Takdir Cinta Keyra

Takdir Cinta Keyra
Part 139


__ADS_3

wanita hamil, memang akan lebih bagus jika terlihat gendut, berisi, dan tentu murah senyum. ya, memang nggak ada yang mengharuskan sih, tapi semua itu mengartikan jika si ibu hamil sehat, gizi tercukupi, dan tentu pikirannya santai, bahagia sebagaimana mestinya.


beda halnya jika terlihat tirus dan selalu murung, seperti halnya yang devi alami ini. kehamilannya yang sudah ada diusia delapan bulan lebih beberapa hari, membuat perutnya lebih besar. namun, tetap tak sebesar ibu hamil pada umumnya.


wajah yang dulu selalu tertutup make up, sulam alis, ganti ganti model rambut, belum soal kuku yang selalu di cat beda tiap minggu. kini semuanya udah berbeda seratus persen. wajah putih devi terlihat pucat, ada beberapa jerawat dan dia sama sekali tak pernah tersenyum.


kebiasaannya hanya duduk, menghadap ke jendela. menatap jalanan yang macet dan gedung gedung yang menjulang tinggi.


devi diam, tatapannya begitu memprihatinkan. ada banyak masalah yang menyiksanya. ia membiarkan bulir bening menetes begitu saja. lalu terisak kecil. bayangan masa lalu membuatnya merasakan sakit hati dan bathin yang tak bisa dijelaskan.


devi menunduk, mengusap perutnya yang buncit.


"garry, ini anakmu" lirihnya, bahkan hampir tak terdengar.


tapi ia masih ingat, terakhir kali melakukan semuanya sama garry. terlebih, saat itu ia lupa nggak minum obat. sudah pasti ini anaknya garry.


devi menghapus mata yang basah, kembali terisak kecil. menangisi hidupnya yang jadi seperti ini. penyesalan, kenapa selalu menyakitkan?


"Tuhan, apa aku tak pantas mendapatkan kesempatan kedua? " keluhnya pada sang pencipta.


menjambak rambut, kembali menangis mengingat pistol yang telah membuat mamanya pergi, lalu garry, lelaki yang sebenarnya tak terlalu ia sukai, tapi bisa memberikan kenikmatan dan kenyamanan.


menggeleng, tangisnya makin menjadi.


"Arrgghh! Enggak! jangan bunuh mama! garry! huhuhu... jangan bunuh mereka! " mulai berteriak kencang. meremas perutnya, memukulnya, membuat yang ada di dalam perut bergerak aktif.


"aarrggghh! aaaa! "

__ADS_1


suster yang mendengar teriakan devi, segera masuk ke dalam kamar. cukup terkejut melihat ada darah yang menetes dilantai. cepat ia merogoh ponsel, mencari nomor tristan dan melakukan panggilan telpon.


"hallo, sus" suara tristan saat telpon berhasil terhubung.


dengan sangat khawatir, suster mencoba mencekal tangan devi dengan satu tangan menempelkan ponsel di telinga.


"tuan, cepat kemari. nona devi pendarahan! "


"lepaskan! aaggh... aku mau mati aja! aku mau mati" tak henti tangan devi memukul perutnya sendiri.


"ini terlalu sakit. ini sakit. aku mau mati"


dengan bantuan ambulance, marina membawa devi menuju rumah sakit terdekat. tristan memilih menghubungi marina yang memang tinggal di apartemen. lalu dia menyusul, tak lupa memberi tahu elvanno dan keyra yang ada dirumah.


keyra dan elvanno berlari menyusuri karidor rumah sakit. berhenti tepat di depan ruang operasi, menatap kakaknya yang duduk dikursi besi dengan sangat santai. ada marina yang duduk disebelahnya sama santainya.


"harus lahiran sekarang. bayinya terluka, devi memukulnya terlalu kencang" jawab tristan yang terlihat begitu cuek.


elvanno menoleh, menatap keyra yang malah terlihat begitu khawatir. mengajak istrinya untuk duduk dikursi besi yang masih kosong. hingga menit berlalu, pintu ruangan tak juga terbuka, membuat mereka merasa begitu jenuh menunggu.


ceklek!


satu jam berlalu, akhirnya pintu terbuka. memperlihatkan seorang dokter lelaki yang kini melepaskan sarung tangan. menatap empat orang yang mengelilinginya secara bergantian.


"gimana keadaannya dok? " tanya tristan.


dokter menghela nafas sedikit kasar, lalu menggeleng.

__ADS_1


"bayinya bisa diselamatkan. laki laki, tapi dalam kondisi yang kurang sehat. kami sedang melakukan yang terbaik"


"ibunya gimana dok? " tanya keyra yang terlihat sangat khawatir.


"ibunya nggak bisa kami selamatkan" tutur dokter dengan penuh kegagalan.


"apa diantara kalian ada yang namanya keyra? "


semua menatap ke keyra.


"saya keyra dok"


dokter mengeluarkan lipatan kertas putih dari saku seragamnya.


"kami menemukan kertas ini disaku baju milik pasien. maaf jika kami lancang sudah membacanya, tapi semua demi mengetahui hal hal yang mungkin sangat penting untuk pasien. dan itu tulisannya dikhususkan untuk gadis yang bernama keyra"


keyra menerima uluran kertas itu.


"makasih dok"


"kalian bisa urus jenazah ibunya. saya akan kembali melanjutkan pengobatan intensif untuk bayinya"


"baik dok"


-Happy Reading🄰-


Jangan lupa like and votešŸ–¤

__ADS_1


__ADS_2