
Bu Isni berjalan masuk ke dalam rumah Asiyah, dan menghampiri orang orang yang ada di dalam rumah itu.
"Maafin saya, dulu pernah berbuat kasar dan menghina kalian, maafkan saya pernah menolak menantu saya, maafkan semua kesalahan saya, saya tau sangat banyak kesalahan yang saya buat untuk kelurga ini, mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk saya" ujar Bu Isni sendu.
"Sudah lah bu, yang lalu biar berlalu, mari kita lupakan semua yang sudah terjadi" ucap Bi wati mewakili keluarga nya, Bi wati yakin keluarganya itu pasti juga sudah memaafkan ibu kandung Aldi itu.
"Iya bu, lupain aja semua yang sudah berlalu, mungkin waktu itu ibu masih kena sirep jadi mata dan mata hati ibu masih tertutup, sekarang mata hati ibu sudah terbuka dan ibu sudah bisa melihat mana yang benar mana yang salah, mungkin perkudunan suami ibu sudah tidak mempan!" kekeh Pak Diman bisa bisanya dia ngelawak pada waktu yang tidak tepat.
Puk..
"Bapak ini kebiasaan deh, orang lagi serius bisa bisanya bercanda!" kesal Bu Sri memukul tangan sang suami.
"Aduhh... sakit Yang...?!" rengek Pak Diman alay, membuat Aldi dan Bu Sri memutar mata malas.
Jangan di tanya yang lain malah terkekeh melihat kelakuan Pak Diman itu, bisa bisanya lagi suasana haru di buat ambyar sama pak diman.
Saat lagi menye menyenya pak diman, dia lansung kembali ke mode serius mengingat sesuatu.
"Ibu minta di maafin kan?" tanya Pak Diman serius, membuat yang lain melongo tidak percaya dengan ucapan pak diman itu.
__ADS_1
Dengan cepat Bu Isni menganggukan kepalanya, karena memang dia butuh maaf dari orang orang itu.
"Klau Ibu mau di maafkan, Ibu jangan ngakuin Aldi dan Aisyah anak ibu sendiri, Aldi juga anak aku dan Aisyah juga menantu kesayangan kami, gimana mau!" tegas pak diman.
Bu Isni dan keluarga Aisyah itu jadi terharu mendengar ucapan pak diman, terutama Bu Isni, dia tidak menyangka anak yang tidak di anggap dan tidak pernah dia beri kasih sayang, malah di angkat anak dan di berikan kasih sayang yang tulus, oleh orang lain yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengan dirinya.
Aldi sampai terharu dengan bapak angkatnya itu, begitu berharga nya dia bagi bapak angkatnya itu, dan pak diman masih tetap menyayangi aldi seperti anak sendiri, begitu beruntung nya dia bertemu dengan bu sri dan pak diman.
Kelurga Aisyah tak kalah terharunya, keponakan kesayangan mereka itu, begitu di sayangi oleh sepasang suami pasti itu.
"Iya Aldi dan Aisyah akan tetap menjadi anak kalian, tapi izinkan saya juga ikut memberikan kasih sayang yang belum pernah saya berikan kepada anak saya aldi dan izinkan saya menebus semua kesalahan saya kepada anak saya dan menantu saya" ujar bu isni.
"Haahh... baik lah, ibu saya maaf kan, karena anak anak menyebalkan itu tetap menjadi anak saya, padahal mah ngak penting penting amat buat saya" oceh pak diman.
Yang lain hanya terkekeh dengan ulah Pak Diman itu.
"Sudah selesai kan acara sedih sedihanya, kalau gitu sarapan yuk, lapar nih.. emang kalian ngak lapar, ngak kekurangan cairan apa kalian, dari tadi banyak mengeluarkan air mata, untung saja ini rumah ngak sampai ke banjiran" kekeh pak diman.
Tak sengaja Pak Diman melihat mata Bima yang sembab dan memerah habis menangis, lansung lah dia membully Bima, kapan lagi dia bisa membully Bima.
__ADS_1
"Wooiii... Pak komandan anda bisa mewek juga, kirain ngak bisa ciee...." ledek pak diman melihat ke arah Bima dengan muka tengilnya.
Seketika Bima gelagapan mendengar ocehan pak diman yang sengklek itu.
"Ngak ini tadi kelilipan" elak Biman.
"Ngeles aja pak, ngeles kayak bajay, komandan berbadan kekar ternyata hati hello kitty, hedehhhh.... apa kabar kalau ketemu sama anak buah, mau di tarok di mana itu muka sangar" kekeh Pak Diman.
Membuat yang lain melipat bibir ke dalam agar tidak tertawa, Bima jangan di tanya mukanya sudah memerah menahan malu.
Bima lansung saja ngacir ke dalam kamar mandi, menghilangkan malu dan kesalnya kepada pak diman yang rese minta ampun itu.
Brakkkk.....
Bima membanting pintu kamar mandi dengan kencang.
Buahahaha....
Sepeninggal Bima keluarga nya lansung ngakak berjamaah.
__ADS_1
"Makan yuk... ini cacing cacing di dalam perut saya sudah mau mendobrak lambung dari tadi saya" keluh pak diman, mengajak keluarga itu untuk sarapan yang sudah ke siangan gara gara drama barusan.
Bersambung....