkah adik kakak itu, ada saja perdebatan yang akan terjadi klau sudah bertemu, apa lagi di tambah dengan Pak Diman ramai sudah itu.


Tak ada rasa iri dan dengki dari Bian dan Citra saat Ibu mereka memberikan hak Aldi, justru mereka senang, Aldi mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.

__ADS_1


"Bang Bian... ponakan abang pengen di beliin nasi goreng yang di jalan xx, sama martabak juga" rengek Aisyah.


"Lah... ada bapaknya ini, kenapa harus abang" omel Bian.


"Maunya pamannya yang beliin, ngak mau Ayahnya" oceh Aisyah.


"Paman paman, panggilan apaan itu, panggil Uncle!" sewot Bian.


"Buahahaha..."


"Gaya mu bang, lidah pletat pletot segala pakai bahasa inggris, sudah cocok itu di panggil paman sama debay" Aldi tak bisa menahan tawanya.


Bian hanya melengos sebal dengan ledekan sang adik, bahkan bukan adiknya saja yang tertawa, Bu Isni, Citra dan Aisyah ikut mentertawai dia.


"Sudah sudah, sana beliin nasi goreng buat ponakan kamu Bian" ujar Bu Isni yang masih terkekeh.


Bian hanya memberengut sebel namun tetap pergi membeli permintaan ibu hamil itu.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote ya....


__ADS_2