Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
Bab 142


__ADS_3

Pagi hari Rumah Aisyah sudah ramai oleh para saudaranya, biasa klau liburan begini keluarga Aisyah akan berkumpul di rumah Aisyah, karena taman belakang rumah Aisyah yang luas itu sudah di sulap Aldi menjadi tempat yang nyama untuk berkumpul,


Aldi menata taman itu dengan berbagai macan tanaman, mulai dari buah buahan, sayur sayuran, bunga warna warni dan kolam ikan koi yang lumayan banyak ikannya, taman itu juga di penuhi rumput jepang, mereka bisa menggelar tikar untuk bersantai ria di sana, da juga ada gazebo yang lumayan luas, jadi lah rumah Aisyah tempat paforit mereka untuk bersantai, tidak perlu lagi berwisata.


"Di, Citra sama Bian ke sini ngak?" tanya Bi Wati yang juga mulai dekat dengan kedua saudara Aldi itu.


"Ngak tau deh Bi, soalnya mereka belum ada yang telepon, tumben temenan merek sudah dua hari ngak ada kabar?" ucap Aldi kepada Bi Wati yang sedang membuat sarapan di dapur bersama para wanita, tidak terkecuali Ines dan Sita.


"Abang... telpon kak Citra sama Aba Bian, Ais kangen suruh ke sini...!!" teriak Aisyah dari ruang tv, karena wanita hamil itu di larang ikut berdesak desakan oleh para wanita di sana.


"Baik lah..." pasrah Aldi, yang juga sangat senang istri dan keluarga besar sang istri bisa menerima ke dua saudaranya itu.


Tut....


Tut...


Tut...


[ Assalamualaikum... Bang ]


......


[ Abang sama Kakak apa kabar ]


.....


[ Syukur Alhamdulillah.... kalau gitu ]


.....


[ Kami juga baik kok bang, kemaren habis kontrol kandungan istri aku ]


......

__ADS_1


[ Alhamdulillah.... Ibu sama dedeknya sehat ]


.....


[ Oh... iya bang, mau ke sini ngak, ini pada ngumpul, Aisyah kangen katanya ]


.....


[ Haa.... aa i-iya boleh, ngak apa apa, mudah mudahan baik baik aja ]


.....


[ Iya nanti aku kasih tau ]


.....


[ Iya bang. Assalamualaikum.... ]


Tut...


Setelah menerima telepon Aldi menghempaskan nafasnya kasar, dan sedikit melamun.


Aisyah yang melihat suaminya tidak baik baik aja, lansung mendekat kepada Aldi.


"Ada apa bang?" tanya Aisyah memegang pundak Aldi lembut.


"Oo... Astaga, Ais ngagetin abang" Aldi terlonjak kaget mendapat rabaan di pundaknya.


"Maaf... abis abang kenapa melamun setelah telponan, ada apa?" tanya Aisyah lembut.


"Ngak, ngak ada apa apa" jawab Aldi pelan, namun tidak dengan wajahnya.


"Abang jangan bohong, pasti ada apa apa, klau ngak, ngak mungkin wajah abang kayak gini" jawab Aisyah penuh selidik.

__ADS_1


Madengar Aisyah bicara dengan Aldi, para Pamannya ikut mendekat, dan jangan lupa, pak diman juga ngak ke tinggalan, dia yang lebih dulu melangkah lebar ke hadapan Aldi, walaupun asal ketemu selalu berantam, tapi saat anaknya kenapa napa Pak Diman akan maju paling terdepan.


"Kenapa nak?" tanya pak Diman lembut.


Aldi lansung memeluk bapak angkatnya itu.


"Hai... ada apa, cerita sama bapak, sama paman mu?!" bujuk pak diman sambil menepuk nepuk punggung Aldi, dia tau anaknya itu pasti ada masalah.


"Pak Ibu aku ingin ikut ke sini"


"Haa..." kaget semua nya, namun lansung kembali ke mode awal, agar Aldi nyaman.


"Ngak apa apa, biarin aja dia ke sini, mungkin ada perlu kalu sama kamu" sela Pak Bayu.


"Tapi aku takut Paman, Ibu akan buat ulah" lirih Aldi.


"Jangan takut ada kami, Paman pastikan ngak akan ada apa apa, klau pun ada apa apa, tuh... ada Bapak mu, yang siap untuk perang" kekeh Pak Bayu menunjuk Pak Diman.


"Haa... saya pasti paling terdepan buat ngasih komando, yang akan maju pasti tetap anak buah" kekeh Pak Diman tidak mau kalah.


"Pak Bayu dan Pak Farhan lansung mendelik tidak suka.


"Ngak usah melotot melotot, nanti matanya loncat, lem korea ngak sanggup buat ngerekatinnya" kekeh Pak Diman.


Dua laki laki paruh baya itu hanya mendengus kesal, mendengar penuturan Pak Diman.


Bima hanya terkekeh melihat keluarganya itu, lagi masalah serius masih saja sempat untuk bercanda.


"Ya sudah, biarin saja ibu kamu ke sini, abang yakin dia ngak akan berani macam macam" putus Bima.


Aldi hanya mengangguk tanda mengerti.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2