Takdir Cinta Keyra

Takdir Cinta Keyra
Part 131


__ADS_3

satu bulan berlalu.


mobil sport tristan berhenti tepat di basement apartement miliknya. detik kemudian kedua pintu terbuka, dua orang keluar dari sana. tristan dan marina. saling lempar pandang, kembali berjalan memasuki lift dengan tujuan lantai enam.


menit berlalu, keduanya keluar saat pintu terbuka. marina hanya mengekor, menunggu tristan menekan beberapa angka, lalu masuk ke dalam kamar yang tentu nggak sederhana. seorang wanita yang memakai pakaian serba putih tersenyum, membungkukkan sedikit badan dengan nampan ditangan.


"mau ngasih makan siang? " tanya tristan basa basi.


"iya tuan, tapi... tadi pagi pun, nona devi hanya makan buah pir saja. ***** makannya benar benar buruk" tutur suster yang ia sewa untuk menjaga devi.


tristan menaikkan satu alis, melipat kedua tangan didepan dadaa.


"gue mau liat"


"baik tuan"


suster itu memutar handle pintu, melangkah masuk lebih dulu. berjalan mendekati seorang wanita yang berperut buncit. meletakkan nampan diatas meja, menepuk bahu wanita hamil yang tak lain adalah devi.


"ayo, makan siang dulu. minum susu ya" suruh suster dengan begitu lembut.


devi sedikit beringsut dari kursi yang sejak beberapa jam ia duduki. menerima gelas susu ibu hamil yang suster beri. lalu meneguknya, hampir separuh. menyadari jika didalam ruangan itu tak hanya ada dia dan suster, devi menoleh. kedua mata melotot, hampir keluar dari kelopak. melempar gelas yang bahkan masih ada banyak susunya, tepat kearah tristan.


ppyyaar!


"pembunuhh! aaa! pergi! pergi! jangan bunuh aku! jangan! " teriaknya histeris.


cepat suster mencoba menenangkannya, tapi sedikit kewalahan. devi memberontak, berdiri, bersembunyi disamping lemari. menarik gorden, sampai gorden itu hampir terlepas. menutup tubuhnya dengan gorden. lalu menangis tergugu disana.


"mama... huhuhu... mama... aku takut, ma... huhuhu..." terdengar pilu, begitu menyentuh hati.


tapi enggak ditelinga tristan. akhirnya memilih melangkah keluar, males liat devi yang udah sebulan lebih seperti ini. sesuai banget sama harapannya, mentalnya benar benar rusak. bahkan lebih parah dari bayangannya.


"tenangin ya sus. sebisa mungkin, kasih dia makan. biar anaknya tetap sehat" seru marina sebelum akhirnya mengekor langkah tristan.


duduk tetap disamping tristan, disofa ruang tamu. cowok itu meneguk minuman dari kaleng yang belum lama ia buka. marina menatapnya serius, beneran nggak nyangka, sahabatnya jadi orang kejam kek gini.


"lo liat dia gila kek gitu, puas? " tanyanya setelah beberapa menit hanya terdiam.


santai, tristan menggeleng, kembali meneguk minuman di tangan.


"kalo dia mati, gue baru puas"

__ADS_1


marina menggeleng kecil, membuang nafas panjang melalui mulut.


"yang jadi mafia kan gue, tapi kok yang kejam jadi elo sih! " keluhnya.


tristan menoleh, menatap marina dalam.


"mereka udah bunuh mama dan syela. ini nggak sebanding, karena orang yang gue sayang udah nggak bisa balik lagi" usai berkata begitu, tristan kembali meneguk minuman hingga habis, lalu melempar kaleng ke tempat sampah yang ada disamping rak sepatu.


untuk masalah ini, marina nggak bisa banyak bicara. karena dia tau, seperti apa pengorbanan tristan untuk mendapatkan seorang syela. dia juga tau, seberapa depresinya tristan saat syela pergi untuk selamanya.


syela, gadis pendiam, murah senyum. dia sangat pintar dan berbakat. memutuskan untuk kuliah di Aussie demi mewujudkan cita citanya yang ingin menjadi seorang desainer handal. tristan mengejarnya, berusaha mendekati dan meyakinkan keseriusan. melamarnya malam itu, bahagia banget saat ternyata syela mau menerima lamarannya.


namun sayang, wati mengirim beberapa orang untuk memperkosaa syela. sampai gadis itu merasa depresi berat, lalu gantung diri. sakit bukan? disini, kalian masih nyalahin tristan yang main bunuh? cckk, jangan menghakimi jika belum tau seperti apa rasanya!


