
rika melangkah masuk ke dalam ruang rawat keyra. air matanya keluar begitu saja saat menatap wajah gadis berumur tujuh belas tahun yang terbaring tak sadarkan diri. pelan, ada air mata yang keluar dari ujung mata keyra. rika mengusap pelipis keyra yang basah dengan sangat hati hati.
"sayang, maafkan mama. maafkan elvanno. elvanno sudah membawa mu masuk ke dalam masalah nya. maafkan kami, key" mama terisak, tangannya mengusap matanya yang tak mau berhenti menangis.
papa mengelus punggung mama,
"semoga setelah ini, tak akan ada lagi yang menganggu mu key"
"cepat bangun ya, key. kami menanti mu. andra sudah masuk ke dalam jeruji besi. dia tak akan lagi mengusik kehidupanmu" sahut mama.
kedua orang itu sama sama merasa bersalah yang tak bisa mereka tebus dengan apapun. penyebab penderitaan keyra adalah elvanno. mulai dari kematian kedua orang tuanya dan kasus pelecehan ini. semua disebabkan oleh elvanno.
ddrrtt.... ddrrttt...
ponsel abram berdering cukup nyaring, membuat tangis keduanya sedikit mereda. cepat papa merogoh ponsel, menatap layar yang menampilkan nomor rumah disana.
"hallo" sapa abram sambil menempelkan ponsel di telinga.
"hallo, pak" suara bik sari diseberang sana.
"kenapa bik? " berjalan keluar dari ruang rawat keyra.
"ada yang nyari bapak"
__ADS_1
kening abram berkerut,
"siapa? "
"seorang wanita pak. katanya ada sesuatu yang sangat penting"
"iya bik. kita segera pulang"
papa mematikan telpon, diam sebentar, mengira ngira siapa wanita yang mencarinya, bahkan sampai mencari kerumah. sejauh ini, teman bisnis nya lelaki semua, dan tidak pernah membicarakan bisnis dirumah.
memilih kembali masuk ke dalam ruangan. melingkarkan tangan ke pinggang mama.
"ma, ayo pulang dulu. ada yang nyari papa dirumah"
"siapa yang mencari pa? " mendongak, menatap wajah papa yang disebelahnya.
papa geleng kepala,
"nggak tau. bibik cuma bilang kalo yang nyari itu wanita"
mama menatap keyra lagi, mengelus bahu keyra pelan.
"mama pulang dulu ya, key. kamu cepat sembuh"
__ADS_1
setelahnya, mereka berjalan keluar dari ruangan keyra. menyisakan keyra yang sendirian dengan posisi masih koma.
menit berlalu, setelah kepergian mama dan papa, dara datang mendorong kursi roda. dimana ada bryan yang duduk di depannya. membuka pintu pelan, lalu masuk, menghentikan kursi tepat disamping ranjang keyra. mengunci kursi disana, lalu ia ikut berdiri disamping keyra, menatap wajah temannya yang belum membuka mata.
bryan menekan kedua ujung mata, menggigit bibir bawah untuk tak menangis. dia sudah tau semua yang terjadi pada keyra. bahkan tentang rencana pembuatan film pornoo itu.
"maafin gue yang nggak bisa buat lo aman key" ucap bryan dengan rasa sakit yang lama ia rasakan.
"tapi.... gue udah berusaha semampu dan sekuat tenaga. sayang..... semua itu gagal" begitu dalam penyesalan yang bryan rasakan.
andai aja waktu itu ia bisa membawa motor lebih cepat, bisa menghindari para penculik itu. pasti keyra nggak akan ditangkap, nggak akan mengalami semua ini. sayangnya, penyesalan itu selalu datang belakangan. bryan mengusap kedua mata yang mengembun.
"kali ini, gue nggak akan lagi gangguin lo key. gue ikhlas, elo.... lo tolak gue. gue emang nggak pantes ada disamping elo. gue sadar.... elvanno emang lebih berhak atas lo. semua udah cukup ngebuktiin kalo dia cinta sama elo" bryan menyentak nafas kasar, mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak karena tangis.
"mulai detik ini.... gue nggak akan lagi usik elo. gue nggak akan lagi gangguin hubungan elo sama elvanno. ya... kita nggak akan lagi berhubungan. biarin gue lupain dan kubur semua perasaan ini dengan cara yang gue punya. "
dara menelan ludah dengan susah payah, membalikkan badan, menghapus kedua mata yang jadi mengembun. kata kata bryan sangat menyentuh hatinya. sangat nggak nyangka cowok seurakan bryan, bahkan tangannya yang selalu jahil dari sejak kelas sepuluh dulu, bisa menangis karna patah hati.
"hey, udik, ayok balik" ajaknya setelah puas menatap wajah damai keyra.
gugup, dara memutar kursi, mendorong bryan keluar dari ruangan keyra.
_**Happy Readingš_
__ADS_1
Jangan lupa like and voteš¤**