
beberapa jam yang terlewati.
devi mengibaskan rambut yang tergerai ke depan. tersenyum menerima kartu atm yang dikembalikan oleh si pemilik salon. berjalan keluar dengan binar bahagia. rambut baru, wajah juga tampak lebih cerah karna dia habis facial.
merogoh kunci mobil yang tersimpan di dalam tas, lalu menekan remote. membuka pintu dan segera masuk. menaruh tas disamping kursi kemudi, setelahnya, memasukkan kunci ke lubang yang semestinya.
kling!
baru saja akan menyalakan mesin, bunyi notifikasi di ponsel membuatnya urung. memilih membaca pesan wa yang masuk lebih dulu.
{hari ini ketemuan yuk cantik. mumpung aku ada free hari ini}
pesan yang dikirim tristan membuat devi tersenyum bahagia.
{ok, mau ketemuan dimana? } send 0877××××××××
kedua alis bertaut membaca pesan yang masuk dengan cepat.
{caffe red}
devi mengirim stiker yang bertuliskan 'ok' , kembali menyimpan ponsel ke dalam tas. segera ia menjalankan mobil menuju caffe red yang dikatakan oleh si pengirim pesan.
perjalanan yang ia tempuh tak terlalu lama, karena memang kebetulan jarak salon langganan devi dengan caffe red cukup dekat. debi menatap pantulan nya di cermin depan terlebih dahulu, merasa lipstik nya sedikit mengabur, ia pun meraih tas, mengeluarkan lipstik dan mengoleskan nya lagi. setelah merasa tampilan nya perfect, ia membuka pintu , melangkah keluar dari mobil.
mencari tempat duduk yang masih kosong, karena kebetulan di jam makan siang ini, meja di dalam caffe hampir penuh. setelah memesan minum, devi mengeluarkan ponsel, masuk ke dalam chat room nya dengan tristan tadi.
{aku di meja paling pojok, pakai dress warna putih hitam} send tamvan.
ia tersenyum, tentu sangat bahagia bisa kencan dengan cowok tampan.
sedangkan di seberang sana, elvanno mencengkeram ponsel milik kakak nya cukup kencang. ia menggeram tertahan. sangat kesal menatap pesan yang dikirim oleh devi. semua cukup nunjukin jika devi beneran wanita gampangan. salah besar karena ia pernah mengabaikan keyra dan memilih mempercayai mulut devi.
"buru deh kak. cuma ketemu sama lontee aja, dandannya lama bener! " kesalnya, menatap tristan yang masih berdiri di depan cermin, tentu memperbaiki penampilan.
tristan meraih jas warna coklat dengan motif kotak agak samar, tersenyum menatap adiknya yang sejak kemaren ada di mode 'do' tinggi.
"sabar napa sih, biarin dia nunggu bentar. jarak dari sini ke sana juga cuma dekat" sahut tristan santai.
dava ngangguk,
"ibaratnya ya, lo kentut disini, yang di caffe sana bakalan denger"
viko nonyor kepala dava,
"ya nggak kek gitu juga kali, dol! "
elvanno bangkit dari duduknya, menatap serius pada kedua temannya yang tengah becanda.
"serius deh! gue beneran khawatir sama bini gue. waktu kita enggak banyak "
tristan tertawa kecil, mengambil satu kapsul obat berwarna putih yang udah ia siapkan. lalu merangkul pundak adiknya.
"udah, jangan nge-elpiji. ini gue udah siap. " menatap dava dan viko.
__ADS_1
"jagain nih curut ya" menunjuk elvanno dengan kepala miring.
"rapiin kamar tamu, sama ruang tamunya. gue pasti berhasil bawa devi kesini"
dava dan viko mengacungkan jempol, tanda jika mereka menyanggupi. tristan pun melangkah keluar dari apartement yang telah ia sewa sehari ini. menaiki mobil sport nya yang baru ia beli beberapa hari setelah tiba di indonesia.
menit berlalu, mobil biru miliknya berhenti di parkiran caffe red, tepat disamping mobil putih milik devi. ia tersenyum menatap gadis yang memang cantik itu diam dengan mengusap ngusap layar ponsel. sesekali menatap pintu masuk, tentu menanti kedatangannya.
"berani main main sama keluarga gue, jangan harap gue ada belas kasihan! " gumamnya.
menarik nafas dalam lebih dulu, lalu mengeluarkan nya pelan. setelahnya, ia mulai membuka pintu, lalu turun. semua mata menatap ke arahnya saat langkah kaki memasuki caffe, tak terkecuali devi yang melongo dengan binar kagumnya.
devi melambaikan tangan begitu mata tristan tak sengaja menatap ke arahnya. dadanya berdebar menyaksikan dengan mata sendiri senyum manis lelaki tampan itu.
