Suamiku Yang Tak Dianggap

Suamiku Yang Tak Dianggap
bab 65


__ADS_3

"Waahhh.... ini tamannya kenapa bisa jadi semangkin bagus aja nih!?" celoteh Bima.


"Baru juga semalam dari sini masih berantakan, nah pagi udah cakep aja nih! siapa yang ngerapiin!" tanya Bima yang tidak sengaja matanya melihat taman bunga Aisyah.


Semua mata jadi beralih fokus ke arah taman, mata mereka langsung berbinar, melihat taman Aisyah jadi rapi dan penataan bunganya begitu memanjakan mata, membuat orang akan betah, berlama lama duduk di sana, tempatnya menenangkan, dan kolam ikan itu sudah jernih dan bisa melihat beragam dan warna ikan di sana, di tambah lagi bunyi gemericik air, dari kolam ikan buatan itu, semangkin menenangkan jiwa.


Semua langsung berdecak kagum, melihat taman tersebut.


"Nyari tukang kebun dimana ca? kaka juga mau dong di rombak taman depan itu, biar betah lama lama disana?!" tanya Ines.


"Enak saja tukang kebun!" cemberut Aisyah.


"Suami Ais lah ngerjain, dari pulang mesjid tadi, keren kan!" sombong Aisyah.


"Beneran Di? kamu yang bikin?" tanya Pak Bayu seolah tak percaya.

__ADS_1


Soalnya halaman rumah Aisyah lumayan luas, seolah meragukan kemampuan Aldi, dia ngak tau aja klau Aldi dari umur 7th sudah terbiasa kerja keras, jadi mengerjakan halaman Aisyah tidak lah sulit baginya.


"Iya tadi pulang dari mesjid dari pada ngak ada kerjaan, ya sudah aku beberes taman aja, sekalian nunggu sarapan datang!" cengir Aldi.


Semua tersenyum salut sama Aldi, tidak menyangka, dengan umur yang masih 18 mau 19th itu sangat cekatan.


"Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu! nanti lanjut lagi ngobrolnya!" titah Bu Ineke.


"Akhirnya semua orang masuk kedalam rumah Aisyah, semangkin masuk mereka, bertambah bengong, rumah Aisyah sungguh rapi, walau selama ini tetap rapi, tapi beda dengan sekarang, tatananya membuat orang di sana cengok, segala perabutan, sudah Aldi putar putar, menjadi lebih nyaman dan dia sengaja memberi bunga bunga hidup di setiap pojok ruangan.


"Kamu bangun jam berapa si Di?" tanya Pak Farhan ikut nimbrung saking penasaranya, yang biasanya si bapak yang paling pendiam dan tidak banyak komen itu, malah jadi cerewet dan kepo.


"Kayaknya kamu salah ambil jurusan deh, kenapa ngak ambil jurusan arsitek aja?", tanya Bima.


Aldi tersenyum canggung.

__ADS_1


"ini cuma kebiasaan aja kak, ngisi ke kekosongan waktu?!" kekehnya Aldi.


"Ya sudah! nanti kamu ikut Paman aja ke cafe biar kamu lihat bangunannya, trus kamu keluarin idemu di sana!", tandas Pak Bayu tidak bisa di tolak dan di anggukin yang lain, mereka yakin konsep Aldi pasti lebih bagus, walaupun tidak menghilangkan ide ide dari yang sudah mereka keluarkan.


"Tapi Ais gimana sama siapa dia di rumah, kalau aku ikut paman?, Aldi agak keberatan ninggalin Aisyah sendirian di rumah, takut terjadi apa apa dasar bucin ya, padahal mah saudara Aisyah banyak yang nemenin, Aldi nya aja yang ngak mau pisah sama istri.


"Tenang aja noh lihat banyak tuh! para dayang dayangnya yang jagain, kamu tenang aja?!" sambung Pak Farhan, yang juga ikut penasaran dengan ide apa yang akan di keluarkan Aldi dan seandainya itu bagus dia akan ikut berinfestasi di sana, lumayan tambah tambah uang jajan istri, dia yakin Aldi mampu membuat konsep lebih bagus lagi.


"Tumben Ayah semangat banget pengen ikut sama mereka, selama ini di suruh nemanin Mas Bayu banyak banget alasannya, yang encok lah, yang meriang, sakit gigi, segala penyakit di jadiin tameng", sungut Bu Wati.


Hehehe...


"Kepo aja Bu, sama konsep Aldi, apa lebih menarik dari konsep kita yang kita bikin?!" ucap Pak Farhan dan itu dapat cibiran dari Putrinya.


Ncek... Bilang saja gara gara ada Aldi!" sindir Sita

__ADS_1


Pak Farhan hanya nyengir kuda.


Bersambung....


__ADS_2