
tristan memegangi tangan kirinya yang tertembak. bersembunyi dibalik pilar besar.
"aaarrgghhh... " rintihnya, menyobek bagian bawah kemeja, lalu membalut luka di tangan.
mengecek peluru di senapan yang ia bawa. mengatur nafas yang mulai tersengal sengal. dadaanya naik turun sesuai detak yang tak beraturan. mendongak, menempelkan kepala bagian belakang di pilar yang ia sandari.
"elvanno, gue harap lo baik baik aja" setetes bulir bening membasahi pipi. mengingat adiknya yang sudah lebih dulu masuk tanpa membawa senjata apa pun. bahkan hanya sendirian dengan emosi dan otak seperempatnya itu.
dor!
seorang polisi tertembak di bagian bahu, menggeletak tepat di depan tristan. disusul beberapa tembakan lagi.
sejenak, tristan merasa gemetar melihat pemandangan di depannya. darah muncrat kesana kemari sesuai peluru yang masuk ke tubuh polisi itu.
"Ya Tuhan, gue tobat. selama ini yang gue tau cuma perang ranjang. ini gue beneran perang pakai senapan. nggak lagi gue asal perang deh" menggeleng kepala, dengan tangan mengepal menatap polisi itu mati. menyesali yang dulu menjadi kebiasaannya saat tinggal di luar negeri.
tristan mulai membidik lawan, karna tak mungkin ia akan terus bersembunyi.
dor!
dor!
"wooi! gue disini woii! " dava melambaikan tangan mengecoh lawan.
dor!
"aarrgghhh.! " teriak salah satu lawan saat peluru yang tristan layangkan berhasil menembus jantung. nggak perlu nunggu menit, lawan itu langsung tergelatak tak bernyawa.
tristan mengacungkan jempol ke arah dava. dava tersenyum sambil menaruh dua jari di mulut, melayangkan cium jauh ke tristan.
"anjiing!! jijiik gue! " tristan bergidik ngeri.
kembali melangkah maju menuju ke dalam gudang. tristan, dava dan beberapa polisi lain yang masih tersisa mendobrak pintu bagian dalam dengan paksa. viko berdiri di belakang dengan wajah babak belurnya.
terlihat tumpukan beras yang menjulang tinggi. mereka mulai menyebar ke beberapa sudut.
dor!
kaki dava tertembak.
"aarghh! " dava terjatuh.
cepat, viko menyeret dava keluar dari pabrik. menyandarkan dava di dinding luar.
__ADS_1
"babii!! sakit banget! " dava meringis, memegangi kakinya yang bolong.
"gue operasi ya! " viko ngambil belati yang dari tadi nyelip di bagian sepatu.
"enggak! bisa amputasi kaki gue! " tolaknya kasar.
"gue pernah nonton rama the raid ngoperasi juga, su. pasti bisa. itu malah pakai sendok. " seru viko yang yakin bisa ngeluarin peluru dari kaki dava.
"itu beda, anjiiing! " kesal dava, nonyor kepala viko .
"biar gue jalan keluar sendiri. lo bantuin elvanno. kita nggak tau keadaannya sekarang. kasian dia di dalam sendirian"
ragu, karena dia pun nggak tega melihat dava yang meringis kesakitan.
"lo yakin, sanggup? "
dava ngangguk,
"gue kuat" meninju bahu viko.
"gue percaya sama elo. bawa sahabat kita keluar dengan selamat. kita sahabat sampai mati"
viko sedikit terenyuh, lalu mengangkat tangan. tos ala mereka dengan mata berkaca. menepuk bahu dava.
