
keyra menaruh tas ke dalam laci, tak begitu lama killa menyusul masuk. cemberut menatap keyra yang mulai mengambil penghapus, lalu menghapus sisa tulisan di white board depan kelas.
"diih, ninggalin" kesal killa, menaruh tasnya di dalam laci.
keyra sedikit menoleh, tertawa kecil.
"kamu kan lagi kepo sama mobil mewahnya"
mendudukkan pantat di kursi, lalu tersenyum lebar.
"iya, tapi aku juga nggak kenal siapa yang datang tadi itu. dia belum pernah kesini sebelumnya"
tak terlalu menanggapi cerita killa, keyra fokus membersihkan meja guru dan mengisi absensi di depan kelas. berkumpul dengan teman teman sekolah, itu bisa membuat hatinya merasa lebih baik dan melupakan semua masalah.
"key"
panggilan yang membuat keyra menghentikan aktifitas. menoleh, kini menatap ansel yang masuk ke dalam kelas. sedikit mengulas senyum, lalu tangannya kembali mengisi daftar hadir.
"baru datang, sel" basa basi itu yang dia ucapkan. padahal dia tadi menghindari untuk tak bertemu dengannya.
"kamu udah sembuh? "
keyra ngangguk tanpa beralih tatap.
"udah kok. kemarin udah minum obat"
"syukurlah"
ansel berjalan santai, berdiri dengan bokong yang menyandar dimeja deretan depan. menatap keyra dari belakang. tubuhnya memang mungil, tapi dimata ansel, dia sangat menarik. terlebih sepulangnya dari jakarta, tampilan keyra jauh berbeda.
__ADS_1
rambutnya yang jadi sedikit coklat dan sering diikat kuda, ada poni tipis yang hampir menutupi mata.alu senyum manis dengan lesung pipi itu, terlihat semakin cantik dan membuatnya tak bisa berpaling. ansel menunduk, menyembunyikan senyum jatuh cintanya.
"ansel, kamu sudah datang" suara dari pintu kelas membuat keyra dan ansel menoleh ke arah sana.
mawar tersenyum lebar ke arah ansel, dan itu membuat kening keyra berkerut. ada yang berbeda dari cara mawar natap ansel.
ansel ngangguk, terlihat cuek, melanjutkan langkah menuju mejanya. mawar tersenyum bahagia, menyapa keyra, lalu di mejanya yang memang tak jauh dari ansel. tak begitu lama terdengar suara heboh yang menuju ke kelas, dan ternyata itu adalah suara tania, ilham, dan beberapa teman sekelas.
"bantuan apa sih? " tanya keyra yang hanya mendengar sekilas.
"sekolah kita dapat bantuan, key. ada seorang milyader dari kota yang ngasih bantuan buat bangun kelas seni dan ngasih fasilitas lainnya juga. termasuk ratusan komputer yang tentu bagus"
"oh, pantesan, kemarin aku dengar, sekolahan kita mau nambah kelas juga, katanya sih buat kelas ekskul jahit sama.... sama apa ya, aku lupa" sahut yang lain.
"kek nya seni nyanyi deh, main piano, gitar dan yang lainnya. termasuk ada drumnya juga" sahut ansel yang ikutan nimbrung.
keyra geleng kepala, terkejut dan ikut bahagia mendengar kabar sekolah nya akan lebih lengkap.
"iya sih, tapi bangga juga, sekolah kita jadi tambah lebih baik lagi" tania mengimbuhi.
keyra yang sejak tadi sibuk sendiri di mejanya, kini beranjak, ikut gabung sama teman teman yang berkerumun.
"eh, yang ngasih bantuan yang tadi pagi pakai mobil mewah itu bukan sih? "
ilham memetik tangan, lalu menuding.
"yups, bener. dia yang nyumbang uang hampir lima ratus juta"
semuanya melongo dengan keterkejutan yang sama. termasuk keyra yang terkejut dengan nominal itu. omongan satu kelas itu berakhir saat bel tanda pelajaran dimulai sudah berbunyi. semua siswa kelas 12 IPAIII keluar bersamaan menuju lapangan olahraga.
__ADS_1
sangat kentara jika ansel selalu memperhatikan keyra, seperti tak ingin melewatkan apapun yang dilewatkan gadis mungil itu. mawar yang sebenarnya menyimpan rasa, sedikit cemberut. cemburu tentunya, dan merasa sangat iri, tapi dia tetap diam menyembunyikan rasanya. sangat yakin jika keyra tak mempunyai perasaan yang sama, karena malam minggu kemarin ansel mengajaknya nonton konser berdua.
##
pak tomi mengantar tamunya berkeliling melihat bagian bagian sekolah dan beberapa kerusakan yang memang perlu diperbaiki. sebenarnya bukan karena sekolahan yang nggak mampu, hanya saja memang dananya masih kurang, jadi perbaikan belum dilakukan.
lelaki berumur empat puluh tujuh tahun ini ngangguk, pandangan nya tertuju kearah lapangan basket. menatap fokus di satu siswi yang lama ia rindukan. tersenyum, sangat bahagia melihat gadis mungil yang kini tertawa, bercanda bersama teman temannya.
"itu kelas dua belas pak. jam pertama mereka jam olahraga." terang pak tomi yang ikut memperhatikan pemanasan disana.
lelaki berumur yang masih tergurat ketampanannya ini, ngangguk.
"awal semester besok, saya akan memasukkan anak saya kesini, pak. dan... saya meminta untuk dimasukkan dikelas mereka" menuding kelas keyra yang ada di lapangan.
pak tomi menatap ke arah telunjuk tamunya, yang tak lain adalah abram, papa mertua keyra.
"saya enggak menyogok dengan bantuan yang saya beri, pak. karena insyaallah nilai raport anak saya bagus, untuk semester sekarang" berusaha menjelaskan maksud bantuan yang diberi, karena dia bukan tipe orang yang bermain curang.
"ah, iya, pak. dengan senang hati saya akan menerima anak bapak di sekolahan ini" senyum tak pernah pudar selama berbicara dengan abram.
abram ngangguk, dia juga bahagia.
"terima kasih, pak. besok, jika anak saya sudah ada disini, saya minta ke bapak. tolong jangan spesial kan dia. perlakukan sama, seperti anak anak yang lain"
pak tomi diam, lalu mengulas senyum penuh kagum. sosok didepannya sangat membuatnya kagum, dia tidak sombong, sukses dan suka membantu. tak salah sahabatnya mengenalkannya pada abram.
"baik pak. semoga... anak pak abram besok bisa betah dan tidak bingung mengikuti pelajaran disini"
keduanya kembali melanjutkan langkah.
__ADS_1
-Happy Readingš-
Jangan lupa like and voteš¤