"hey, sorry, telat. tadi ada masalah sedikit dengan satpam di apartement" seru tristan, menarik kursi, lalu duduk tepat di depan devi.
devi tersenyum, terlihat sekali jika ia begitu tertarik dengan tristan.
"enggak apa, kak"
"hmm, kamu lebih cantik dari yang di foto" puji tristan.
dan itu membuat kedua pipi devi merona, senang, malu dan gugup.
"ah, kakak bisa aja"
tristan tertawa kecil,
"serius loh. aku pertama liat foto kamu, langsung deh mataku ini natap itu terus, nggak mau berpaling. eh iya, kenalin nama ku Ralin" tristan mengulurkan tangan. nggak mungkin ia akan nyebutin nama tristan di hadapan devi. walau memang nama itu ia ambil dari nama tengahnya, tristan ralindra darel.
"aku devi, kak"
tristan melepaskan jabat tangan, kembali tertawa kecil, dan itu membuat devi melongo, enggak kedip.
"iya, udah tau nama kamu"
menit berlalu, devi tersenyum penuh kekaguman menatap wajah tristan yang memang sangat bening. sampai tristan melambaikan tangan di depan devi.
"hey, kamu kenapa? "
gelagapan, devi tersadar.
"yaampun, maaf kak. aku beneran kagum banget. kak ralin ganteng" pujinya.
"kamu juga cantik loh. cantik banget malah" balas memuji devi. ini bukan tipuan, karena sosok devi igu memang cantik.
"silahkan pesanannya, kak" seorang pelayan datang mengantarkan minuman yang memang telah devi pesan.
tristan mengerutkan kening menatap orange juice yang kini ada di hadapannya.
"kamu pesenin ini buat aku? "
devi ngangguk,
__ADS_1
"maaf, aku nggak tau apa yang kakak suka. aku suka jeruk, makanya tadi aku pesenin itu sekalian. aku suruh mereka nganterin kalo kakak udah datang"
tristan tertawa lagi,
"aku suka kok, apalagi yang pesanin kamu, waah suka banget aku"
kling!
ponsel tristan yang ada di saku jas berbunyi, ada pesan masuk. buru ia ngambil ponsel, tersenyum melihat rentetan pesan yang dikirim oleh adiknya.
{jangan kelamaan, anjiing! buru ajak kawin! }
tak ada niat membalas pesan itu, tristan kembali menyimpan ponsel. melirik devi yang ternyata memperhatikannya sejak tadi. devi sendiri terlihat gugup karena ketahuan.
"hmmm, itu yang warna putih, mobil kamu kan? " tristan menuding bagian luar mobil yang ada di belakang devi.
dan itu membuat devi menoleh, mengamati luar, dimana mobilnya memang terparkir paling kentara diantara mobil lainnya. cepat tristan memasukkan kapsul obat yang sudah ia siapkan tadi.
"iya kak, itu mobil ku. itu, yang biru punya kakak? " balik nanya.
tristan ngangguk,
"iya, belum lama beli, karena aku baru beberapa minggu di indonesia"
devi geleng kepala, kembali menoleh, memperhatikan mobil keren yang harganya milyaran.
"mobil kakak keren banget"
"eh iya, ke apartement ku bentar, mau nggak? aku udah siapin hadiah buat kamu"
kening devi berkerut, memainkan sedotan yang ada di dalam gelas, lalu meminumnya sedikit.
"hadiah? "
tristan juga meminum minuman miliknya.
"iya, kebetulan toko emasku ngeluarin produk baru. dan aku udah siapin cincin berlian yang khusus di desain buat kamu pakai. semoga ukurannya pas di jari kamu"
mendengar penuturan tristan, devi tak bisa mengatakan apapun. cepat ia meraih gelas, lalu meminumnya.
"gimana? mau? " tanya tristan, karena devi tak juga menjawab.
devi tersenyum malu, lalu ngangguk.
"iya, aku mau kak"
tristan mengulas senyum,
"syukur deh. yaudah sekarang aja yuk. eh, diminum dulu. kasian, embaknya udah bikinin , masa kita tinggal gitu aja"
devi ngangguk dengan senyum bahagianya. segera meminum minumannya dengan cepat. walau enggak habis semua, tapi... lima puluh persen obat yang tristan masukkan sudah masuk ke tubuh devi.
"mampus lo! " bathin tristan, tersenyum devil dalam hati.
__ADS_1
_**Happy Reading😘_
Jangan lupa like and vote😘**