
"Eggghhh...." lenguh Citra yang mulai sadar dari tidurnya, dia menggeliat namun tidak bisa, karena tubuhnya berasa di himpit pohon besar.
Bagai mana tidak, Bima memeluk tubuh Citra dengan sangat erat, tangan di bahu sang istri dan sebelah kaki besar Bima menindih pinggul Citra bagai memeluk guling.
"Ya ampun.... gimana cara lepasnya ini" gerutu Citra sambil bergerak gerak, agar terlepas dari pelukan sang suami.
"Diam sayang... mau di makan lagi" ucap Bima dengan suara serak nya dan mata masih tertutup.
"Auuu.... kenapa abang di cubit, baru sehari jadi istri kenap sudah kdrt" keluh Bima, karena tangannya di cubit gemes oleh sang istri.
"Lagian abang ngaco, badan aku pada sakit semua, masa mau di serang lagi, mana sudah siang, ngak di kasih makan pula" dengus Citra sebel, perutnya sudah keroncongan, dia melirik jam sudah menunjukan jam 11 siang.
"Mana ada begitu, masih pagi ini" ucap Bima yang masih betah mengekap sang istri, dia belum sadar klau hari sudah siang.
"Pagi apaan, lihat itu jam... sudah jam 11 siang mana ada pagi" gerutu Citra sambil berusaha melepaskan diri dari sang suami.
__ADS_1
"Haa.... masa sih, perasaan masih pagi" ucap Bima membuka mata lebar lebar karena kaget dengan ucapan sang istri.
"Lihat aja itu jam klau ngak percaya" dengus Citra.
"Oouuhhh... Ya ampun.... maaf sayang, abang ngak tau, yuk... mandi, abis itu kita makan, pasti kamu sudah kelaparan" tutur Bima lansung meloncat dari kasur, dan menyibakan selimut yang menutupi tubuh polos sang istri.
"Abangg... malu ih..." oceh Citra dengan wajah sudah memerah menahan malu, karena tubuh toplesnya terpampangnya di lihat sang istri.
"Ngapain harus malu, abang sudah lihat semuanya, abang juga sudah cicipin ini, ini, ini, ini, dan ini" tutur Bima tanpa dosa sambil menunjuk seluruh tubuh sang istri, membuat wajah Citra merona malu.
"Ayo... sekarang mandi" Bima membopong tubuh sang istri ke dalam kamar mandi.
"Ayo keluar" ajak Bima sambil menggandeng tangan Citra, menuju rumah Aisyah, kemana lagi merek selain ke sana, susah pasti rumah ini, belum ada yang buka, dan sudah pasti juga belum ada masakan.
"Widih... nganten bayu, balu bangun tidul" goda Bian dengan meniru gaya bicara Lani.
__ADS_1
Bima hanya menyengir kuda saja, dan Citra menunduk malu, apa lagi banyak orang di taman sana melihat ke arah mereka.
"Sudah sudah jangan di godain, suruh makan dulu, takut pingsan nanti itu orang, mana sudah kerja lembur dari semalam, pasti tenaga mereka sudah terkuras habis, dan butuh amunisi buat perang lagi" ledek Pak Diman ikut menyahuti godaan Bian.
Semakin merah lah wajah Citra, Bima hanya bisa mendengus kesal, dan yang lain terkekeh geli.
"Yuk... dek, kita makan dulu, ngak usah dengerin pak tua itu, mulutnya memang comel kaya Lani, cocok itu mereka klau di gabung" dengus Bima menarik tangan sang istri untuk menuju pintu belakang rumah Aisyah.
Ternyata di dalam dapur yang nyambung dengan ruang makan itu, sudah ada ibu ibu, yang mau bertempur untuk makan siang, siapa lagi klau bukan Bi Wati, Bi Ineke, Bu Isni dan Bu Sri.
"Wahhh.... penganten baru, baru keluar sarang, ngak laper itu perut" goda Bu Sri.
"Bukan lapar lagi Bu, tapi hampir mendobrak lambung kita ini cacing cacing" keluh Bima.
Ibu ibu itu hanya terkekeh dan menyuruh pengantin baru itu untuk makan, mereka tidak mau menggoda lagi, karena melihat wajah Citra dari masuk rumah itu sudah merah merona, mereka yakin pengantin baru itu selesai di godain oleh orang orang yang ada di taman itu.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan vote ya... biar semangat nih...😁😁😁😍😍😍😍