"lo hati hati ya"
###
"jangan! aku mohon jangan! "
teriakan keyra yang sama sekali tak di dengar, tak digubris oleh semua orang yang berada di dalam ruangan kedap suara.
kemeja putih yang tadi keyra gunakan sudah sobek, dan terlempar jauh dari tubuhnya. warna kulit yang dulu nya tan itu kini terlihat lebih putih dan bersih. memang tak **** seperti devi, apalagi buah dadaa yang lebih mirip tutup gelas itu, sangat tak sebanding dengan devi. namun, kedua pria yang memang berperan sebagai lelaki nafsuan itu sudah menahan hasrat mereka sejak tadi.
terlebih melihat keyra yang memakai beha warna ungu dengan bentuk yang minim banget. ini beneran mirip sama beha yang jadi koleksi ***** tristan dan dava.
dua pria itu memegangi kedua tangan keyra yang mencoba menghalangi aksi mereka untuk mengerayangi tubuh. saling bertatapan, lalu menarik tubuh mungil keyra. mendudukkannya di atas meja, hingga keduanya bisa lebih leluasa memainkan apa saja yang mereka ingin.
air mata terus saja mengalir membasahi pipi, kali ini, penampilan keyra tak bisa dikatakan baik. terlebih dengan mata yang sembab dan riasan indah itu sudah hilang, luntur bersama ingus dan air mata.
"jangan sentuh aku! aku mohon, om... jangan sentuh... "
di bagian belakang keyra, seseorang berlari menghampiri mr. revan. membisikkan sesuatu tepat ditelinga.
__ADS_1
mendengar info dari salah satu anak buahnya, wajah mr. revan yang tadi tersenyum puas itu berubah. ia mulai berdiri, berjalan mendekati penyunting video itu.
"jangan sentuh aku om! aku mohon. " masih saja lirihan keyra itu menjadi nyanyian merdu bagi kedua p****************g itu.
sreet!
beha itu melayang. membuat dua gundukan kecil itu terlihat sangat jelas. sangat menarik, mini, kencang, kenyal, dan.... cukup menggoda.
keduanya kembali menarik ****** ***** keyra, lalu membuangnya sembarang. kini tak ada lagi yang menutupi tubuh mungil di depan keyra. membuka kedua kaki keyra, membuat selangkangann keyra terlihat sangat nyata.
braaakkk!!
pintu dibuka dengan paksa. semua yang ada di dalam ruangan menoleh. elvanno dengan tubuh yang sudah bisa dikatakan tidak baik baik saja, berdiri di tengah pintu. mengusap darah yang mengalir dari pelipis, menghalangi penglihatannya.
aliran darah kembali mendidih saat melihat dengan mata kepala sendiri. keyra yang ditelanjangi dan dihadapkan oleh dua orang pria. kedua tangan yang sebenarnya sudah sangat lemas itu mengepal dengan sisa tenaganya.
"izroil" lirih keyra berucap. tangisnya kembali tumpah deras. bahagia, karena akhirnya elvanno datang menjemput, tapi sangat sakit melihat keadaanya yang seperti sekarang ini.
mr. revan yang paham jika keadaan tak akan aman, segera berlari menuju pintu lain. tentu disusul oleh dua anak buahnya. sedangkan salah satu anak buah yang lain, mulai mengarahkan senapan ke arah elvanno yang berjalan mendekati keyra.
dor!
"IZROILL! "
"Arggh...! " elvanno memegangi bahu kiri.
cowok tampan itu jatuh bertumpu kedua lutut saat peluru mengenai bahu kirinya. darah mengucur membasahi kaos warna hitam dan hoddie.
"izroil! " teriak keyra dengan sangat kencang.
tangisnya makin menjadi melihat suami tertembak. pikiran buruk memenuhi kepala.
kembali asisten mr. revan mengarahkan pistol kearah jantung elvanno.
"jangan!.. aku mohon jangan, om!... izroil... hiks... hiks.... "
elvanno mengangkat kepala, menatap wajah keyra yang penuh air mata. bahkan kedua pria itu mencekal erat kedua tangan, tatapan penuh nafsunya membuat elvanno kembali emosi. dengan bertumpu pada kedua tangan, ia berusaha kembali bangun. berdiri tak tegap, bahkan hampir oleng.
"brengseeekk! " teriaknya.
dor!
"IZROIILL! "
__ADS_1
_**Happy Readingš_
Jangan lupa like and voteš¤**