
mama meringis kesakitan, tapi memberi anggukan sebagai jawaban. membiarkan lelaki yang memakai hoddie ini terus mencekal lengannya dengan sangat kencang. tubuh keyra menegang, takut banget melihat sesuatu terjadi sana mama mertua. berkali ia melirik pintu yang terbuka lebar. akhirnya berdiri, berjalan menuju pintu, menoleh keluar, tapi elvanno tak juga datang membawa dokter.
menit berlalu, dokter dan suster masuk, menyuruh ketiga nya menyingkir. mereka melakukan pemeriksaan, tapi sebelumnya, mengikat lengan mama dengan kencang agar darah beracun itu tak menyebar ke organ lain.
elvanno segera merogoh saku celana, mengambil ponsel. mencari nomor tristan dan melakukan panggilan telpon.
##
"bajiingan!! dasar ibliis! " tak hentinya elvanno ngumpat kasar. menyugar rambut dengan penyesalan luar biasa.
tristan mengelus punggung elvanno, dia sendiri menyesal karena gagal menjaga mama.
"buat pelajaran, van. lain kali, kita harus lebih waspada"
"tapi karena orang itu, sekarang tangan mama lumpuh" kedua mata elvanno memerah, menggigit bibir bawah, pelan bulir itu menetes. sakit banget liat mamanya disakiti seperti ini. ia mendudukkan pantat di kursi balkon.
tristan menyentak nafas kasar.
"brengsekk! " tangannya mengepal erat, mengingat wati, wanita yang dulu sudah pernah menghancurkan kebahagiaannya. rasa kesal dan ingin balas dendam itu kembali muncul.
"gue nggak akan biarin wati menghirup oksigen dengan tenang". merem dalam, menghirup nafas panjang,lalu mengeluarkannya pelan.
tristan mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya. membiarkan kepulan asap itu menguar ke udara.
" berarti kita butuh satu penjaga di depan pintu ruang rawat mama"
elvanno menoleh, menatap tristan dengan serius, lalu ngangguk.
"ya, harus ada yang jaga di depan ruang rawat mama. gue nggak mau sampai hal mengerikan terjadi lagi"
"yaudah, ntar gue ngomong ke marina. " tristan kembali menghisap rokoknya, detik kemudian, asap keluar dengan pelan melalui mulutnya.
"lo nggak tau kan, kemaren malam bryan sama dara jadi sasaran mereka?"
elvanno terbelalak, tentu sangat terkejut mendengar kabar ini.
"tapi, mereka selamat kan? "
tristan ngangguk, kembali menghisap rokok, membuang kepulan asapnya ke udara.
"marina, viko dana dava gerak cepat" menyunggingkan bibir dengan gelengan pelan.
"memang brengsekk wati dan vita itu! otaknya udah dijajah sama revan si penjahat kelamin! "
__ADS_1
elvanno mengeratkan kepalan tangan, kini dadaanya semakin sesak karena memikirkan ulah para penguntit itu.
"kak, kenapa kita nggak gerak cepat? kita nggak mungkin diam kek gini"
"gue punya rencana" tristan menoleh, menatap wajah adiknya lekat.
"apa? " kening elvanno berkerut.
tristan menyunggingkan senyum iblisnya.
"karena devi ada sama gue, gue mau buat permainan cantik sama dia. kita basmi semua dari akar itu"
elvanno tersenyum miring, lalu ngangguk.
"setuju! gue harus ikut andil dibagian ini. si sundall itu emang harus dapat balasan yang setimpal"
"kebangetan lo! " tristan geleng kepala, nonyor kepala elvanno.
"apa sih! " mencebik kesal sambil mengelus kepala bekas tonyoran kakaknya.
"lo lupa, dia mantan pacar lo! bacott lo ngomongnya terlalu kasar. nggak inget apa, kalian dulu pernah sosor sosoran hm? " tristan menahan tawa saat mengatakan ini, terlebih melihat wajah adiknya yang bergidik, seakan melihat sesuatu yang begitu menjijikkan.
"iissh! nyesal pernah pacaran sama dia" kedua bahu itu kembali bergidik.
"jujur deh, lo udah pernah pakai dia? " tanya nya dengan berbisik.
elvanno langsung mentonyor kening tristan.
"nggak! nggak pernah! nyentuh usus nya pun belom pernah! "
tristan tercengang, menatap adiknya dengan sangat tak percaya, sampai keningnya berkerut.
"serius? dia nggak pernah ngajakin lo main sodor? "
"pernahlah! "
tristan kembali menyandarkan punggung kesandaran belakang, menyunggingkan senyum dengan melirik adiknya.
"berarti elo udah nggak virgiin? "
"masih, babi! gue masih virgiin" jawabnya kesal.
"lha, katanya udah pernah sama devi"
__ADS_1
"gue kan nggak mau"
"kok bego? "
"iisshh! gue bukan elo yang udah nggak lagi perawaan! "
mendengar jawaban adiknya, tristan hanya terkekeh, kembali tangannya menyelipkan rokok kemulut.
sedangkan elvanno ngambil bungkus rokok milik tristan, lalu melemparnya keatas meja saat sudah menyelipkan sebatang dimulut. menyalakan korek, detik kemudian mengepulkan asap melalui mulut dan hidungnya.
"izroil, kamu ngerokok lagi? "
elvanno tercengang saat tiba tiba keyra berdiri didepannya. menatap sebatang rokok yang tersemat dijari. lalu nyengir.
"cuma sekali, key"
keyra berkacak pinggang dengan mulut manyunnya.
"sebungkus juga nggak apa! tapi nggak boleh ***** aku lagi ya! aku nggak mau ***** kalo mulutmu rasa rokok! " abis ngomong itu, keyra ngeloyor pergi.
hening, lalu...
"hahahaha.... " tawa tristan lepas begitu saja saat mendengar omelan adik iparnya yang sangat absurd.
"aduuh.... perut gue sampai sakit. dasar adik sialan! bikin mulut pegel"
tak peduliin kakaknya yang menertawakan, elvanno segera mematikan rokok keasbak, lalu beranjak. berlari masuk kedalam kamar mengejar istrinya yang pasti akan ngambek. menatap keyra yang udah bobok miring diatas kasur. dia langsung ikutan naik, merebahkan tubuh dibelakangnya. melingkarkan tangan di perut tipis keyra, mencium pipi chubby itu dari belakang. cepat keyra mendorong kepala elvanno, lalu mengelap pipi bekas bibir suami.
"jangan cium cium. kamu bauk! " sewotnya dengan mulut manyun.
elvanno menatap wajah cantik itu dari atas.
"enggak jadi ngerokok kok. cuma sehisap doang"
bibir keyra masih manyun, melirik elvanno. walau kesal, tapi seneng, karena elvanno mengejarnya dan meninggalkan rokok itu.
"beberapa hisap juga boleh" ngomongnya, masih dengan mulut yang manyun.
kedua alis elvanno bertaut,
"maksudnya, hisap bibir kamu? "
-Happy Readingš-
__ADS_1
Jangan lupa like and voteš¤