"ya, gue tau, lo cinta banget sama syela. tapi inget, syela udah bahagia dialam sana. lo cukup doain aja, biar hati lo juga tenang. nggak keisi terus sama dendam." marina meraih sebungkus rokok, mengambil sebatang, menyelipkannya ke mulut.


cepat tristan menarik rokok itu, menatap sahabatnya lekat.


"na"


cukup terkejut mendapat tatapan yang tiba tiba seperti ini. tak menjawab, hanya balas menatap tristan tanpa kedip.


ini tawaran apa sih? nembak? ngelamar? atau ngajakin gelud? cckk, sama sekali nggak ada romantisnya.


dadaa marina berdebar tak karuan. antara percaya atau enggak. tentu lucu dong, saat ia udah baper abis, lalu tristan bilang... tapi boong!


memilih mendorong kening tristan agar sedikit menjauh dari wajahnya.


"nggak usah bercanda deh" merebut kembali rokok ditangan tristan yang tadi sempat nyelip di mulutnya.


sialnya, kembali tristan menarik rokok yang hampir akan menyala karena korek udah dihidupkan.


"gue nggak bercanda, na. gue serius"


kembali pula marina menatap cowok tamvan disampingnya. keningnya berlipat, menatap tristan dalam, mencari wajah bercanda disana. namun sayang, wajah itu memang terlihat sangat serius.


"lo... mau kan, jadi bagian dari hidup gue? " kembali ia mengatakan sesuatu yang membuat darah marina berdesir dan terasa sangat berbeda.


menyukai tristan? tidak, karena ia tau, selama ini hanya rasa kagum saja. memilih mengalihkan pandangan kedepan, membuang nafas pelan melalui mulut. jujur, kali ini ia merasa sangat gugup.


"kenapa lo tiba tiba ngomong kek gini? " tanya nya dengan suara tertahan.

__ADS_1


"semenjak syela pergi, gue nyaman sama elo. elo yang selalu ada buat gue, nemenin gue tanpa minta balasan apa apa. dan gue nggak mau kehilangan lagi"


marina terlihat jadi salah tingkah, menunduk, menatap kedua kaki yang memakai sendal slop warna putih.


"kenapa tiba tiba?"


"karena gue baru punya keberanian sekarang"


hening, untuk beberapa menit berlalu. keduanya tak ada yang memulai bicara. marina tak minat lagi untuk merokok. karena ini terlalu tiba tiba. menjadi bagian dari hidup seorang tristan? siapa yang nggak mau sih?


cowok keren, pinter, penyayang dan tentu bertanggung jawab. itu sifatnya, belum soal fisik tang tentu nggak ada cacatnya. dia punya mata dua, punya hidung satu dengan dua lobang, dan tentu... ada upilnya. hahahaha....


lima belas menit mungkin, marina mulai menoleh. dan saat itu, tangan tristan mendarat ditengkuknya. menariknya, sedikit memiringkan kepala, sampai akhirnya bibir keduanya menyatu dengan sangat lembut.


"pliiis, jadi bagian dari hidup gue" pintanya lagi, setelah ciuman sekilas mereka terlepas.


marina mengerjap lucu saat sapuan hangat nafas tristan menyapa wajah. bibirnya sedikit terbuka, lalu... ngangguk dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


kedua sudut bibir tristan terangkat keatas, menciptakan sebuah senyuman manis. kembali ia miring, mengecup bibir yang terbuka itu, ********** pelan.


ppyyarr!


"mama! mama! huhuhu... " suara barang pecah dari kamar devi.


marina mendorong dadaa tristan, cukup terkejut mendengarkan suara itu. sayangnya tangan tristan masih ada ditengkuk, memainkan cupingnya.


"kenapa? " tanya tristan dengan kening berkerut.


"itu, dev--"


cup!


kembali bibirnya mendarat di bibir marina, membuat wanita itu tak bisa meneruskan kata katanya.


"biarin aja anjiing menggonggong, yang penting... cipokaan kita tetap lanjut"


mendengar kata kata tristan, kedua pipi marina bersemu merah, tersenyum kecil. membiarkan tristan kembali melumaat bibirnya.


-Happy Reading🄰-


Jangan lupa like and votešŸ–¤

__ADS_1


__ADS_2