
"Kita ke klinik dulu ya?" ajak Bima saat Citra sudah naik ke atas kuda besi Bima dan meninggal kan Angga yang masih setia duduk di aspal dan menatap nyalang ke pergian Bima dan Citra.
"Brengsek, bisa bisanya sampah itu dapat tanah di daerah xx dan dapat modal, itu tidak boleh, semua itu seharusnya milik gue, bukan milik anak sampah itu, sialan kau Bian...!! bisa bisanya loe bongkar rahasia gue, sekarang gue kehilangan tambang uang gue dan mama gue, awas kau, lihat aja apa yang akan gue lakuin sama kalian!!" Angga meradang kesal, mendengar Aldi mendapat warisan.
"Dan kau, Citra... bisa bisanya kau menghina dan menyindir gue, dasar keluarga ngak guna kalian semuanya, awas saja, gue bakal ambil hak gue gimana caranya, dasar wanita tua sialan itu, apa susahnya sih, maafin gue sama papa, sok sok an minta cerai lagi, memang perempuan tua tidak tau di untung kau!!" umpat Angga yang tidak sadar sadarnya.
Di atas motor sana, Citra merasa canggung dan grogi, padahal sudah biasa mereka bercanda dan bertemu setiap hari, namun entah apa yang terjadi sama perempuan itu, saat ini dia benar benar canggung.
Bima melihat wajah malu malu Citra dari spion motor, lansung terkekeh geli melihatnya.
"Hai....di tanya kok diam aja?" teriak Bima, karena laju motor memang sedikit kencang, jadi takut Citra tidak mendengar ucapannya Bima sengaja bersuara sedikit kencang.
"Terserah abang aja deh, asal abang ngak keberatan" jawab Citra pada akhir nya.
"Keberatan gimana, kan kamu ngak saya gendong" kekeh Bima.
"Ncek..." Citra hanya memutar mata malas mendengar ledekan dari Bima dan bibir maju untuk beberapa senti.
"Itu bibir kenapa maju gitu, sudah kaya soang, mau matuk siapa?" canda Bima.
Ingin rasanya Citra memukul kepada Bima, tapi itu tidak mungkin yang ada nanti Bima marah, dan menurunkannya di jalan, pikir Citra, akhirnya Citra melipat bibirnya ke dalam, sambil melirik malas Bima.
Bima tidak bisa menahan tawanya, dan akhirnya tawa Bima pecah, melihat tingkah lucu Citra.
Buahahaha....
__ADS_1
"Kamu lucu banget sih, Cit" cetus Bima di sela sela tawanya.
Citra hanya mendengus kesal dengan oceh Bima, dengan tidak sadarnya, Citra mencubit perut sixpeac ( benar ngak sih tulisannya ) Bima, membuat Bima ke gelian bukan sakit.
"Ampun, ampun Cit, udah ya, jangan di cubit lagi, ini itu bukan sakit tapi geli, mau kita jatuh dari motor bersama" kekeh Bima di sela sela tawanya, memegang tangan Citra.
Deg...
Detak jantung Citra lansung tidak normal, berdetak dua kali lebih cepat, gara gara di pegang oleh Bima, Bima pun sama dia malah dengan sengaja meremas jari jari tangan Citra, membuat Citra semakin salah tingkah.
Melihat wajah salah tingkah Citra, senyum Bima pun tersinggung di bibirnya, betapa dia menikmati wajah sala tingkah Citra dari Spion motor itu, tak sedikit pun tangan Bima melepaskan tangan Citra dari genggamannya.
"Sudah sampai, yuk.. turun" ajak Bima, yang sudah sampai di sebuah klinik terdekat, untuk mengobati luka luka Citra.
"Dimana ini?" tanya Citra linglung, dia tidak fokus gara gara perlakuan Bima tadi.
"Ncek... abang dari tadi bercanda terus ih... kesal Citra dengan wajah memerah karena salah tingkah, dengan godaan Bima tersebut.
"Ncek siapa yang bercanda ini serius loh..." ungkap Bima dengan wajah berubah serius, dan melihat mata indah Citra itu.
"Sudah bang ah... masuk dulu ih, ini nyeri ini" dengus Citra mengalihkan pembicaraan, jujur dia terjebak dengan candaan Bima tersebut, dia sama usilnya dengan keluarga yang lain, jujur saja Citra memang sudah menyukai Bima dari awal bertemu, namun dia memendam perasaannya, apa lagi dengan banyak masalah yang dia, dan keluarganya lakukan sama Aldi dan Aisyah dulu, membuat Citra sadar diri.
Cup...
"Ini ngak bohong abang ingin ajak kamu ke KUA" Bima dengan sengaja mencium bibir Citra yang manyun itu.
__ADS_1
Citra melotot ke arah Bima, dan memegang bibirnya.
"Ciaman pertama gue di curi" ceplos Citra tidak sadar, Bima yang mendengar itu, lansung tersenyum girang, dia yang pertama mendapatkan ciuman bibir manis Citra, bukan ciuman tepatnya, kecupan singkat.
Puk....
"Ih... abang ngeselin, kenapa nyuri nyuri ciuman pertama aku, abang harus tanggung jawab" omel Citra sambil memukul mukul dada Bima.
Bima memegang tangan Citra dengan sedikit lembut dan menatap Citra dengan lembut.
"Iya, abang akan tanggung jawab, sediain berkas berkas kamu untuk nikah di kantor abang ok!" tutur Bima tegas tak terbantahkan, ada orang ngelamar cewek, ngajak nikah, di parkiran, trus ngak ada romantis romantis nya gitu, mau heran tapi ini Bima.
Citra lansung melotot kaget, mendengar ucapan Bima tersebut.
"Nih... orang apaan sih, ngajak nikah gue gitu!" dumel Citra dalam hati.
"Dah... ah... bang ngawur aja, buruan anter aku ke klinik" elak Citra.
"Abang serius Citra, abang ngak main main!" tegas Bima.
"Abang aneh deh, mana ada orang ngajak nikah anak orang di parkiran ini, aku masih punya ke luarga kali, abang lamar aku ke orang tua aku, bersama orang tua abang, bukan kayak gini, ngelamar aku di parkiran klinik dan aku dalam ke adaan terluka gini" omel Citra pada akhirnya.
"Oh.. iya, abang lupa, ok, nanti malam persiapkan diri kamu, abang akan datang bersama orang tua abang, sekarang mari kita obati luka kamu dulu" ucap Bima lansung menggendong Citra.
"Akk... abang lepasin ih.. aku bisa jalan kali, malu di liatin orang!" kesal Citra bercampur malu di lihatin orang orang.
__ADS_1
Bima seolah tuli, tetap menggendong Citra masuk ke dalam klinik, tanpa menghiraukan teriakan Citra dalam gendongannya.
Bersambung....