
"Kenapa istri abang ini diam aja sayang...?" tanya Aldi kepada sang istri, semenjak kumpul dan membicarakan pesta pernikahan Aisyah lebih banyak diam.
"Abang emang mau ngadain pesta pernikahan kita?" tanya Aisyah ragu kepada Aldi.
"Kenapa hmm... Ais ngak mau pesta? klau ngak mau, ngak masalah kok sayang, senyaman istri abang aja, abang cuma takut aja, Ais nanti pengen ngadain pesta gitu, klau Ais ngak mau juga ngak apa apa sayang" Aldi membelai rambut sang istri dan sesekali menpipi chaby sang istri.
"Ais ngak mau pesta bang?!" jujur Aisyah kepada sang suami, dia menyenderkan kepalanya di dada bidang sang suami, sambil memainkan bilatan kecil di dada Aldi, yang membuat Aldi meremang tak karuan, karena ulah sang istri.
"Ya sudah klau ngak, ngak apa apa yang penting istri abang ini senang ok! tapi... sekarang senangin abang dulu?!" ucap Aldi sembil membalikan sang istri dan mengungkung nya di bawah sana, tanpa ba bi bu Aldi lansung menerkam sang istri tanpa ampun.
Pagi menjelang. Aldi sudah rapi untuk berangkat ke kampus, kini dia sedang menyiapkan sarapan dan bekal sang istri di meja makan, sedangkan Aisyah masih sibuk menutupi hasil karya sang suami yang kebablasan memberi tanda banyak di lehernya.
"Hiss... si abang ini, kenapa bikin di sini banyak banget sih, padahal di dalam sudah penuh, ini di leher juga di beri tanda" gerutu. Aisyah.
Aldi yang melihat istrinya sedang ngedumel gara gara kelakuannya malah terkekeh geli.
"Biarin aja sayang, biar pada lihat klau abang itu perkasa" kekeh Aldi.
"Emang ini kurang perkasa bang!" sungut Aisyah menunjuk ke arah perutnya yang sudah membuncit itu.
__ADS_1
"Hahaha.... abang lupa sayang" Aldi mendekat ke arah sang istri.
Cup....
Aldi mencium bibir manis itu tanpa dosa, sebelahnya dia ikut membantu sang istri menutupi maha karyanya di leher sang istri, Aisyah hanya diam saja, dan dengan usilnya Aldi, meninggalkan satu tanda cintanya di sana, tanpa menutupi dengan apa pun, agar semua orang melihat karyanya di leher sang istri.
"Selesai...!" seru Aldi, dan membawa sang istri ke ruang makan, tapi memang tangan Aldi itu gatal dari tadi, tidak henti hentinya meraba raba bagian tubuh sang istri.
"Ini tangannya bisa di kondisikan ngak sih?!" omel Aisyah, menepuk pelan tangan suaminya itu.
"Abis bikin abang gemes, kenapa ini jadi montok, ini juga" Aldi dengan tidak tau malunya kembali meremas bokong dan Aisyah yang semakin berisi itu.
"Mesum sama istri ngak apa apa sayang, dari pada mesum sama orang lain" kekeh Aldi menaik turunkan alisnya.
"Berani! mesum sama cewek lain" delik Aisyah tajam menatap Aldi.
"Ahahaha... ngak berani sayang, mesum sama ini aja cukup" kekeh Aldi dan memeluk gemes tubuh sang istri.
Bu Isni, Citra dan Bian yang akan masuk ke dalam ruang makan itu, hanya tersenyum melihat kelakuan Aldi yang semakin hari semakin usil itu. Aldi hanya usil kepada istri dan keluarganya saja, lebih dari itu sikap dinginnya yang di lihat orang.
__ADS_1
"Hmm... Hmm... masih ada jomlo di sini, tolong kondisikan kelakuan anda ya tuan" ejek Bian.
Aisyah terkekeh mendengar ucapan Bian tersebut.
"Cari pacar dong Bang, biar ngak jomlo, kapan perlu nanti kita pesta masal" kelakar Aldi.
Bian hanya mendengus kesal mendengar ocehan Aldi itu.
"Abang lagi nunggu Lani" kekeh Bian, yang ingat dengan ponakan kembar Aisyah itu, yang selalu bilang Bian pacarnya dan bila sudah besar nanti Lani akan jadi istri Bian.
Semua yang ada di sana ikut terkekeh mendengar ucapan Bian itu.
"Itu bocah, klau gede ingat ngak ya, bisa bisanya dia bilang mau nikah sama abang, yang ada dia masih remaja abang sudah aki aki" kekeh Aisyah.
"Ahahaha... aki aki hot ya...?!" Bian ikut terkekeh.
"Aku juga bingung sama tuh anak, bisa bisanya asal pulang ke sini, cuma ingat beli oleh oleh buat abang doang" kekeh Aisyah.
Akhirnya sampai sarapan habis, mereka hanya menceritakan kelakuan Lani bocah lucu, keponakan kesayangan Aisyah itu.
__ADS_1
Bersambung....