Takdir Cinta Keyra

Takdir Cinta Keyra
Part 119


__ADS_3

keringat menetes dari pelipis dan kening. suara hembusan nafas yang sangat kasar dari mulut bryan membuat tangis dara makin tak terbendung.


semua ini mengingatkan bryan akan kejadian beberapa bulan lalu. kejadian yang hampir membawa nyawanya pergi. langkah kaki itu semakin mendekat, membuat bryan benar benar


mengangkat bongkahan kaki kursi itu.


"kabur! ada yabg datang! " teriakan seseorang dafi luar.


kaki yang hampir sampai ditempat persembunyian bryan itu, berbalik. berlari cepat, keluar dari ruangan. seketika itu, bryan menghembuskan nafas penuh kelegaan. melepaskan bongkahan kayu yang udah sempat ia angkat. lalu melingkarkan kedua tangan ke punggung dara. menciumi puncak kepala gadis itu dengan penuh kelegaan.


beberapa menit berlalu, mereka berdua masih dengan posisi yang sama. karena diluar sana, masih terdengar suara gaduh, dan entah suara apa itu. hingga beberapa menit berlalu, hening mulai menyelimuti.


dara merasa lebih lega, mendorong dadaa bryan, membuat bryan melepaskan pelukan.


"aku nggak bisa nafas yan"


"maaf dar, gue beneran takut banget"


dara mengusap kedua pipi yang masih basah.


"iya, aku juga takut" menatap wajah bryan yang terihat udah ada kelegaan.


"apa sekarang kita udah aman? "


bryan geleng kepala.


"gue belum yakin. kita tunggu kabar dari viko dulu"


dara nurut, ngangguk. beringsut, sedikit menjauh dari bryan, duduk dilantai, menyandarkan punggung di lemari. bryan melirik gadis mungil itu, tangannya meraba bibir, mengingat rasa yang tadi. sungguh, tadi itu ia tak sengaja melakukannya. tapi... kenapa dia pengen lagi ya?


ia merogoh ponsel yang ada disaku celana saat merasa ponselnya bergetar. membaca pesan yang baru masuk, dan itu dari viko.


"ayok kita keluar. viko udah ada diluar" ajaknya.


beranjak lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu dara berdiri. dara menatap tangan yang terulur, menggigit bibir bawah dengan rasa yang jadi canggung. detik kemudian ia meraih tangan bryan, berdiri tepat di depan cowok tampan itu.

__ADS_1


"aaa! " sial, saat melangkah, kakinya terpeleset kertas yang tepat ada dibawah kaki.


cepat bryan menangkap tubuh dara, sebelum gadis itu terjatuh terbentur meja. keduanya kembali berpelukan, karena dara mencengkeram erat lengan bryan. saling bertatapan untuk beberapa detik. tak tahan, bryan makin menunduk, miring, menempelkan bibirnya di bibir yang membuatnya ingin kembali menyentuh. menuruti naluri, dara merem, seluruh tubuh kembali menegang mendapat ciuman kedua dari cowok yang sama. terlebih ketika bryan mulai melumatt bibirnya dengan sangat lembut.


"nyet! monyet! "


suara viko menghentikan aksi keduanya. bryan melepaskan ciuman, membenarkan jaket yang sempat berlipat. begitu juga dara yang jadi semakin salah tingkah dengan wajah merona. mengelap bibirnya yang jadi basah, mendongak, menatap bryan yang tersenyum manis kearahnya.


"yuuk, keluar"


dara menunduk, menyembunyikan wajah malunya.


"iya" jawabnya dengan menahan senyum. menggigit bibir bawah, meraba bibir bawah, lalu tersenyum.


'Bibirnya orang ganteng ternyata rasa kacang' bathinnya.


membuntuti langkah bryan yang udah membuka pintu. melangkah keluar dari ruangan itu, kembali menunduk saat ada viko, dava dan dua orang pria yang memakai baju serba hitam disamping pintu mushola.


viko terkekeh melihat kedua temannya keluar.


"nah kan, gue panggil monyet yang muncul dia" ngomongnya ke dava. dan selanjutnya, kedua anak itu menertawakan bryan.


dava menatap dara yang memilin jari jemari dibelakang bryan.


"dar, lo baik baik aja kan? "


dara mengangkat kepala, menatap tiga cowok tampan yang kini memperhatikannya. gugup banget ditatap seperti ini, membuatnya kesusahan menelan saliva.


"i-iya, aku... aku baik baik aja"


"syukur deh"


"keknya lo nggak aman dar. mereka udah liat lo ada ditengah tengah kita" seru bryan dengan menatap dara.


"gimana kalo lo pulang ke rumah gue dulu"

__ADS_1


viko tertawa kecil, menggeleng sambil menepuk bahu dava.


"dav, bang bryan mau modus"


bryan yang nggak terima, mentonyor kepala viko.


"bacott emang! ini demi keamanan dia dan bokapnya" belanya.


"si ashu, main tonyor" kesal viko tak terima, tangannya mengelus kepala bekas tonyoran tadi.


dava ngangguk, membenarkan ucapan bryan. yang mereka hadapi ini bukan penjahat abal abal.


"ada benernya juga sih" lalu menatap dara yang menggigit bibir bawah dengan menatap kelain arah.


"lo gimana dar? mau nggak tinggal buat sementara dirumah bryan? "


dara kembali gugup, mengedipkan mata berkali kali. lalu menatap bryan yang juga menatapnya.


"ak-aku ngikut aja"


mendengar jawaban dara, ada yang bersorak di hati bryan, menunduk, memasukkan kedua tangan, menyembunyikan raut bahagia yang membuat wajahnya memanas.


"dar, kalo lo dipepet bryan, mending langsung teriak minta pertolongan. soalnya bang narsis ini suka nyosor diasal tempat. bahaya kan, kalo sampai dia tiba tiba nyus- aaa!!! bangsul! sakit anjiing! " keluh viko saat bryan memukul kepalanya cukup keras.


bryan segera menarik tangan dara keluar dari mushola, membuat viko dan dava mencebik dengan gelengan.


"tu bocah, ditolongin malah ninggal. dasar, narsis! " kesal dava.


mereka keluar dari gang bersamaan. tentu tak ingin jika penguntit yang ternyata membuntuti mereka sejak ada di rumah elvanno kembali mengejar. dava mentonyor lengan bryan saat kelima motor itu berhenti dipinggir jalan untuk menyebrang. menuding plakat dengan nama gang yang tertempel dipagar belokan jalan.


"baca yang bener tuh ya. se-pak. itu bukan sempakk" mengeja tulisan berwarna putih disamping bryan.


"dasar! otak lo mikirnya ke selangkangann mulu! " viko ikut menimpali.


sedangkan bryan menggeleng, tertawa kecil karena dia sendiri salah baca.

__ADS_1


-Happy Reading😘-


Jangan lupa like and votešŸ–¤


__ADS_2