
telpon berakhir, elvanno tak berkedip. mata masih melotot dengan degup jantung yang kini lebih cepat. ada rasa nyeri memikirkan mamanya di jakarta.
'apa yang terjadi, kenapa mama nya bisa sampai di rumah sakit? '
banyak pertanyaan yang bahkan dia sendiri tak mampu menebak apa jawabannya. menoleh saat merasa ada usapan lembut di punggung.
"mama kenapa? " tanya keyra yang juga nggak ngerti.
elvanno geleng kepala.
"aku harus ke jakarta,key. kamu mau ikut? "
keyra diam, mengerjap beberapa kali lalu nunduk dengan menggigit bibir bawah. rasa takut itu masih menghantui. bisa menerima kehadiran elvanno lagi, itu butuh waktu yang enggak sebentar. lalu... jika harus balik ke jakarta lagi, itu.... itu menakutkan.
setelah beberapa menit diam, ia mulai mengangkat kepala.
"izroil, aku... aku masih takut" ungkapnya, mencengkeram ujung kaos.
elvanno meletakkan ponsel di kasur. beringsut, membingkai wajah istrinya.
"aku mungkin pernah lalai jagain kamu,key. tapi aku janji, aku bakal lindungi kamu dengan nyawaku"
mereka saling tatap, keyra sendiri bingung harus ngomong apa. kembali menggigit bibir bawah.
"tapi... gimana sekolah kita? "
"nanti biar papa yang urus"
kening keyra berkerut, lengkap sama ekspresi cengonya.
"pak tomi itu temennya temen papa. jadi... gampanglah" jelasnya, membuat keyra hembusin nafas panjang, mulai paham.
"mau ya, balik ke jakarta bareng aku" ajaknya lagi.
keyra ketap ketip, lalu... ngangguk.
__ADS_1
"tapi... kamu jangan pernah jauh dari aku ya. aku masih takut"
mendengar jawaban keyra, elvanno mengulas senyum, meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukan.
"iya sayang. aku pasti akan selalu sama kamu terus"
elvanno dan keyra nggak bisa langsung berangkat, karena tiket kereta sisa satu, dan itu nggak mungkin elvanno ambil. terpaksa mereka ikut keberangkatan jam empat pagi. begitu sampai di stasiun, mereka langsung memesan taksi, tujuannya adalah ke rumah sakit yang udah diinfokan sama tristan.
beberapa menit berlalu, taksi yang membawa kedua bocah berstatus suami istri ini berhenti tepat di depan rumah sakit. mereka segera turun setelah membayar tagihan.
bergandengan tangan ala pasangan yang berlari mengejar impian. sayangnya pasangan yang satu ini berlari masuk ke karidor rumah sakit jakarta. dari kejauhan, bisa dilihat tristan dan pak abram duduk di depan ruang ICU dengan wajah sedih penuh kekhawatiran.
"papa! " seru elvanno.
kedua pria itu menoleh kearah datangnya suara. berdiri dengan bersamaan, tanpa aba aba, tristan langsung memeluk elvanno. keduanya berpelukan erat, menumpahkan tangis khawatir pada mamanya.
"gimana keadaan mama, pa? " tanya keyra yang memang khawatir.
"kecelakaannya cukup parah, mama harus di operasi. ada tulang yang patah di bagian paha. sekarang... keadaan mama kritis, belum sadar. "
mendengar penuturan papa, kedua mata keyra mengembun. mengelus lengan papa dengan menahan tangis.
"yang sabar, pa. semoga mama cepat sadar dan akan kembali pulih lagi"
papa memaksakan untuk tersenyum, menatap anak mantunya.
"iya, key. doain mama ya"
keyra hanya ngangguk, sangat kentara jika dia menahan tangis.
"gimana keadaan kamu? udah lebih baik? enggak takut lagi? " tanya papa yang emang peduli.
"uumm.. udah mendingan pa. aku berusaha ngebuang rasa takut itu. " menghapus bulir yang hampir jatuh, sedikit mengulas senyum dengan helaan panjang.
papa ngangguk, mengelus bahu keyra. menoleh, menatap kedua anaknya yang masih menangis.
__ADS_1
"tan, cari pelakunya sampai ketemu. "
tristan ngangguk, tangannya masih sibuk mengusap ingus.
"aku pastikan manusia itu mendapat balasan yang setimpal"
kening elvanno berkerut, dia tentu bingung.
"maksudnya gimana? pelaku apa, pa? "
"tabrak lari" jawab papa datar.
elvanno dan keyra membulatkan mata, sangat tak percaya.
"sayang banget, cctv yang ada di depan toko itu sengaja dirusak sebelum kejadian" tristan menggelengkan kepala.
"tapi papa yakin, ini pasti ada hubungannya sama kejadian yang lalu. " sahut papa, yang memang terakhir dia dan rika ada adu mulut dengan wati.
tristan ngangguk,
"pikiranku juga kearah sana, pa. apalagi mulut busuk jalangg itu. ppcck, bisa bisanya dia nyebar berita palsu. brengsekk emang! " kesal tristan mengingat kelakuan devi yang memfitnahnya.
elvanno mengepalkan tangan, menggeleng tak percaya dengan semua yang menimpa keluarganya.
"emang sialann! "
elvanno menatap keyra yang diam, terlihat banget jika sedang menahan rasa takut. mendekat, menggenggam tangan yang sejak tadi meremas ujung kaos. ternyata kedua tangan itu mengeluarkan keringat dingin. cepat elvanno mengusapnya, meraih tubuh itu ke dalam pelukan.
"kamu tenang ya. tetap disamping aku. jangan pernah pergi sendiri, aku sama kak tristan pasti akan jagain kamu terus".
tak bisa mengatakan apapun, keyra hanya ngangguk, membalas pelukan itu dengan erat. menyalurkan rasa takut di dadaa suami.
-Happy Readingš-
jangan lupa like and voteš¤
__ADS_1