
"key" ansel duduk di kursi kosong sebelah keyra.
keyra terlihat cuek, menatap ke lain arah, membuang nafas kasar. melampiaskan kekesalan pada teman temannya yang ganjen sama elvanno.
"key" panggil ansel lagi.
"eh, iya, kenapa sel? " tanyanya, kini menoleh, menatap ansel yang ternyata memperhatikannya sejak tadi.
raut kecewa itu terlihat jelas di wajah ansel. gusar, karena dari ekspresi keyra, sangat kentara jika ia memiliki rasa yang lain sama elvanno.
"kamu.... kamu udah serumah lagi sama dia? "
keyra sedikit mengerucut, lalu geleng kepala.
"aku nggak tau kalo elvanno ada di bogor. ini aku masih syok liat dia bogor, malah ternyata... pindah sekolah"
ansel menyunggingkan senyum, menyangga kepala dengan satu tangan, menatap keyra yang masih saja manyun.
"pasti kamu seneng banget, bisa bareng lagi sama dia"
keyra mendekik, terlihat gugup.
"enggak kok. aku kan pulang ke bogor karena mau ngejauh dari dia. nggak taunya, dia malah nyusul kesini" melipat kedua tangan di depan dadaa, manyun, terlihat sekali jika ia tengah kesal.
"kamu kesal karena dia di deketin sama teman teman? "
wajah keyra memerah, malu karena ketahuan apa yang sebenarnya ia rasa. tapi.... nggak mungkin juga kan, jujur gitu aja. gengsi banget pastinya.
"diih, siapa bilang! enggak kok. aku biasa aja" sanggahnya.
ansel mengulas senyum, dia tahu keyra hanya sedang menyembunyikan perasaannya. mungkin terlalu malu mengakui jika benar benar menyukai elvanno.
"ke kantin yuk" ajak ansel.
keyra diam, bibirnya masih saja mengerucut. pengen banget ke kantin, biar bisa liat elvanno lagi. karena sejujurnya, dia masih pengen natap wajah itu, lalu aroma parfum yang selalu sama. selalu mengingatkan saat saat dia berada dalam dekapan.
tapi, ingat ketiga temannya yang ganjen nyeret lengan suami tadi. itu membuatnya malas, kesal dan pengen banget maki mereka.
"ayo" ajak ansel lagi.
"uumm, aku enggak deh, sel. aku males ke kantin" memilih bertahan untuk tak mengintili mereka.
__ADS_1
ansel ngangguk, mencoba mengerti. lalu beranjak dari duduk.
"yaudah, aku mau ke kantin dulu. haus banget. "
keyra memaksakan untuk tetap tersenyum, menatap kepergian ansel. kembali menyentak nafas kasar, memijat pelipis yang beneran berkedut. rasa kesalnya melihat suami dikerumuni cewek cewek membuat kepala sampai berkedut.
"yaampun, ini baru setengah hari lho. gimana kalo setengah tahun? " geleng kepala.
"nggak kebayang.... pasti elvanno kesenengan disanjung banyak ciwi. dasar sok ganteng! sukanya tebar pesona! huuh, nyebelin" ngomel sendiri.
menyandarkan punggung ke tembok, tatapannya menerawang, membayangkan wajah suami tadi. tangannya mencengkeram erat baju dibagian dadaa. mengingat wajah serius elvanno dengan aroma parfum itu, hatinya berdesir hebat. membuatnya merasa kesulitan bernafas dengan tiba tiba.
keyra menjatuhkan kening ke tepi meja, menyembunyikan wajah disana. matanya berkaca kaca menahan sesuatu yang... entah apa.
"yaampun... kenapa rasanya menggebu banget siih" lirihnya, bergumam sendiri.
"aku pengen dipeluk.... yang lama. kangen banget nyium bau tubuhnya. ngusel di dadaa... arrgghh! "
"kangen sama siapa? "
spontan keyra mengangkat kepala, menatap ke arah suara yang ternyata ada disampingnya. ia berusaha keras menelan ludah yang macet ditenggorokan. wajahnya terasa panas melihat suami yang kini menyangga kepala, lalu menatapnya dengan sangat teduh.
"kangen gue? " kembali elvanno menggoda.
"diih, dia dengar. masa iya, aku jujur kalo kangen kamu" bathin keyra.
beringsut, kali ini menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. menatap depan dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadaa.
"harus nya kalo lo kangen, balas dong chat gue, bukan cuma di read doang"
keyra manyun setelah berhasil menguasai diri, menoleh, menatap elvanno dengan tak suka.
"jangan geer deh! aku sama sekali enggak kangen kamu" lalu melengos.
elvanno sedikit menyunggingkan senyum.
"oh, kirain tadi cemburu, liat gue di deketin sama teman teman lo"
keyra menoleh cepat, tambah kesel natap suami yang sedikit mengulas senyum.
"kepedean kamu tuh! aku nggak peduli, kamu mau dekat sama siapa! "
__ADS_1
"nih" tania meletakkan susu kotak sama roti dimeja depan elvanno.
"kamu nggak jadi ke kantin,kan. jadi aku beliin itu"
elvanno melirik keyra yang makin cemberut. meraih pemberian tania, lalu tersenyum manis.
"makasih ya. tapi, lain kali nggak usah repot repot kek gini"
tania yang emang tertarik sama elvanno, balas senyum.
"enggak repot, malah aku seneng banget kalo bisa masakin buat kamu tiap hari. lalu kita akan makan bersama, dan tentu pulang dirumah yang sama. hahaha.... jadi istri maksudnya"
"ngehalu mulu! " sembur keyra tak suka dengan mentonyor kening tania.
tania mengerucut, mengelus kening bekas tonyoran keyra.
"diih, sirik aja! nggak apa dong, ngehalu jadi istrinya elvanno, kali aja dari ngehalu bakalan kenyataan. hihi... "
keyra makin manyun, mencebik tak suka menatap tania yang masih aja ngegoda elvanno. elvanno tertawa kecil, tapi bersorak dalam hati. seneng banget liat keyra cemburu, dan ini untuk pertama kali keyra seperti ini.
"eh, elvanno, mau ya, foto bareng" killa yang baru masuk bareng vera langsung mendekat.
"iya, rame rame kok, nggak cuma berdua" timpal mawar yang ikutan.
"diihhh, kalian kek nggak pernah liat cowok aja. ganjen banget! " sergah keyra, menatap tak suka.
"di kata ganjen ke elvanno mah, nggak masalah" sahut tania.
vera ngangguk, mengiyakan.
"elvanno emang ganteng lho. di sekolahan kita ini, nggak ada yang seganteng dia. "
"wangi, tubuhnya atletis, kalo menurut aku nih, dia mirip xukun"
"nah, iya, bener. senyumnya manis banget, mirip banget sama xukun nya nine percent" killa terlihat lebih girang dari tadi.
keyra mendekik, makin kesal. terlebih melihat elvanno yang mulai tersenyum kesenengan. posenya sangat manis saat kamera ponsel milik killa mulai mengarah ke mereka semua. daripada tambah jantungan, keyra memilih menjatuhkan kepala ke meja, menghadap tembok, lalu merem.
-Happy Readingš-
Jangan Lupa like and voteš¤
__ADS_1