
Aisyah dan Aldi hanya tersenyum dan geleng gelang kepala, melihat kelakuan keluarga nya, mau heran tapi itu lah mereka yang selalu ribut di mana pun.
Pak Farhan sungguh menyesal telah menyakiti hati istrinya dan anak anaknya, bukanya menderita setelah tidak bersamanya lagi, justru Bu Isni semakin bersinar di masa tuanya, banyak tersenyum dan rendah hati, jauh berbeda saat bersamanya, Bu Isni jarang tersenyum, senyumnya seperlunya aja, tidak seperti sekarang, dan anak anaknya juga sama begitu terlihat sangat bahagia, berbeda jauh kehidupan bersama Angga yang mulai morat marit tanpa harta Bu Isni.
"Bu, apa kita ngak bisa rujuk lagi?' tanya Pak Farhan pelan dan hati hati, dia menggunakan ke sempatan itu dengan baik, aji mumpung mereka bisa berdiri berdua.
"Tidak... saya sudah bahagian dengan hidup saya yang sekarang, saya lebih berguna sekarang dari pada dulu saat hidup bersama mu, kenapa mas minta saya kembali sama mas, apa hidup kalian sedang tidak baik baik saja, dan sudah kekurangan uang?" sinis Bu Isni.
"Bukan, bukan begitu, maafkan aku, aku khilaf" ucap Pak Farhan.
"Ncek... khilaf apa serakah, ingin memiliki dua duanya, dan satu lagi mas orang ngak tau diri, sudah hidup miskin dan di angkat derajat mas sama keluarga saya, namun mas berani beraninya berselingkuh di belakang saya, saya rela membesarkan anak haram mas, dengan lapa dada, tapi apa balasannya, sudah lah mas, jangan merusak acara anak saya!" kesal Bu Isni.
Pak Farhan hanya terdiam mendengar perkataan Bu Isni, memang apa yang di katakan Bu Isni tidak ada yang salah, semuanya benar, sekarang baru menyesal setelah kehilangan semuanya.
Jam demi jam berlalu, hingga sampai di penghujung acara, ke dua pasang pengantin itu, sudah duluan pulang ke rumah masing masing.
__ADS_1
Bima masuk ke dalam kamar sang istri yang berada di rumah mertuanya itu.
"A-bang..." gagap Citra saat suaminya itu mendekat ke arahnya, yang sedang duduk di meja rias, untuk menghapus mike up nya, dan membuka konde dan pakaian pengantin yang masih terpasang di tubuhnya.
"Butuh bantuan" tawar Bima mendekat ke arah sang istri, dan memeluk Citra dari belakang, tak lupa menarok dagunya di pundak sang istri, membuat Citra salah tingkah.
"Abang ih... geser, aku belum selesai" rengek Citra, karena grori di perlakukan seperti itu oleh suaminya.
Cup....
Bima terkekeh dan mengcup leher sang istri yang menggoda imannya dari tadi.
Glek....
Membuat jakun Bima turun naik, melihat kulit putih mulus sang istri, apa lagi melihat pantulan wajah Citra yang bersemu merah karena malu, mata Bima turun ke bawah menatap dua gundukan yang masih tertutup oleh kain kecil, namun tidak tertutup sempurna, karena gundukan itu menyembul dan membuat belahanya begitu nyata di mata Bima, membuat ular kobra yang sedang tidur pulas itu, bangun dengan semangat empat lima.
__ADS_1
"Oh... Tuhan indah sekali" Bima bergumam, dan tampa ba bi bu, dan tampa permisi tangan nakalnya lansung aktif bergerilya di gunu himalaya itu, membuat Citra menahan nafas, karena malu dengan perlakuan suaminya itu, membuat di yang di bawah sana lansung berkedut ingin meminta lebih.
Cup...
Nanti kita lanjut ya, sudah mau magrib, ngak enak sama yang lain, walau abang mau masuk ke dalam sumur ini" kekeh Bima dengan suara serak, dan mata sayunya.
Citra hanya mengangguk malu malu, karena tubuhnya sudah polos tanpa benang satupun.
Dan jangan lupa, tubuh putih mulus Citra sudah berubah warna dengan merah ke unguan, karena ulah sang suami.
"Aku mau mandi dulu" ucap Citra dan kabur dari sana dengan tubuh polosnya.
"Aaaggghhh.... itu menggemaskan pengen nyerang sekarang deh, klau ngak ingat mau magrib dan makan malam" keluh Bima menatap nanar ke pergian sang istri dan beralih melihat si otong masih berdiri dengan perkasa di bawah sana.
"Huufff... sabat tong, nanti malam kita garap sawah ok, sekarang kita biarkan dia lepas dulu, namun tidak untuk malam nanti, kita buat dia tidak tidak tidur sampai pagi" kekeh Bima sorangan.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen toh, sesekali kasih hadiah boleh juga tuh💃💃💃