
tristan menyugar rambut ke belakang. menggigit bibir bawah, mencoba berfikir lagi cara menemukan adik iparnya. cctv yang terpasang dari depan sekolah sampai tempat kejadian, mati satu jam sebelum bryan dan keyra keluar dari halaman sekolah. dan itu udah pasti disengaja oleh para pelaku. brengseek!
elvanno melipat kedua tangan di depan dadaa, dia sendiri juga nggak tau sekarang harus gimana. kali ini kunci utama keberadaan keyra, ada di bryan. hanya bryan yang kemungkinan tau, siapa yang ngebawa keyra.
"anak buah yang papa sewa, udah ada yang dapat info? " tanya elvanno, nyomot rokok, lalu nyelipin di mulut. keyra nggak ada, ngerokok nggak apa kan? nggak ada yang mau di *****!
tristan menggeleng, menyesap rokok nya. lalu mengeluarkan nya pelan melalui hidung dan mulut.
"ini orang kek nya udah berkelas deh"
elvanno menghidupkan korek, menyesap rokok, asap mulai mengepul.
"beneran taii! " kesalnya.
"bahkan kita nggak punya petunjuk satu pun. sidik jari juga bersih banget, anjiing! "
elvanno menyesap rokok, jarinya mengetuk meja samping, mencoba memaksa otak yang seperempat itu untuk memikirkan cara lain.
"ini udah dua hari. astaga... " ia mengacak rambut. meninju kursi samping nya.
"moga aja keyra nggak disentuh sama mereka"
tristan menyentak nafas kasar,
"semoga.misal pun kalo udah, lo tetep nggak boleh tinggalin dia. dia tanggung jawab lo"
elvanno mencibir,
"enggak lah. gue udah janji bakalan menua sama dia"
tristan tersenyum, bahkan sampai tertawa kecil.
"bagus lah"
ddrrtt... ddrrtt....
ponsel elvanno yang ada diatas meja berdering. ada panggilan telpon masuk, tertera nama dava disana.
__ADS_1
"apa nyet! " sapa nya, dia men-loudspeaker kan telpon nya.
"buru ke rumah sakit" sahut dava cepat.
"napa?! " tanya elvanno dengan hati yang tak tenang. tentu takut terjadi sesuatu sama sahabat nya.
"bryan udah melek"
elvanno dan tristan berjalan cepat menuju ruang rawat bryan. tanpa mengetuk pintu lebih dulu, elvanno mendorongnya, lalu masuk begitu saja. membuat viko, dava, serta bryan yang batu saja membuka mata menatap ke arah nya. eh, ralat, bryan belum bisa menggerakkan kepala, baru bisa melek dan kedap kedip. ngomong pun masih harus pelan, karena sudut bibirnya robek.
"yan, gue bersyukur banget lo nggak mati"
refleks tangan viko mendarat di kepala elvanno,
"cocotmu van! "
"****** lo, masa doain si narsis mati! " sembur dava.
sementara tristan hanya geleng kepala dengan sedikit menahan tawa. memilih diam dengan kedua tangan terlipat di depan dadaa, menatap bryan yang masih belum benar benar sadar.
"sabar abang elvanno. kata dokter, mas narsis belom boleh mikir berat. bahaya buat kesembuhannya. terlebih, kepalanya sempat kena pukulan bertubi tubi. saraf saraf di otak nya masih pedot! " tutur dava, saat tau elvanno hampir melayangkan pertanyaan.
sedangkan bryan terlihat kesulitan, ingin menggerakkan tangan, namun kedua tangannya menjadi mummy semua. akhirnya setetes buliran bening, merembes membasahi pipi.
"yan, lo butuh sesuatu? gue bantu" tawar tristan yang ada di samping kepala nya.
bryan mengerjap beberapa kali, pikirannya tertuju ke keyra. yang entah seperti apa keadaan nya saat ini. pelan, ia mencoba menggerakkan bibir. sakit, tapi bisa terbuka, walau tak terlalu lebar.
tristan mendekat, menunduk agar tau apa yang bryan ingin kan.
"lo pengen apa? " tanya nya pelan.
"eyra.. "ucapnya pelan, benar benar sangat pelan. bahkan tristan pun sampai tak paham dengan yang dimaksud bryan.
kening tristan berkerut, mencoba berfikir apa yang dimaksud bryan.
" key-ra? "
__ADS_1
bryan memejamkan mata, tanda jika ia membenarkan ucapan tristan. tapi, tristan yang tak paham menoleh, menatap ketiga bocah yang sama sama berdiri mengelilingi bryan.
"maksud dia, keyra bukan sih? "
elvanno menarik lengan viko, menggeser posisi viko yang ada disamping kepala bryan. dia langsung nunduk, menatap bryan lekat.
"lo mau cerita tentang keyra? lo tau sesuatu? siapa yang ngebawa keyra pergi? "
cepat viko menarik jaket elvanno, hingga cowok tampan itu hampir terjatuh.
"udah gue bilangin, monyet! pelan pelan. lo nggak kasihan sama si narsis apa?! " marah viko.
"be--" ucap bryan terjeda, terlihat sangat kesusahan ia mengucapkan itu.
semua mata terarah padanya, tak terkecuali elvanno. menatap serius pada bibir bryan yang mencoba kembali bergerak.
"be-we-atu... de'apan... "
tristan yang paham, langsung mengeluarkan ponsel. mencari kontak seseorang, lalu melakukan panggilan telpon dengan cepat.
"hallo, sa. gue butuh bantuan lo. lacak pemilik mobil dengan nomor plat BW1869E" pintanya.
"lima menit, ntar gue hubungi" sahut diseberang sana.
"ok, gue tunggu kabar baiknya"
tristan menutup telpon, kembali menatap bryan yang mengatur nafas. ia tau, bryan sedang menahan sakit nya. mengelus bahu bocah itu dengan sangat pelan.
"lo jangan khawatirin keyra. kita akan segera temuin dia. fokus ke kesehatan lo aja" bisik tristan.
"betewe sis, kita belom ngasih tau bokap nyokap lo" celetuk dava.
bryan melek, lalu geleng kepala. memberi tanda jika ia pun tak ingin kedua orang tua nya tau tentang keadaannya. keduanya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan dunia mereka, mungkin udah lupa kalo ninggalin anak yang juga butuh kasih sayang.
elvanno mengelus bahu bryan pelan.
"kemarin, dara yang nolongin lo. dia yang bawa lo kerumah sakit. kalo lo diurus sama dia aja, mau? "
__ADS_1
_**Happy Readingš_
Duh, gimana nasib keyra ya guys? author juga penasaran.. jangan lupa like and voteš¤**