Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 147


__ADS_3

Bu Isni juga ikut sarapan di rumah Aisyah ini kali pertama buat Bu Isni masuk dan juga ikut makan bareng bersama menantu, juga para besanyanya dan tidak lupa dengan orang tua angkat Aldi.


Memang Bu Isni sedikit canggung, namun lama kelamaan rasa canggung itu sirna dengan perlakuan keluarga Aisyah yang begitu menghargai dirinya dan tidak ada perbedaan yang mereka perlihatkan, bahkan Bian dan Citra sang anak juga berbaur tanpa canggung bercanda ria bersama keluarga Aisyah itu.


Pantas saja anaknya itu selama ini betah berlama lama nginap di rumah Aisyah itu, dengan perlakuan baik dan memperlihatkan kasih sayang yang tulus, di berikan oleh keluarga Aisyah itu, Bu Isni kali ini merasa bersyukur anaknya bisa menjadi bagian dari keluarga besar Aisyah itu.


Seperti biasa, setiap keluarga mereka berkumpul pasti akan berada di taman belakang rumah Aisyah itu.


Bu Isni memandang takjub dengan penataan taman yang indah itu, dia begitu terkesan dan mungkin kini tempat poforitnya akan berada di taman belakang itu.


"Waahhhh.... tampannya bagus banget ya Bu..., kayaknya sudah ngak butuh refresing ke luar sana buat menghilangkan stres" cetus Bu Isni, matanya masih menatap kagum halaman itu.

__ADS_1


"Tentu saja, bu.. kami klau ngumpul pasti di sini, ngak pernah keluar sana, di sini aja sudah serasa piknik kekeh Bi Wati.


"Betul Bu, klau keluar belum capeknya, bermacet macetan, belum sewa villanya dan tentunya juga menguras isi kantong kekeh Bu Ineke.


"Benar Bu, klau di sini, kita ngumpul ngak ngeluarin uang banyak, bisa nginap berhari hari tanpa di usir walau ngak bayar uang sewa" kekeh Bu Sri ikut nimbrung.


"Hahhahah.. bisa aja ibu ini, oh... iya dapat di mana penata tamannya bu, saya juga tertarik buat menata taman saya, biar semakin betah di rumah, tapi ngak yakin juga sih, pasti klau Aisyah sudah lahiran, hari hari saya akan di habiskan di sini, mau bermain sama cucu bu, sekalian menebus kesalahan saya sama ayahnya" kekeh Bu Isni, sedikit sendu.


"Waahhh... kayaknya kita akan rebutan merawat cucu kita, nanti setelah Aisyah lahiran kita suruh lagi dia program anak" kekeh Bu Sri, agar mengalihkan kesedihan yang di rasakan bu isni.


"Hahahah...."

__ADS_1


Kesedihan Bu Isni seketika berubah dengan tawa, mendengar celotehan Bu Sri.


"Oh... iya, ini dapat penata taman di mana bu?" tanya Bu Isni, kembali teringat tentang taman itu.


"Ina Aldi semua Bu yang menatanya, kami ngak tau menau, bahkan taman di rumah kita juga dia yang bikin konsep, apa lagi di Cafenya, semuanya ide Aldi, kami hanya sedikit aja ngasih ide, sisanya Aldi" tutur Bi Wati.


"Haa..." Bu Isni lansung ternganga dengan ucapan Bu Wati, dia tidak menyangka, anaknya begitu pintar dan berbakat, sungguh menyesal dia sudah menyia nyiakan Aldi.


"Di rumah saya juga di buat seperti ini bu, tapi ya ngak seindah ini, soalnya kan kita juga pada ngabisin waktu di sini, tapi klau cucu cucu saya pulang sudah di buat taman bermain sama Aldi untuk keponakan keponakannya klau pulang?!" bangga Bu Sri dengan senyum mengembang di bibirnya.


Bu Isni hanya tersenyum kecut, orang lain yang tidak ada hubungan darah dengan Aldi, begitu bangga dengan Aldi, dia orang tua kandungnya malah sebaliknya, tidak pernah mengnggap Aldi ada, bahkan mengusirnya dari rumah, sungguh hati Bu isni kembali sakit mengingat itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2