
"jadi, vita sama wati udah ada sama marina? " tanya elvanno dengan wajah sedikit terkejut.
tristan ngangguk, membuang asap dari mulut dan hidung.
"ditempat yang sangat aman. siapa pun, nggak akan bisa nemuin mereka. "
"devi gimana kak? " tanya elvanno yang tak pernah tau kabar mantan pacarnya itu.
"dia aman ditempat gue"
"gimana sama tania? "
tristan mematikan rokok yang sisa sedikit itu ke asbak.
"menurut gue, dia nggak terlalu bermasalah. toh, dia nggak ikut terlibat dalam masalah ini. karena vita cuma rencanain ini sama devi dan wati, lalu garry" tutur tristan.
viko meneguk minuman kaleng yang sejak tadi ditangan.
"kapan kita aksinya? "
"nanti, satu jam lagi kita berangkat ke lokasi" menatap dava dan bryan.
"lo berdua jagain devi. tunggu kode dari gue, lalu beraksi"
"siap! " sahutan dari kedua cowok tengil itu.
"biarin dara sama keyra dirumah ini. ada anak buah marina yang berjaga disini. papa akan ada dirumah sakit nungguin mama" lanjut tristan.
__ADS_1
semua ngangguk, lalu berdiri. mengulurkan tangan kedepan dan tos ala mereka.
elvanno dan tristan naik dalam satu mobil, membuntuti salah satu anak buah marina yang akan membawa mereka menuju tempat penyekapan. menempuh perjalanan sekitar dua jam, sampailah mereka di pinggiran hutan. mobil berhenti sejenak karena ada portal yang menghalangi. si anak buah marina, berbicara sesuatu pada temannya yang memang ditugaskan menjaga gerbang. detik kemudian portal terbuka, motor kembali berjalan dan tristan mengikutinya.
masuk ke dalam hutan lebih kurang lima kilo meter, mulai terlihat bangunan yang mirip villa. bangunan yang terlihat sangat lawas, bahkan banyak rerumputan rambat yang memenuhi atap.
tristan dan elvanno membuka pintu mobil, lalu turun. mata mereka awas mengamati sekeliling. semua terlihat sepi tanpa ada seorang pun.
si lelaki itu melambaikan tangan, memberi isyarat agar mengikutinya. tristan dan elvanno bertatapan sebentar, lalu mengekor si lelaki.
gerbang terbuka, karena ada seseorang membukanya dari dalam. ada beberapa lelaki dihalaman villa itu. elvanno dan tristan tetap melangkah mengikuti si lelaki yang membawanya tadi.
membuka pintu depan, terlihatlah bagian dalam yang memang terlihat sangat kotor. marina berdiri di samping tangga. sedikit tersenyum, lalu menyuruh tristan mengikuti, naik keatas.
membuka pintu yang tepat berada di depan tangga. terlihat dua wanita dan satu pria yang diikat di kursi plastik. lengkap dengan mulut yang dilakban.
"bisa minta tolong, bukain mulutnya" tristan menunjuk wati.
seorang lelaki berjalan mendekati wati, lalu membuka lakban serta menarik sumpalan kain yang ada di dalam mulut.
"sialaan kamu, tristan! " umpat wati dengan nafas yang ngos ngosan.
tristan berjalan mendekat, menatap wati dengan tatapan tajam.
"dasar wanita iblis! "
wati tertawa kecil, lalu tersenyum smirk.
__ADS_1
"kenapa? mamamu sekarat kan? atau mendekati ajal? "
elvanno tambah mengeratkan kepalan tangan.
"bangsaad! " tangannya dicekal marina saat hendak melangkah maju.
"belum saatnya" ucap marina datar.
memilih kembali diam, menatap tristan yang melayani adu mulut dengan wati.
tristan membelai lembut rambut wati, tersenyum menyeringai, yang sayangnya itu menambah kadar ketampanan seorang tristan.
"jadi ini, yang lo maksud hadiah? karena gue tak mau tidur sama elo, tante wati? "
wati mencibirkan bibir atasnya.
"itu salahmu! karena berani menolak ku"
elvanno dan garry sama sama melotot memdengar percakapan tristan dan wati. sungguh, selama ini mereka tak mengetahui apapun tentang ini, terlebih garry yang benar benar nggak tau, kalo ternyata mamanya suka tidur sama lelaki lain selain papanya.
"elo tau kan? gue anak pemilik darel group. gue nggak butuh uang haram dari suami elo, yang lo gunain buat bayar tiap wortel yang masuk ke lubang busuk lo itu! bahkan papa gue yang lebih segalanya dari suami monyet lo itu? dasar jalaangg! " teriak tristan penuh kemarahan.
kini tatapan tristan terarah ke garry. cowok itu menatap mamanya dengan kecewa yang dalam.
-Happy Readingš„°-
jangan lupa like and voteš¤
__ADS_1