Takdir Cinta Keyra

Takdir Cinta Keyra
Part 129


__ADS_3

"cepat ke rumah sakit" suara serak keyra membuat elvanno tak tenang.


"key, kamu kenapa? apa yang terjadi sama mama? kenapa kamu nangis? " brondongan pertanyaan itu menyita perhatian tristan. pria dengan rambut di kuncir itu berjalan mendekat, ikut menyimak apa yang dikatakan keyra diseberang sana.


"pokoknya kamu sama kak tristan, cepat kesini"


tut.. tut.. tut...


telpon nya terputus sepihak, membuat elvanno menatap kearah tristan yang juga bingung. cepat ia menyimpan ponsel di saku celana lagi.


"cepat, cuci tangan, kita ke rumah sakit sekarang" ucap tristan yang mendapat anggukan adiknya.


"bereskan semuanya. bakar mayatnya dan bersihkan tempat ini tanpa jejak! " perintah marina ke beberapa anak buahnya.


"siap bos! " empat lelaki itu menyanggupi dengan lantang.


satu jam lebih, elvanno dan tristan sampai di halaman rumah sakit. keduanya berlari cepat masuk ke karidor dengan perasaan khawatir dan penasaran yang luar biasa. hati keduanya semakin tak tentu kala melihat keyra yang menangis, duduk di kursi besi dengan tangan menggenggam ponsel.


pak abram berdiri, berkali kali menatap pintu dari kaca yang tertutup rapat.


"pa! " seru elvanno.

__ADS_1


mendengar suara suami, keyra mengangkat kepala. beranjak, berdiri menatap kearah dua lelaki yang berlari mendekat. tatapan elvanno dan tristan tertuju ke arah pintu yang masih tertutup.


"mama kenapa pa? " tanya tristan.


"key, apa yang terjadi sama mama? kenapa kamu nangis? " tanya elvanno, memegang kedua bahu keyra.


keyra tetap diam, begitu juga dengan papa yang memilih menunduk, lalu kembali menatap kearah pintu kaca yang masih tertutup rapat.


ceklek!


keempat orang yang berada dalam rasa khawatir yang sama itu, menatap kearah pintu kaca yang kini terbuka pelan. dokter lelaki dengan masker penutup mulut serta berkaca mata itu melangkah keluar. melepas sarung tangan, lalu membuka maskernya.


"apa yang terjadi sama mama saya dok? " tanya tristan tak sabar.


"maaf, kita sudah berusaha semaksimal mungkin. sudah melakukan pengobatan yang terbaik, tapi bu rika lebih disayang sama Tuhan. beliau meninggal tepat pukul tiga dini hari"


hening!


pukul tiga lebih beberapa menit, keadaan rumah sakit masih sepi. membuat mereka semua bisa dengan jelas mendengar kabar yang lebih mirip seperti bom meledak.


tanpa komando, air mata keyra menetes dengan begitu deras, sama halnya dengan papa yang kini menggeleng dengan menekan ujung mata. tristan ambruk, kedua lutut bertumpu di lantai. menunduk dengan isakan kecil, menjambak rambut kencang, melampiaskan rasa sakit yang kini menghimpit.

__ADS_1


elvanno dengan cepat berlari masuk kedalam ruang ICU, menabrak bahu dokter yang masih berdiri di depan pintu. menyingkirkan suster yang ingin menutup wajah rika dengan selimut warna biru muda itu. memeluk tubuh rika, menumpahkan tangis di dadaa wanita yang telah melahirkannya.


"mama... ma... hiks.... jangan tinggalin aku, ma. hiks... mama... aku butuh mama... ma.... " menarik nafas dalam, makin mengeratkan pelukan, berharap bisa mendengar detak jantung sang mama yang mungkin saja hanya terjeda sebentar. namun..... sepi. detak itu tak lagi ada, tak bisa ia dengar. air mata semakin deras, lengkap dengan dunia yang kini terasa mendung, berkabut. ini sangat menyakitkan.


"pliisss, ma... pliss... aku mohon bangun ma. aku sayang mama, aku butuh mama. aku belum bisa buat mama bahagia... mama.... "


keyra, pak abram dan tristan melangkah masuk kedalam. semua meneteskan air mata dengan rasa sakit yang sama. tristan memeluk papa, menumpahkan sesak yang sangat menghimpit dadaa.


"mama, pa... hiks... mama... aku nggak mau mama pergi... aku nggak bisa pa... hiks... " lirih tristan dengan memeluk papa.


pak abram tak bisa bicara apapun. dia hanya bisa menangis melihat ketiga anaknya terluka seperti ini. bahkan hatinya terasa lebih sakit dari mereka. satu tangannya terlentang, menatap keyra yang terisak sendiri, menyuruh gadis mungil itu untuk masuk ke dalam pelukannya.


"hiks, papa.... " keyra tak menolak, dia berhambur ke pelukan papa mertua. menumpahkan tangis disana, disamping tristan.


"kalian yang sabar" suara pak abram terdengar tertahan, ia menahan rasa sakit yang sama.


"papa tau ini berat, papa juga sama seperti kalian. papa juga nggak mau mama pergi" ia menarik nafas dalam, lalu membuangnya kasar melalui mulut.


melirik wajah istrinya yang pucat mayat, sama sekali tak ada aliran darah disana. dia merem, seperti tertidur. namun tidur yang begitu pulas, sangat pulas, dan tak akan pernah kembali bangun. mengeratkan pelukan pada kedua anaknya, mereka menangis, terisak, sama sekali tak peduli dengan suster yang menyaksikan semua ini.


-Happy Reading🄰-

__ADS_1


Jangan lupa like and votešŸ–¤


__ADS_2