
" brengseek! " geram tristan, menggenggam erat ponsel saat telponnya baru saja terputus.
merem dalam, mencoba mengatur emosi yang pengen banget nelen orang. ia mengambil rokok, menyelipkan ke mulut, lalu menyalakan korek. detik kemudian, kepulan asap menguar di udara.
kabar yang ia dapat dari anak buah tentang kaburnya devi membuatnya mendidih. ia berjalan menuju balkon, mencengkeram erat besi yang menjadi pagar balkon. tersenyum miring, memutar otak untuk bisa menuntaskan dendam mendalamnya.
kembali mengambil ponsel yang ada di saku celana. mencari kontak seseorang, lalu melakukan panggilan telpon.
"hallo" sapa seseorang diseberang sana.
"gue butuh bantuan" ucap tristan, kembali ia menyesap rokoknya.
"sebutin"
"gue kirim video, ntar kirimin ke nomor yang gue kasih"
terdengar tawa diseberang sana.
"cckk, itu doang? kirain mangsa buat gue eksekusi"
tristan terkekeh pelan.
"belum saatnya"
mematikan telpon, seperti apa yang dikatakan tadi. ia masuk ke menu galery, memutar kembali video ***** yang tentu diperankan oleh devi dan garry kala itu. tanpa ragu ia mengirim video itu ke nomor marina, menyelipkan dua nomor yang akan menjadi target pemanasan.
__ADS_1
sementara diseberang sana, devi baru saja pulang ke rumah. dua bulan lebih ia berada di apartement, tempat terkutuk untuknya. karena disana dia menjadi sandra, ini bukan sandra seperti yang dialami keyra. tristan si penyandra memperlakukannya dengan sangat baik. hanya menghadirkan seorang lelaki untuk menidurinya seminggu sekali doang. ingin banget membunuh wanita jalangg ini, tapi dia masih inget sama bayi yang ada di dalam perutnya. makanya tristan milih nyandra dulu dan mikirin ide yang lain. sayang banget, sebelum ide itu dia lakukan, devi sudah lebih dulu kabur membodohi penjaga yang udah tristan tugasin menjaganya dari pagi sampai pagi lagi.
"devi! "
teriak mamanya saat devi baru saja meneguk susu yang udah disediakan di atas meja makan oleh pembantu. santai dia menarik kursi, lalu duduk menanti pembantunya nyiapin makanan.
dengan tergesa vita keluar kamar, menatap nyalang ke arah anaknya yang kini mulai menyendok nasi ke dalam mulut.
"devi, kamu hamil?! " tanya sang mama dengan sedikit berteriak.
mendadak nasi yang hampir tertelan itu mampet di tenggorokan. segera ia menuang air putih, lalu meneguknya cepat. memang selama ini mamanya belum tau soal dia yang berbadan dua.
"ma, mama ngomong apa sih? " ela nya.
"nggak usah mengela kamu! " mama menaruh ponsel di meja depan devi. disana, sebuah chat dari nomor baru mengirim foto testpackk dengan garis dua serta video pembuatan bayi.
"nggak penting! jadi... dua bulan yang katamu pergi disekap sama orang itu, aslinya kamu ngapain hah?! "
"aku nggak bohong ma. aku emang disekap sama... "
kening vita berkerut, menunggu anaknya mengatakan tentang penyekapan yang tadi sempat ia dengar dari mulut devi.
"siapa yang sekap kamu? kita buat laporan ke polisi"
devi geleng kepala,
__ADS_1
"nggak semudah itu ma. orang ini ngancam aku, dia mau nyebarin video ini di internet kalo sampai aku berani buat laporan"
mendengar jawaban devi, wajah vita sedikit gusar.
"kamu nggak lagi berbohong kan? "
"ma, dua bulan itu, aku emang disekap. sebenarnya bisa aja aku kabur dan pulang, lalu ngadu ke mama. tapi dia selalu ngancam mau sebarin video ini ke internet dan semua teman teman aku ma."
kedua tangan vita mengepal.
"kamu juga kenapa sampai melakukan hubungan seperti ini, vi! kamu ini masih pelajar, nggak seharusnya kamu melakukan hubungan sexx seperti ini"
devi geleng kepala, memilih mematikan ponsel, memijat pelipis. pusing juga merasakan anaknya yang udah ada di pergaulan bebas begini.
"astaga... " memegangi dadaa yang jadi sesak.
"mama pikir udah cukup kakak mu aja yang dulu seperti ini vi. tapi kenapa kamu malah melakukan hal yang sama." keluh vita yang mengingat jika karin pernah menggugurkan kandungan saat masih duduk di bangku SMA.
"nyonya, ada tamu"
mendengar ucapan pembantunya, vita mengangkat kepala.
"siapa, bik? "
-Happy Readingš-
__ADS_1
Jangan lupa like and voteš¤