
ceklek!
detik berlalu, kini suara pintu diruangan gelap tempat persembunyian bryan dibuka. sorot cahaya terang dari luar masuk ke dalam ruangan, membuat bryan bisa dengan jelas melihat bayangan lelaki berbadan kekar dengan rambut gondrong.
kedua tangan dara bergetar, tak bisa digambarkan lagi ketakutannya seperti apa. makin mengeratkan cengkeramannya dilengan bryan.
klek!
lampu menyala, saklarnya dihidupkan oleh lelaki itu. kedua mata dara melotot saat melihat ada banyak tikus tepat disampingnya.
"aa--hppff.. !"
teriakannya terbungkam oleh bibir bryan. dan kini mata itu semakin melotot saat sadar bahwa bibirnya dan bibir bryan dalam kondisi menyatu. bryan menekan kepala belakang dara saat gadis itu hendak mundur, membuat bibir mereka tetap menyatu tanpa gerakan apapun.
dara menatap mata bryan yang juga menatapnya, tatapan redup, berkedip, seakan menginterupsi. menyuruhnya untuk tetap diam dengan posisi seperti ini. akhirnya memilih menurut, diam dengan mata yang saling bertatapan.
klekk!
seseorang yang tadi masuk, melangkah keluar. lalu kembali menutup pintu. membuat suasana di dalam ruangan kembali gelap dan sedikit pengap. cepat dara mendorong dadaa bryan, lalu meraup oksigen yang seakan tak bisa ia dapat. mengusap bibirnya yang tentu basah karena bibir bryan.
__ADS_1
"maaf dar. gue nggak bermaksud apa apa. gue cuma takut kalo kita ketahuan" ungkapnya.
dara ngangguk, mencoba mengatur nafas agar tetap baik baik saja.
"iya, aku tau"
bryan merogoh saku celana, mengambil ponsel. mencari nomor viko, lalu melakukan panggilan telpon. menempelkannya ditelinga setelah telponnya terhubung.
"hallo nyet, gue di dalam mushola, masuk gang sempaak" ngomong nya dengan berbisik. tentu takut jika didengar oleh penguntit yang kemungkinan masih ada diluar.
"hah?! maksudnya, lo lagi masuk di selangkangann dara? " sayangnya lelucon viko nggak tepat waktu, membuat bryan mencebik kesal.
cepat dara berhambur memeluk bryan, menyembunyikan kepala di dadaa pria yang setengah tahun lebih, dekat dengannya. detak jantung keduanya terdengar sangat cepat, menahan ketakutan yang luar biasa.
"keluar, anjiing! gue tau kalian sembunyi disini! " teriak lelaki itu lagi.
dara merem dalam, tak terasa air mata keluar, membasahi kedua pipi putihnya. satu tangan mencengkeram erat lengan bryan yang melingkar dipunggungnya. merasakan jika ada air yang menetes di lengan, bryan mengurai pelukan, menatap wajah dara yang udah banjir air mata.
tangannya bergerak mengusap kedua pipi itu, tatapannya tertuju ke bibir yang bergetar karena ketakutan.
__ADS_1
brakk!
spontan bryan menarik dara kembali ke pelukannya, merem, mencengkeram leher dara bagian belakang dengan dadaa yang berdebar. suara kursi yang ditendang, kini kursi rusak itu ada tepat dibelakang dara. detak jantung kedua anak ini bersahutan seiring langkah kaki yang kian mendekat.
"nggak usah sembunyi, bancii! gue tau kalian ada disini" suara yang terdengar sangat dekat itu membuat satu tangan bryan mencekal erat bongkahan kaki kursi disampingnya. ia bersiap melawan jika lelaki ini mengetahui keberadaanya.
ssrekk!
sreek!
ssreek!
keringat menetes dari pelipis dan kening. suara hembusan nafas yang sangat kasar dari mulut bryan membuat tangis dara makin tak terbendung.
semua ini mengingatkan bryan akan kejadian beberapa bulan lalu. kejadian yang hampir membawa nyawanya pergi. langkah kaki itu semakin mendekat, membuat bryan benar benar
mengangkat bongkahan kaki kursi itu.
-Happy Readingš-
__ADS_1
Jangan lupa like and voteš¤